Realita Kota Besar

Kota besar yang indah dengan kemajuan teknologi dan gedung-gedung modern menjulang ke langit dengan kaca-kaca berkilau terpantul sinar matahari. Jalanan aspal yang dipadati mobil mewah di pagi, siang, dan sore hari. Kereta penuh sesak mengangkut orang berkemeja dengan jas tersampir di tangan atau terlipat rapih di dalam tas dengan sepatu berkilau hasil disemir.

Kesibukan tak henti melayani masyarakat luas, memajukan perusahaan, dan menambah isi dompet juga rekening untuk makan istri dan anak di rumah. Sebagian pekerja duduk di kursinya yang empuk sambil menghadap komputer yang dilakukannya seumur hidup sampai tibanya umur pensiun. Sebagian lagi datang ke tempat-tempat baru sebagai ‘orang lapangan’ demi mendapat data atau hanya sekedar inspirasi untuk melanjutkan pekerjaan. Yang muda bekerja lebih giat dan semangat untuk cepat mendapat promosi, sementara yang tua bekerja lebih giat dan semangat untuk mempertahankan ‘takhta’nya yang tinggi. Badan tegak, senyum hangat, dan salam sapa wajib dilakukan seperti topeng dalam pertunjukan teater.

Namun apa yang terjadi saat malam makin larut? Mereka yang lembur harus mengejar kereta terakhir malam itu demi pulang ke rumah yang berkilo-kilo meter jauhnya. Padahal besok harus kembali ke tempat yang sama itu, tempat kerja. Lelah sudah jadi sahabat karib bagi pelaku kegiatan di Kota Besar. Mereka yang ‘menghidupkan’ Kota Besar di siang hari harus kalah oleh stamina tubuh yang terbatas dan berakhir lemas di malam hari.

Bahkan yang terlihat mahal seperti emas dan yang terlihat berkilau seperti keduabelas birthstone (Garnet, Amethyst, Aquamarine, Diamond, Emerald, Alexandrite, Ruby, Peridot, Sapphire, Opal, Citrine, Tanzanite)akan tersembunyi tanpa adanya cahaya (matahari).
The photo was taken at 22:30 with Luna & Yana

Advertisements