Understood, Capt!

Seekor rusa berjalan santai di tengah hutan, mengawali film. Beberapa menit kemudian terlihat seorang berwajah hitam  karena lumpur mengintip dari balik semak, mengintai. Dengan kelihaiannya, si Rusa ditangkap, dibeset lehernya hingga darah habis, diseret ke sungai untuk dibersihkan. Orang berwajah hitam lain datang dari segala sisi, menyaksikan orang yang menerjang rusa tadi diresmikan kedewasaannya oleh si tetua, dengan darah rusa yang dioleskan ke T-Zone dan disuruh memakan entah jantung atau hati.

“Yana, itu Captain Fantasticnya?” tanyaku, kepada yang memberikan rekomendasi, selagi si tertua membersihkan wajah, “Iya.” kata Yana meyakinkan. “Ini film tentang apa yan?” aku semakin penasaran. “Lu mah maunya dispoilerin. Ini tentang keluarga yang tinggal di hutan, nyari makan dari alam, belajar bertahan hidup,” gerutunya. “Mereka ke kota gak? Bajunya bikin apa beli apa gimana?” cecarku. “Engga. Bajunya bikin sendiri kali. Eh gak tau, gak dijelasin. Udah nonton aja deh.” tetap berusaha menjelaskan. “Oke.” kataku mencoba menikmati film.

 Dari film ini, aku memaknai beberapa hal:

  • Kenikmatan makan bukan sebatas rasa, tapi juga kepuasan membuat makanan sendiri. Tercermin dari scene saat rusa yang baru ditangkap, mereka kuliti sendiri, potong-potong sendiri, masak, meracik bumbu, menyalakan api, dan makan bersama.
  • Keteraturan adalah hal utama. Hidup boleh di hutan, tapi teratur menata dapur, mengairi tanaman  hingga dibuat jadwal, mengambil air, pekarangan yang rapih, rumah yang nyaman,  bahkan tempat main yang yang tertata.
  • Belajar dengan teratur, baca, pahami, mencoba yang dipelajari sebisamu. Tapi jangan memaksa, cari hiburan. Tercermin pada scene Zaja belajar menguliti tikus karena ia belum cukup besar untuk membantu kakak-kakaknya menguliti rusa. Lalu pada scene malam saat mereka membaca buku bersama mengelilingi api unggun. Ben mencatat satu-satu halaman yang anak-anaknya baca. Berarti mereka telah melakukan itu dengan teratur. Namun saat melihat kebosanan pada kegiatan itu, ia menyudahinya dan mulai bersenang-senang dengan bermain musik bersama.
  • Berlatih agar terbiasa. Tercermin dari segala scene mengenai latihan fisik mereka.
  • Bacalah hal-hal berguna. Tercermin dari scene Bodevan yang mengambil beberapa majalah dari kota. Lihat apa yang ia baca.
  • “Nothing is going to change. We’ll go on living in exactly the same way. We’re a family.” Karena yang hidup masih harus berjuang dengan kehidupannya, yang meninggal punya dunianya sendiri, entah bagaimana bentuknya.
  • Makan, adalah cara mahluk hidup untuk hidup. Berpakaian, adalah cara manusia untuk memanusiakan dirinya. Maka makanlah seperti manusia. “Clothes on when we eat, please.”
  • Patuh pada orang tua. Bahkan saat kita pikir kita bisa mengatasinya. Karena mereka lebih tahu apa yang ada di luar sana, apa masalah yang sedang dan mungkin akan dihadapi. Karena mereka biasanya tidak benar-benar melarang, hanya mencari waktu yang tepat. Tercermin saat anak-anak sudah rapih untuk ke kota, namun dilarang oleh Ben.
  • Berusaha, walau keadaan seperti tidak membantu. “We have to do what we’re told. Some fight, you can’t win. The powerful control the lives of the powerless. That’s the way the world works. It’s unjust and it’s unfair. But that’s just too damn bad. We have to shut up and accept it. Well, fuck that.”
  • Be specific. “It’s interesting.” “Interesting is a non-word. Give us your analysis.”
  • Kita tahu mana yang benar dan yang salah, tapi tidak boleh serta-merta menghakimi. Poin ini tercermin dari kalimat “You can think that. But we don’t make fun of people.”
  • Stay Calm, and Remember Your Training. There’s always an unexpected test.
  • “No foreign language, at least the language is spoken by all.” 
  • “You would prefer to celebrate a magical fictitious elf instead of a living humanitarian who’s done so much to promote human rights and understanding?”  Aku orang yang beragama dan menghormati agama lain. Mungkin yang menarik adalah bagaimana kita juga sebaiknya menghargai jasa orang lain yang telah memperjuangkan segala hal atas kenikmatan yang kita rasakan sekarang.
  • Jadilah orang yang terbuka. Tecermin saat Ben membujuk Rellian untuk mengemukakan pendapatnya. “Take the opportunity to make your case. We’re all open to hearing your arguments. And if they’re valid and you persuade us, I’m sure we’d all be willing to change our minds.”
  • Kids may need time to grow, but it’s not right to lie in front of them. “I tell the truth to my kids. I don’t lie to my kids.”
  • Whatever happens, apologize to have a good relationship with your family. Tercermin saat Ben berbeda pendapat dengan Harper, adiknya.
  • Sekolah, kegiatan, jabatan adalah formalitas, label. Hal terpenting adalah bagaimana kita memahami apa yang kita dapat. Tercermin dari scene saat Ben membandingkan pengetahuan kedua anak Harper yang bersekolah di sekolah biasa dengan Zaja yang berumur 8 tahun, belajar dengan cara  yang diajari ayah ibunya di rumah, tentang Bill of Rights.
  • Mengikuti perkembangan itu penting. Jangan sampai seperti Bodevan, yang tidak mengerti topik obrolan Claire padahal itu sangat umum.
  • Istilah darah lebih kental daripada air, hampir selalu berlaku, salah satunya antara anak-anak Leslie dan orang tuanya. Tercermin dalam scene pertemuan mereka untuk pertama kalinya. Kekesalan yang dirasa Jack pada Ben, langsung luntur saat melihat keenam cucunya.
  • Berpikirlah jernih. Turuti nafsu dalam kemarahan atau memikirkan hal yang lebih penting. Ben sadar bahwa anak-anaknya mengkhawatirkan kebersamaan mereka saat mereka membujuknya untuk tidak melakukan hal bodoh. Mission Paused: Rescuing Mom.
  • Pikirkan apa yang terbaik, jadi keras kepala tidak akan membawamu kemana-mana. Tercermin saat Ben merelakan anak-anaknya tinggal di rumah Jack, setelah Jack menawarkan kehidupan yang lebih aman dan nyaman untuk para cucunya.
  • Kalau keliru, akui. Jangan sok benar.  Tercermin saat Ben memberi pengertian bahwa anak-anaknya terlalu berbahaya bila harus tinggal dengannya, mereka juga harus melihat dunia. Ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah. “It’s a beautiful mistake. But a mistake.”

Mungkin poin-poin ini belum semua, mungkin hanya bisa menarik pelajaran, mungkin belum tentu bisa mengaplikasikannya. Tapi aku membuat catatan untuk diri sendiri, bahwa ada hal-hal sepele yang sering kali terlewat, padahal sangat berpengaruh dalam bagaimana kita memaknai diri, aksi, dan lingkungan.

full-1260

“If you assume that there is no hope, you guarantee that there will be no hope. If you assume that there is an instinct for freedom, that there are opportunities to change things, then there is a possibility that you can contribute to making a better world.”

-Noam Chomsky

pic source

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s