The Untold Story of Keenan Pearce: Maaf dan Terima Kasih

“Orang selalu nganggep kesempatan mereka untuk minta maaf itu paling berharga, gue ngerasa itu sama pentingnya dengan berterima kasih. Berterima kasih bikin lo lebih respect sama orang lain, bikin lo lebih respect sama diri lo sendiri.” -Keenan Pearce

Sebenarnya gue sedang di tengah kertas-kertas, buku, serta tab yang banyak di google chrome berisi materi untuk ujian besok. Beberapa jam bermain dengan mereka tentu membuat gue letih, maka spotify gue jadikan pilihan untuk rehat sejenak. Gak disangka-sangka, jeda yang muncul akibat spotify gratisan membawa gue ke momen ingin menulis tentang apa yang gue alami beberapa hari lalu. Gak akan detail, hanya akan menyindir beberapa aspek dalam hidup gue sekarang.

Apa sih isi jeda spotifynya?

Iklan, mengenai project baru Axe (salah satu merek parfum cowok di Indonesia) yaitu sebuah mini web series yang dibintangi oleh Keenan Pearce, Chico Jerikho, dan Arifin Putra. Tiga pria tampan, siapa yang gak akan penasaran? Bukan gue tentunya.

Jari-jari gue membantu untuk memenuhi rasa penasaran ini. Video pertama yang gue temukan adalah video yang di atas itu. Selama nonton, gue cuma hanya diam, memaknai setiap kata yang keluar dari speaker laptop. Lalu saat video habis, gue hanya mampu bergumam: “Wow, that’s deep.”

Mengenai ‘terima kasih’. Waktu SMA, gue selalu berusaha untuk mengucapkan kata ‘terima kasih’ dengan sungguh-sungguh. Berawal dari teman gue yang menjadi ketua pelaksana lomba basket dan gue bekerja di bawah komandonya. Setiap selesai rapat, setelah menjalankan tugas darinya, setelah hari kompetisi berakhir dan kami selesai menyiapkan untuk keeseokan harinya, teman gue itu selalu menghampiri satu-satu stafnya hanya untuk mengucapkan “Terima kasih.” sambil menyalami tangan dan menyelami mata kami. Pada momen itu, gue sangat merasa dihargai.

Sejak saat itu pula, gue menyadari bagaimana dua kata tersebut mempunyai efek yang besar pada psikologi seseorang. Tentu, gue jadi sangat respect sama temen gue itu.

Continue reading “The Untold Story of Keenan Pearce: Maaf dan Terima Kasih”

Advertisements

The Art of Accepting

“Without accepting the fact that everything changes, we cannot find perfect composure. But unfortunately, although it is true, it is difficult for us to accept it. Because we cannot accept the truth of transience, we suffer.” – Shunryu Suzuki

No, I’m good.

It’s all done.

I’m done.