Minggu Bersama Ia, Orang Itu, dan Dua Sejoli

Pagi itu, bangun pagi merupakan kegiatan yang menyenangkan untuknya. Menyambut hari dimana ia akan melakukan hal lain bersama orang itu. Menorehkan kenangan lain bersama orang itu. Membantu orang itu mengerjakan pekerjaannya yang (biasanya) melelahkan. Menjadi satu atau dua alasan pekerjaan tersebut berjalan dengan baik. Ia tidak berharap lebih. Nyatanya, ia mendapatkan lebih.

Mungkin memang begitu cara mainnya. Saat tidak ada harapan, hal baik terjadi. Tapi, harapan mengarahkan kita kepada hal baik. Atau, cara main sesungguhnya hanya semesta yang mengetahui. Ia bertemu orang baru, para rekan–dua sejoli yang datang untuk membantu orang itu. Berkenalan, berbincang, mengetahui bagaimana cara orang lain memandang dunia, merupakan ke-lebih-an yang ia rasakan.

Ia menunggu di suatu titik kesepakatan. Dari kejauhan, orang itu datang. Wajahnya memang tidak terlalu jelas akibat pantulan cahaya pada kaca. Namun siluetnya dan plat yang ia kenal, membuatnya menyunggingkan senyum hingga deretan gigi mengintip. Ia masuk ke sisi penumpang, disamping orang itu. Ia dan orang itu mulai bertukar cerita satu sama lain. Menerabas lengangnya jalanan pagi itu. Tidak ada lagi gendang bertalu-talu di dalam dadanya. “Oh mungkin memang sudah selesai,” pikirnya. Namun yang lain menyanggah. “Inilah bagian yang kamu sisakan untuknya, agar tidak sulit membangkitkan rasa jika kemungkinan yang diharapkan terjadi. Kamu ingat kan pernah berkata untuk tidak menghapus seluruh rasamu?” 

Mencapai tempat tujuan di daerah Ciomas, Ia bertemu dengan dua sejoli dan mulai membantu. Menyiapkan apa yang butuh disiapkan, membereskan apa yang butuh dibereskan. Sambil menikmati apapun yang bisa ia lakukan, ia menatap jauh kepada orang itu. Memandang orang itu, yang sedang bertukar ide dengan dua sejoli. Membidik pula sasarannya yang diproses menjadi jutaan gambar bergerak. Mengarahkan Para Pemain untuk melakukan apa yang orang itu inginkan. Rasanya ia belum puas. Jika jauh hanya menatap seadanya, jika dekat hanya bisa mencuri pada lirikan.

Berpindah ke tempat selanjutnya ke Bogor kota. Orang itu memintanya untuk ‘lebih’ membantu. Ia melakukan apapun agar pekerjaan hari itu berjalan lancar. Ia berjalan bersama orang itu mencari spot untuk footage yang menarik. Ia membantu salah satu dari dua sejoli untuk menyiapkan scene selanjutnya. Setelah selesai, ia menyusul orang itu ke tempat yang mereka harus kunjungi demi kepentingan pengambilan gambar.

Berpindah ke tempat selanjutnya, saat tamu reguler datang membawa gerombolan rintik yang menyelimuti taman. Menembus kain dan menghalang pandangan. Padahal sebenarnya belum selesai. Orang itu akhirnya membuat penutup darurat dari ide yang bisa ia manfaatkan. Kami semua berteduh di salah satu gedung dekat situ. Menghindari tamu yang sedang menari di bawah jutaan butir air di udara, yang menghujam tiba-tiba.

Berpindah untuk kembali, begitu katanya. Ia, orang itu, serta dua sejoli membahas segala hal. Menertawai yang dimengerti maupun tidak, sembari menyantap satu kilometer ke kilometer berikutnya. Sampai akhirnya, iapun pamit untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Advertisements

Hari Pertama ‘Punya Kantor’: Cara Kerja Para Millennial

Tidak disangka, penantian dan keraguan dalam fase cari mencari ini berbuah manis. Walaupun bukan disambut oleh love of my life (Nestle Indonesia), fase magangku diselamatkan oleh seorang yang baik hati dengan intro “Tasha, how can I help you?” awalnya ditawarkan untuk bekerja fully remote from wherever-you-want, setelah berdiskusi, sepakatlah bahwa aku tetap memiliki tempat yang bisa disebut sebagai ‘kantor’. “Okay, you can come 2-3 days per week. Does it make sense?” akhirnya. Seperti teman-teman, aku ingin merasakan pengalaman duduk bersama orang baru, mengerjakan ‘pekerjaan kantor’ bersama, bertatap muka, mengenal, bekerjasama, makan siang bersama, ikut meeting, punya email perusahaan sendiri, pokoknya pergi ke suatu tempat yang beda, dengan atmosfer profesional, karena mengerjakan hal yang bukan main-main, dengan tingkat yang berbeda dengan ‘sekolah’.

Sebagai orang yang senang belajar dan mencari tahu lebih banyak dan lebih dalam, peraturan tidak wajibnya karyawan untuk datang ke kantor setiap hari merupakan hal baik untukku. Awalnya, aku membayangkan menjadi seorang karyawan berarti datang lima hari dalam seminggu merupakan keharusan. Namun semakin berkembangnya teknologi dan habit manusia, hal tersebut tidak lagi diperlukan. Paling tidak, tatap muka secara reguler perlu untuk tetap memaintain secara fisik dan berkomunikasi ‘yang sebenarnya’. Persis seperti yang dikatakan beberapa dari 16 artikel bertema Performance Management, yang aku rangkum selama dua hari. Cara kerja para millennial.

Gaya bekerja semacam ini membuatku dapat tetap produktif di tempat nyamanku saat bekerja remote, sekaligus dapat merasakan banyak hal saat harus pergi ke kantor. Aku jadi memiliki alasan untuk keluar, merasakan suasana hiruk-pikuk jalan, padatnya Commuter Line, penuhnya halte TransJakarta, sabarnya menunggu, belajar mengalah pada yang lebih membutuhkan, bertemu orang baru, mengenal dan mengetahui berbagai tipe individu, rasa canggung ingin berkenalan namun masih malu, membantu abang GoJek mencari nafkah, jalan-jalan sebelum sampai rumah, mendengar seniman dadakan-slash-peracik-kopi di kedai kecil dekat stasiun, merasa bahagia makan masakan rumah setelah seharian kelaparan dan kelelahan, dan lainnya.

Merasakan momen demi momen yang mungkin tidak akan aku hargai bila harus mengulangnya setiap hari. Menjalani perjalanan kereta pergi pagi pulang malam. Atau hanya bekerja di rumah dengan pemandangan yang itu lagi-itu lagi tanpa punya alasan kuat untuk pergi ke tempat lain.

Terima kasih atas kesempatan ini, semoga semangatku tidak mudah luntur dan dapat menjadi anak magang yang sangat membantu dalam perkembangan organisasi ke depannya.

Tasha, nikmati tahun terakhirmu menjadi mahasiswa. Belajar itu mudah, kerja dan terjun ke dunia nyata itu sulit. Di kampus kamu mudah dapat A, teman-temanmu mudah dapat A. Tapi di dunia nyata, dapat A tidak semudah yang kamu pikirkan.

– Nasehat dari Para Kakak pada Meeting Pertamaku di Hari Rabu

Another Perspective from Sunflowers

 

A bunch of sunflowers is having a good talk, gossipping about humans.

“Look at those people, at the time like this, they still have to wait for some traffic lights. What are they doing all this day? It is not the time when you still at someplace but home.”
“What are they after by the way? Something that could provide their temporary happiness? They are wasting time!”
“Geez, shut up. Humans are complicated, they are different one to another. That man in blue shirt could be the one that helps his sick grandmother. He’s outside so he could buy the medicine. And that shiny black sedan with a star on top of its hood could be driven by someone that provides a school for street children.”
“Why would they do that?”
“Maybe because of their love?”
“Love? Look at us, we can’t feel love, we can’t feel anything, and we are fine. We don’t have to work for life. We are alive.”
“But our lives so short compared to the human.”
“Aren’t they tired?”
“Of course they are.”
“Because tired is temporary. Once they go to bed, they will be refreshed.”
“And start these stuff all over again?”
“Yup.”
“So, being a human is to do things over and over again?”
“Not all the human is doing some boring stuff.”
“I envy them actually, they could go everywhere they want. Humans have to be so grateful becoming what they are.”
“You might right.”
“Hhh, my head is hurt. I’m so glad that me, us, just a bunch of sunflowers.”
“Well, you don’t even have a head, you know.”
“I know, I’m just like expressing feeling like humans.”
“So, you are much like a human now?”
“Ugh, don’t start!”

Hujan Malam Itu

Suara rintik berpadu dengan melodi dalam ruang
Menemani wajah-wajah lelah yang sedang menuju pulang
Merambat indah diantara kaca yang bergetar
Bertemu, bersatu padu di bawah cahaya lampu jalan yang berpendar

Keabsenan cengkerama antara kami berlanjut
Sampai ia yang memecah dengan pertanyaan sederhana
Saking sederhananya hingga membuatku terkejut
Bagaimana hal tersebut dapat terpikir olehnya

Beberapa kali aku memulai dan menimpali
Berusaha mengenal dan menggali
Sejauh apa kelupaannya mengenai hari-hari
Masa dimana kami setiap hari berkomunikasi

Seiring kilometer bertambah satu-satu
Suara cengkerama tidak lagi mengalir
Membiarkan pendengaran menikmati hujan malam itu
Hingga jalan berputar, rem diinjak, dan perjalanan berakhir

Inspired by: that rainy night and the beautiful couple sat behind us

_____

Tebet, Jakarta, Juli 2017