Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo

Siapa yang gak tau lagunya iklan Teh Sariwangi yang pakai osmofilter? Well, ada sih. Tapi rata-rata pasti pernah liat di TV atau YouTube. Jingle yg dinyanyiin Inneke Koesherawati itu sangat ikonik, sederhana, tapi bisa mendeskripsikan produk dengan begitu singkat dan padat. Meskipun udah lama, sayangnya gue baru sadar beberapa hari lalu. Haha, telat banget sih. Tapi ya gapapa daripada gak sadar sama sekali.

Coba kita nyanyiin:

“Ini teh kantong bundar sari murni,
yang rasanya enak sekali.
Semua suka aromanya nikmat,
bikin kita jadi semangat.”

Hal yang bikin gue takjub adalah gimana sebuah ide sesederhana itu bisa jadi cara penyampaian pesan yang menyenangkan untuk didengar, bahkan menjual. Kalo dijadiin iklan pasti dibayar kan harusnya. Tapi hal sederhana kayak gitu mungkin gak semudah menjentikan jari dalam proses pembuatannya. Butuh orang kreatif yang bekerja siang-malam untuk mikirin gimana cara yang mudah untuk brand memposisikan diri terhadap konsumen.

Sampai sekarangpun, iklan Oreo berupa campaign yang bertajuk “Wonderfilled”, masih jadi cara pemasaran favorit gue. Dengan caranya sendiri, Oreo berusaha ngasih pesan bahwa produknya se-fun-itu. Bisa dinikmati siapapun, bisa bikin kita jadi se-positif-itu ngeliat suatu hal. Dengan hanya melakukan hal sesederhana berbagi. Ya, berbagi Oreo.

Di salah satu liriknya

“Wonder if I gave an Oreo,
to a vampire in a creepy show.
Would he not act so undead?
Would he thirst for milk instead?
I’ve just got this feeling that it might work out alright.”

Oreo ngasih kita cerita, bikin kita ngeliat vampire dari sudut pandang yang berbeda. Percaya bahwa vampire, mahluk yg haus darah itu, bisa jadi baik dan bersahabat. Meskipun cuma imajinasi, tapi ini lebih ke pembentukan cara berpikir, bukan apa yang dipikir. Dengan mudahnya, juga bisa diimplementasi di kehidupan sehari-hari.

Misal dalam hari itu kita berpositif bahwa dosen killer yg biasanya cemberut (thank god di Mankom gak ada), akan mengajar dengan senyuman. Paling gak, kita jadi semangat untuk dateng ke kelas. Kalopun ternyata doi tetep cemberut, toh kita udah di kelas. Sayang banget dong kalo malah gak dengerin pelajaran.

Wkwk ya gitu aja sih. Intinya gue mengagumi para creative content strategist atau apapun istilahnya, atas pekerjaannya yang membuat pemasaran jadi terlihat dan terasa menyenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s