Cockroach Theory

Simpulannya adalah segala ketidaknyamanan yang kita rasakan, yang membuat kita beraksi ‘berlebihan’, semata-mata karena ketidakmampuan kita dalam menangani gangguan dari pihak eksternal. Maka daripada bereaksi, kita lebih harus merespon. Karena reaksi bersifat naluri, sementara respon bersifat sesuatu yang telah dipikirkan dengan baik. The only thing that you can blame is yourself.

Quote ini bisa menjawab kegelisahanku minggu lalu:

“A person is happy not because everything is right in his life. He is happy because his attitude towards everything in his life is right.”

Advertisements

Kodaline – Moving On

I can accept we’re growing older, but I guess that’s just the way it has to be
I wondered how you still remembered me
Sometime in the future, maybe we can get together
Maybe share a drink and talk awhile
And reminisce about the days when we were still together
Maybe someday further down the line
And I will meet you there
Sometime in the future we can share our stories
When we won’t care about all of our mistakes, our failures, and our glories
But until that day comes along I’ll keep on moving on. I’ll keep on moving on

Definisi Bahagia

Jawablah dua pertanyaan di bawah ini!

1. Apa definisi bahagia menurutmu?

Terhindar dari rasa tertekan yang bikin deg-degan sehingga membuatku ingin menangis dan menghilang, berkumpul dengan mereka yang dapat memberi senyuman disaat terjepit, sebuah pisang atau secangkir hazelnut latte, jalan-jalan ke tempat baru atau tempat biasa dengan cara baru, apapun.

Seperti klorofil yang diciptakan sendiri, namun bergantung pada ketersediaan sinar matahari + air + karbondioksida (cuma manusia butuhnya oksigen). Internal dan eksternalnya harus balance sih.

2. Bagaimana kamu mewujudkannya?

Menyelesaikan tanggung jawab dan bersabar, dengan berbagi rasa senasib sepenanggungan mereka yang juga mencari kebahagiaan dan ketenangan. Semangat ya, akan selalu ada bahu untuk menumpahkan keluh kesahmu kok.

Ada yang Lebih Sakit, dari Patah Hati

Aku memelukmu erat di sela air mata. Maaf, aku membasahi jaket abu-abu kesayanganmu dengan air mata tak terbendung ini. Tangisku pecah tanpa bisa ditahan. Kamu memelukku balik penuh pengertian, sambil menenangkan, “Iya, aku tahu semua kok. Sudah, sudah.” Aku membeberkan semuanya, semua rasa yang terpendam. Aku bersiap untuk pergi, merelakanmu untuknya. Dengan caraku sendiri.

Dengan memberitahumu semuanya. Iya, itu caraku. Meninggalkan semua rasa yang telah lelah aku panggul seorang diri. Semua cinta dan sakit karena tidak bisa memiliki itu, aku lepas ke udara. Bersama air mata yang bersemayam di pundakmu, di dadamu. Lalu pada satu momen, kamu hanya bisa menenangkan diriku dengan mengeratkan pelukanmu, tanpa kata-kata. Tiba-tiba aku tahu kamu pergi, entah Continue reading “Ada yang Lebih Sakit, dari Patah Hati”

Tolong Jaga Tatapanmu, Aku Takut Terbang

Tatapan tajammu membidik mataku lurus

Langit telah gelap, namun wajahmu masih jelas terlihat akibat lampu jalan.

Tatapan yang mampu membuat siapapun merasa khusus

Dari jarak yang cukup jauh, melewati sekumpulan orang, kamu menembus keramaian.

Orang bilang sih, itu tatapan serius

Sesekali aku berusaha fokus pada orang di depanku, sesekali melirik jauh ke arahmu, kamu memberi balasan.

Tapi aku mengenalmu sebagai orang yang tulus

Tapi karena itu aku jadi agak sungkan.

Emm… Maksudku, tulus dalam hal modus

Karena tahu, kamu melakukan itu pada semua orang, pada semua teman.

 

Iya, kamu ahlinya.

Done

The second challenge from Teater Mencari Jalan has accomplished. Actually, I made a video before the deadline. But, I didn’t feel right about the content. So, I deleted it then made a new one at the secretariat of KPM in the middle of preparing today’s Protocol Visit 2016. This video made its boom in just a minute since I uploaded it. I made a lot of my followers wondering what has happened to me, but some of them support my jokes.

Antara Tenda dan Pohon Pinus

Berkumpul di kosan Boy, Pondok Macho, Jalan Sayang, sebelah apotek, seberang Moro Seneng. Berangkat pukul setengah enam sore, naik angkot sewaan, diiringi mereka yang naik motor.

Jalanan macet sore itu. Salah satu institusi pendidikan pemerintah sedang ada acara besar, katanya. Libur panjang menjelang hari raya potong kambing sedang di titik puncak, rupanya. Berada di tengah antrean kendaraan yang semrawut, berebut keluar jalan utama untuk mengarah ke jalan kecil menanjak, ke rute utama. Aku yang duduk di paling pinggir, memilih tidur daripada menjadi saksi kepulan asap hitam dengan ganas menebar bau dan kimia berbahaya kepada pengguna jalan.

“Toko, toko apa yang menguasai Indonesia?” “Toko yang menguasai Indoneisa… Tokowi.”

Continue reading “Antara Tenda dan Pohon Pinus”

Teater Lagi

Pertemuan Teater Mencari Jalan pertamaku, bertemu orang-orang baru, membahas konten baru, mempunyai visi baru, di lingkungan baru. Di bawah naungan sore yang cerah, tantangan baru dimulai. Dibuka dengan latihan pernapasan dan suara, dilanjutkan eye contact dan ekspresi, terakhir ditutup dengan memutuskan urat malu. Peranku adalah perempuan yang matre dan alergi barang jelek. Maaf bagi yang jadi korban kata-kata pedasku, cuma akting kok.

Berjalan melewati dan menghampiri orang asing, menghardik cara berpakaiannya, lalu pergi. Jahat, kan? Entah termaafkan atau tidak, semoga para korbanku baik-baik saja. Beberapa ada yang langsung ketakutan saat aku hampiri, beberapa ada yang merespon, beberapa ada yang tidak peduli. Belum cukup tantangan hari ini, aku dapat tantangan baru yang harus dilakukan di media sosial. Siapa takut!

Ternyata Bisa Sesederhana Menunggu dan Melihat

Jam di smartphone menunjukkan pukul 22.30 saat satu notifikasi chat muncul. Dari Khalid, “aku masih di Pendawa,” katanya. Aku yang tidak ingin menghabiskan waktu sendiri selagi pulang memutuskan untuk menyusulnya. “Aku masih lama, kayanya,” katanya. Aku bersikeras untuk menghampiri.

Begitu sampai, aku lihat ia sendirian di pelataran masjid kecil. Saat kutanya sedang apa, ia bercerita.

Aku lagi nunggu Niya, nanti dia mau tampil drama … Jam 11 tampilnya … Bukan kok, ini acara kompleks sini. Acara penutupan 17an gitu … Aku bilangnya mau balikin chargeran, sama ngasih ini … Tuh Niya, di atas jembatan … Udah sana pulang aja … Iya nih aku chat mama, ngasih tau kalo kakak di sini.

Dia yang tadi di atas jembatan, mendekat. Akhirnya aku melihat langsung dia yang sering muncul di notifikasi Continue reading “Ternyata Bisa Sesederhana Menunggu dan Melihat”