Semata

Beautiful writing to illustrate the awkwardness between he & she. Say no more, it breaks me.

pic source

linimasa

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret…

View original post 530 more words

Advertisements

Suaramu Lewat Telepon

Suara itu berubah seiring waktu,

semakin berat dari terakhir kali suara kita bertemu,

yang dirasa memang tidak sekuat dulu,

namun masih terjaga dari masa lalu.

__________

Inspired by: percakapan singkat tentang kerjaan, bukan perasaan, lewat telepon (yang sekarang banyak gratisnya, gak lagi harus bayar sembilan ratus ribu rupiah per bulan).

Persuaan Para Nenek

Menemani ninik bertemu teman mainnya masa muda,

untuk menertawai dan mensyukuri masa tua,

walau setahun belum tentu satu kali,

paling tidak masih saling memiliki.

__________

Inspired by: silaturahim Idul Fitri (spesial hari pertama) terakhir di rumah Sentiong sebelum dipugar dan dibangun kembali sebagai kos-kosan, oleh pemilik barunya. Setelah hampir lima puluh tahun dimiliki, akhirnya harus dilepas untuk yang lain. 

Lol, it was funny how we tried to quip covertly at each other but stay cool afterward.

– Between a super delicious-giant-portion dinner, etc.

Butuh Kreatifitas Agar Pertemuan Terjadi

Seorang teman bilang kalau itu hanya bisa-bisaan pribadi saja. Memang benar.

Aku lihat keadaanmu, aku analisis sisiku dalam kegiatanmu. Lalu aku jadikan kamu sebagai bagian dari kegiatanku, sebagai alasan agar pertemuan terjadi, untuk memberimu tempat kecil dalam kehidupanku, agar komunikasi terasa hidup. Untuk itu, aku harus memutar otak, menjadi kreatif, menciptakan simbiosis mutualisme, meskipun sebenarnya lebih cocok disebut simbiosis komensalisme. Karena (sepertinya) hanya aku yang merasa. Orang sepertimu hanya terlalu baik, itu saja.

Lihat? Bahkan aku tidak lagi ada keberanian untuk berharap,

seperti yang lalu-lalu.

Pengalaman mengajariku banyak hal,
membuatku berhati-hati dalam bersikap,
terlebih urusan hati.
Apalagi padamu.
Hah.

Semua hanya…

Untuk membuatmu tetap ingat padaku,
walau hanya satu hari dalam satu tahun.
Karena aku bukan apa-apa,
bukan siapa-siapa.
Hanya seseorang yang masih mengingat,
masih menjaga,
masih bercerita,
tentang kebodohan(ku) dan
harapan(mu) yang pernah ada.

Janggal

suasana pukul setengah sepuluh pagi
hari ini
berbeda
sangat

bumi seperti disinari cahaya putih yang menyegarkan
menyapu kantuk dengan pesona langit
mempertahankan kesadaran untuk dapat lebih lama
melihat indahnya hari ini

sinar matahari siang tidak biasa
alih-alih menyengat
panasnya justru bersahabat
membungkus diri dengan kehangatan

mengusir dingin yang sedari malam bergumul
menyusuri kepala hingga kaki hingga kepala lagi
akibat kelakuanku
akibat tidak tidurku

siang aku paksakan untuk terpejam
demi mengisi ulang tenaga untuk perang
melawan sirkadian menjalani tugas
demi selesainya semua tugas

pukul tiga sore terlihat aneh
kehangatan siang berubah menjadi sengatan panas
mendekat saja aku tidak mampu
apalagi membayangkan berdiri di bawahnya

semoga sore lebih bersahabat
agar antara aku dan kamu lebih dekat
aku dan suasana
aku dan keramaian