Hari Pertama ‘Punya Kantor’: Cara Kerja Para Millennial

Tidak disangka, penantian dan keraguan dalam fase cari mencari ini berbuah manis. Walaupun bukan disambut oleh love of my life (Nestle Indonesia), fase magangku diselamatkan oleh seorang yang baik hati dengan intro “Tasha, how can I help you?” awalnya ditawarkan untuk bekerja fully remote from wherever-you-want, setelah berdiskusi, sepakatlah bahwa aku tetap memiliki tempat yang bisa disebut sebagai ‘kantor’. “Okay, you can come 2-3 days per week. Does it make sense?” akhirnya. Seperti teman-teman, aku ingin merasakan pengalaman duduk bersama orang baru, mengerjakan ‘pekerjaan kantor’ bersama, bertatap muka, mengenal, bekerjasama, makan siang bersama, ikut meeting, punya email perusahaan sendiri, pokoknya pergi ke suatu tempat yang beda, dengan atmosfer profesional, karena mengerjakan hal yang bukan main-main, dengan tingkat yang berbeda dengan ‘sekolah’.

Sebagai orang yang senang belajar dan mencari tahu lebih banyak dan lebih dalam, peraturan tidak wajibnya karyawan untuk datang ke kantor setiap hari merupakan hal baik untukku. Awalnya, aku membayangkan menjadi seorang karyawan berarti datang lima hari dalam seminggu merupakan keharusan. Namun semakin berkembangnya teknologi dan habit manusia, hal tersebut tidak lagi diperlukan. Paling tidak, tatap muka secara reguler perlu untuk tetap memaintain secara fisik dan berkomunikasi ‘yang sebenarnya’. Persis seperti yang dikatakan beberapa dari 16 artikel bertema Performance Management, yang aku rangkum selama dua hari. Cara kerja para millennial.

Gaya bekerja semacam ini membuatku dapat tetap produktif di tempat nyamanku saat bekerja remote, sekaligus dapat merasakan banyak hal saat harus pergi ke kantor. Aku jadi memiliki alasan untuk keluar, merasakan suasana hiruk-pikuk jalan, padatnya Commuter Line, penuhnya halte TransJakarta, sabarnya menunggu, belajar mengalah pada yang lebih membutuhkan, bertemu orang baru, mengenal dan mengetahui berbagai tipe individu, rasa canggung ingin berkenalan namun masih malu, membantu abang GoJek mencari nafkah, jalan-jalan sebelum sampai rumah, mendengar seniman dadakan-slash-peracik-kopi di kedai kecil dekat stasiun, merasa bahagia makan masakan rumah setelah seharian kelaparan dan kelelahan, dan lainnya.

Merasakan momen demi momen yang mungkin tidak akan aku hargai bila harus mengulangnya setiap hari. Menjalani perjalanan kereta pergi pagi pulang malam. Atau hanya bekerja di rumah dengan pemandangan yang itu lagi-itu lagi tanpa punya alasan kuat untuk pergi ke tempat lain.

Terima kasih atas kesempatan ini, semoga semangatku tidak mudah luntur dan dapat menjadi anak magang yang sangat membantu dalam perkembangan organisasi ke depannya.

Tasha, nikmati tahun terakhirmu menjadi mahasiswa. Belajar itu mudah, kerja dan terjun ke dunia nyata itu sulit. Di kampus kamu mudah dapat A, teman-temanmu mudah dapat A. Tapi di dunia nyata, dapat A tidak semudah yang kamu pikirkan.

– Nasehat dari Para Kakak pada Meeting Pertamaku di Hari Rabu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s