Pulang (20)

Menunggu kejelasanmu hanya membuang waktuku di sini. Keinginan manja yang sebenarnya bisa kamu penuhi sendiri, membuatku semakin rumit. Aku tawarkan solusi. Bagaimana kalau kamu mencari orang yang punya banyak waktu untuk meladenimu, sementara aku kembali dan melakukan hal-hal yang harus aku lakukan. Hal pertama dari serentetan hal tersebut adalah pulang. Karena mereka yang di sana, lebih membutuhkan keberadaanku.

Advertisements

Pulang (19)

Ketidakmampuanku dalam membayangkan  perjalanan pulang semakin membuat sedih. Melakukan segala cara untuk tidak memikirkan rumah, kadang terasa lebih berat dari hidup di sini.

Masih banyak yang harus diselesaikan, tidak bisa ditinggal. Kata ibu, jadilah manusia yang bertanggung jawab. Ternyata, kalimat tersebut tidak semudah yang diucapkan.

Pulang (18)

Dalam bahasa Inggris, kata ‘rumah’ punya dua kata dengan makna yang berbeda. Ada ‘house’, ada ‘home’.

Sekarang pertanyaannya: bagimu, aku yang mana?

Pulang (16)

Aku akan pulang besok. Enam tujuh delapan bahkan sepuluh jam perjalanan daratpun akan aku jalani dengan tegar. Sebenarnya, Tegar adalah nama tengahku. Gipionni Tegar Adityakusuma, kenalkan. Gi, panggilnya. Karena untukku, lelah hanyalah masalah fisik. Tapi sampai ke rumah, merupakan hal yang tidak bisa dibayar oleh apapun. Karena di sanalah kenangan masa lalu, harapan masa depan, orang terkasih yg telah ditakdirkan bersama, dan harum kenyamanan, berbaur menciptakan hal tak bernama dan tak berdefinisi.

Penasaran?

Pergi jauhlah lalu kembali. Ketuk pintu rumahmu dan rasakan sensasi magisnya.

pic source

Pulang (13)

Pulang ke rumah atau kembali ke kostan? Kembali ke rumah atau pulang ke kostan?
Saat pulang, harusnya aku tak perlu memikirkan apa yang harus aku lakukan di hari esok, untuk diriku sendiri.
Saat pulang, seharusnya menjadi tempat terakhir, tanpa harus merapihkan tas dan bersiap untuk pergi lagi.
Tetap bagiku pulang itu ke rumah.
Semoga secepatnya, aku bisa pulang.

-Genesa Hosyiana Sahari
https://www.instagram.com/genesahsyn/

Prioritas

Tidak usah risau, tidak usah galau. Tidak perlu tarik urat leher maupun meninggikan suara. Tidak perlu mengeluarkan kata-kata pedas ataupun menginjak caps lock. 

Kalau tidak di-iya-kan, berarti di-tidak-kan. Kalau tidak digubris, berarti tidak dibalas. Kalau tidak dibaca, berarti tidak dibuka.

Itu logika sederhana, masa harus diangkat lagi. Katanya pintar, tapi begitu saja tidak mengerti. Bila seperti itu, tandanya kamu, kegiatanmu, dan duniamu, bukan prioritasnya juga bukan prioritasku. Sesederhana itu.

Pulang (12)

Pulang bagiku adalah kembali ke pelukan Ibu; karena dimanapun dia berada aku selalu merasa di rumah.

Siap-siap ya untuk kamu yang akan mengisi hari-hariku;
kelak aku pun akan menjadikan dekapmu sebagai rumahku.
Untuk pulang melepas rindu.

– Fransisca Anjani

fransiscaanjani.tumblr.com