Dari Jendela Aku Melihat Punggungmu yang Semakin Jauh.

Ini semua tentang rasa. Rasa yang tertahan, rasa yang dengan bodohnya tetap berdiri dan tidak bergerak. Ia mematung bagai prasasti. Mati tak teridentifikasi. Mati… Atau dianggap mati?

Pergolakan masa lalu yang tiba-tiba datang menghampiri, mengetuk, mengganggu. Kalau begini ceritanya, tidak usah merasa saja sekalian.

“Lebih baik tidak usah bertemu daripada saya harus memilih.”

“Ketidakhadiran dan kesempatan yang tidak memihak.”

“Kenyataan memang plin-plan, mengutuk atas kebodohan refleks diri.”

“Maaf.”

Pernyataan tegasmu, terima kasih aku hargai.
Biarlah aku yang merasa,
Perasaan ini urusanku. Biarkan aku yang mengatasinya.
Biarkan saya berdamai.

Sementara kamu, urusi saja urusanmu.

__________

Inspired by: baru nonton Ada Apa Dengan Cinta 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s