Pulang (10)

Kamu bukan lagi alasanku untuk pulang. Aku pulang karena satu tujuan: berdamai dengan masa lalu.

Advertisements

Setiap Orang Itu Berbeda

-Kritik terhadap mereka yang secara implisit tidak menghargai hak orang lain.
Hak untuk tidak memprioritaskan apa yang orang lain prioritaskan.  Hak untuk memilih jalannya sendiri.-

Kalimat “Gue aja bisa, masa lo enggak.” atau “Dia aja bisa, masa lo enggak.” udah biasa didengar dari orang-orang sekitar. Bisa dari keluarga, pertemanan, kekasih, dan lainnya. Orang-orang dalam satu lingkungan yang sama, bekerja dalam kegiatan yang sama, atau membandingkan dengan orang-orang yang memiliki pencapaiaan prestasi tertentu. Tapi, gak begitu cara mainnya. Karena setiap orang itu berbeda.

Continue reading “Setiap Orang Itu Berbeda”

Pulang (9)

Coba utarakan saja sekarang, tak usah ditunda sampai aku pulang. Bukannya akan sama saja efeknya padamu? Yah walaupun akan berbeda untukku. Paling tidak aku tahu, bahwa langkahku melewati boarding gate nanti akan sia-sia.

Namanya Malam

Semilir angin menyusup dari bawah pintu, bukan sejuk namun gigil yang dirasa.
Tanda kota semakin larut, bukan waktu yang tepat untuk tetap terjaga.
Jangan maruk, waktu akan datang membangunkanmu pada saatnya.

Sabar, tubuhmu punya porsinya.

Understood, Capt!

Seekor rusa berjalan santai di tengah hutan, mengawali film. Beberapa menit kemudian terlihat seorang berwajah hitam  karena lumpur mengintip dari balik semak, mengintai. Dengan kelihaiannya, si Rusa ditangkap, dibeset lehernya hingga darah habis, diseret ke sungai untuk dibersihkan. Orang berwajah hitam lain datang dari segala sisi, menyaksikan orang yang menerjang rusa tadi diresmikan kedewasaannya oleh si tetua, dengan darah rusa yang dioleskan ke T-Zone dan disuruh memakan entah jantung atau hati.

“Yana, itu Captain Fantasticnya?” tanyaku, kepada yang memberikan rekomendasi, selagi si tertua membersihkan wajah, “Iya.” kata Yana meyakinkan. “Ini film tentang apa yan?” aku semakin penasaran. “Lu mah maunya dispoilerin. Ini tentang keluarga yang tinggal di hutan, nyari makan dari alam, belajar bertahan hidup,” gerutunya. “Mereka ke kota gak? Bajunya bikin apa beli apa gimana?” cecarku. “Engga. Bajunya bikin sendiri kali. Eh gak tau, gak dijelasin. Udah nonton aja deh.” tetap berusaha menjelaskan. “Oke.” kataku mencoba menikmati film.

 Dari film ini, aku memaknai beberapa hal:

Continue reading “Understood, Capt!”

Pulang (7)

A: Kalau tidak ada kamu, kemana lagi aku harus kembali saat dunia begitu melelahkan?

B: Bagaimana kalau kamu tidak perlu kembali? Bagaimana jika aku dan kamu bersisian untuk merasakan kelelahan dunia bersama?

A: Hmm… Ide yang bagus.

Pulang (6)

Satu-satunya yang paling aku rindukan dari rumah, adalah masakanmu, untuk memulai pagiku yang lambat di hari libur. Bergelung di siang yang mendung, mendengarkan lagu-lagu lama sore harinya, memandang malam bercahaya di taman belakang yang basah karena gerimis, aku anggap sebagai bonus.

Weekend

There comes the weekend.
When people pack their clothes, gather their money, buy a ticket, leave their responsibilities for a while, put their jacket on, to go for a vacation.
But for me, I pack my clothes, gather my money, buy a ticket, leave my responsibilities for a while, put my jacket on, to go home.

Because distance makes me sick.
Because I miss home.
Because it’s too cold to leave my jacket behind.