Ada yang Lebih Sakit, dari Patah Hati

Aku memelukmu erat di sela air mata. Maaf, aku membasahi jaket abu-abu kesayanganmu dengan air mata tak terbendung ini. Tangisku pecah tanpa bisa ditahan. Kamu memelukku balik penuh pengertian, sambil menenangkan, “Iya, aku tahu semua kok. Sudah, sudah.” Aku membeberkan semuanya, semua rasa yang terpendam. Aku bersiap untuk pergi, merelakanmu untuknya. Dengan caraku sendiri.

Dengan memberitahumu semuanya. Iya, itu caraku. Meninggalkan semua rasa yang telah lelah aku panggul seorang diri. Semua cinta dan sakit karena tidak bisa memiliki itu, aku lepas ke udara. Bersama air mata yang bersemayam di pundakmu, di dadamu. Lalu pada satu momen, kamu hanya bisa menenangkan diriku dengan mengeratkan pelukanmu, tanpa kata-kata. Tiba-tiba aku tahu kamu pergi, entah kemana. Aku menangis sendiri. Berjalan ke ujung persimpangan jalan, duduk di bangku plastik biru, terlelap.

Saat terbangun, hatiku sakit karena menyadari kamu tidak ada. Namun, lega karena kamu telah mengetahui semuanya. Lega karena kamu telah menemaniku melepaskan semua rasa yang telah bercokol bertahun-tahun. Sebagian diriku mengatakan bahwa tadi kamu benar-benar ada, sebagian lagi mengatakan bahwa tadi hanya mimpi. Tapi aku tidak bodoh, aku merasakan keberadaanmu dengan nyata. Kamu, nyata. Keyakinan ini membuatku bisa sedikit tersenyum walau masih merasakan sakit akibat ketidakberadaanmu. Aku berjalan sambil berjuang untuk menyeimbangkan diri, agar tidak jatuh dilihat oleh orang. Lalu, terdengar salah satu lagu Andre Harihandoyo and Sonic People

“My baby left me, my baby left me.

I want to love again,

I want to kiss again,

I want to love again,

with you, with you…”

Aku terbangun di atas tempat tidurku, di kamar 1165, di Jatinangor. Oh, lagu dari Spotify. Aku duduk melihat kota yang kabur terhalang gorden putih. Cuma mimpi, ya. Seketika rasa sakit menusuk-nusuk hatiku. Menyadari bahwa pelepasan rasa itu hanya mimpi. Pelukan eratmu hanya mimpi. Mimpi akan sakit hati yang manis.

Mimpinya… Manis.

Saat terbangun… Bisakah aku kembali? Ini sakit sekali. Lebih sakit daripada saat kamu menceritakan penggantiku dari kapan tau itu. Aku serius bukan main, aku kaget. Ternyata ada rasa yang lebih sakit dari patah hati. Aku langsung menghampiri jendela untuk merasakan suasana sendu di luar.

Pukul tujuh lewat, tidak ada matahari. Hanya sekumpulan awan putih tebal menaungi kota. Sempat aku bertanya-tanya, pernah bermimpikah ia tentangku?

Menyadari proses menghilangkan rasa itu hanya mimpi, menyadari beban yang dikira telah hilang ternyata masih pada tempatnya hanya agak terlupa sejenak karena keadaan, menyadari bahwa yang menjadi pengingat justru karena mimpi ini, menyadari aku masih di sini dan ternyata kamu ke tempat lama kita, rasanya… Sakit sekali. Ditambah pening akibat baru tidur dua jam,

aku harus apa?

Rasanya sakit.

Advertisements

One Reply to “Ada yang Lebih Sakit, dari Patah Hati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s