Riuhnya Ingatan

Related to my post last year.

Advertisements

Happy Grad, Sab. 

Perasaan terbaik yang dirasain sekarang-sekarang ini adalah liat temen yang udah ngakak bareng dari putih abu-abu, pake toga dan bawa bunga bejibun. Kita-kita cuma bisa ngomong “wow,  you made it!”,

College was never easy, but her 3 years has passed. And those gifts, prove that she deserves it.

4.3

Ingat saat kamu menjadi narasumberku tentang couchsurfing? Awalnya tidak sengaja, namun aku jadi tertarik untuk menyelaminya lebih jauh. Hampir loh jadi tema skripsiku. Tapi dari situ, aku mengasah kreatifitasku untuk bisa bertemu denganmu. Bisa dibilang mencari-cari alasan, sebut aja: alasan yang produktif.

Kalo alasannya gak jelas, aku malas ditolak.

Aku Mencintaimu, Jadi…

Aku mencintaimu dengan hati, bukan dengan rasa malu, ataupun rasa takut. Jadi, persetan dengan itu semua.

Aku mencintaimu yang sekarang, bukan yang dulu, tentu yang akan datang. Jadi, persetan dengan itu semua.

Aku mencintaimu apa adanya, bukan yang sempurna, bukan pula yang ideal. Jadi, mari menjadi lebih baik bersama.

Sayup

Sayup kereta terdengar dari kejauhan.
Memberikan suara pada malam dingin di kota ini.
Musim belum juga berganti,
namun tanda-tandanya sudah dapat diamati.

Sayup pesawat terdengar dari atas sana.
Membuat khayal berkelana kesana-kemari.
Tidak untuk menemani dalam sunyi,
tidak pula untuk sedikit bernyanyi.

Sayup azan terdengar dari sisi barat.
Menyadarkan pagi datang memanggil.
Menghempaskan rasa dingin yang mengigil,
untuk segera membasuh tubuh dan menghadap sang ilahi.

Sayup riuh cengkrama terdengar.
Suara yang dikenal menjalarkan getar.
Suara yang dikenal kepunyaanmu, rupanya.
Sayup riuh mimpi semalam tadi, benar adanya.

_____

Riung Endah, Bandung, Agustus 2017

Selamat Tanggal 17: Sedikit Cerita dari Keluarga Kecil

Melihat pasangan muda berjalan di depan rumah, membawa serta anak kecilnya melihat ayam yang belum diberi makan. Mengajak si kecil melihat bentuk nyata beberapa ekor ayam yang selama ini hanya dilihat dari buku, internet, maupun televisi. Bergandengan tangan, menyiratkan keluarga kecil nan bahagia.

Dulu aku berada di posisi anak itu. Selama lima tahun jadi satu-satunya anak yang merengek minta diberi adik, untuk diajak bermain. Keluarga kecil yang terdiri dari tiga orang, dalam beberapa tahun melebar jadi lima orang. Tiga orang anak yang berebut minta digendong.

Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya, si tukang gendong perlahan membawa kabar bahwa ia akan pergi dalam dua tahun. Kepergian yang tidak punya jalan kembali. Menghilangkan sosok penghapus air mata & pemberi pelukan paling erat di muka bumi, untukku, juga untuk belahan jiwanya.

Hari ini Indonesia ulang tahun, pun juga dirimu. Seharusnya umurmu lima puluh satu, namun ragamu terhenti di empat puluh dua kurang enam bulan dua hari. Tidak apa, waktu punya caranya sendiri untuk menghentikanmu. Namun aku, punya caraku sendiri untuk tetap bersamamu, papa.

___

yang foto mama, yang paling kecil masih berbentuk fetus

Djarot: Pilihan Itu Kita yang Nentuin

Pertemuan dengan orang-orang baru, berbincang sedikit tentang hidupnya dan hidupku, bertukar pikiran tentang isu yang mampu kami bahas, merupakan kegiatan yang menyenangkan untukku. Maka dari itu, aku senang bergabung dalam kerjasama yang melibatkan orang lain seperti kepanitiaan dan sejenisnya. Awal Agustus lalu, Muti menawarkan kesempatan yang sulit aku tolak.

“Cha, ikut volunteer The International Youth Day 2017 yuk. Mau ga?”
“Dimana Mut acaranya?”
“Jumat di HQ UN Jakarta di Menara Thamrin, Sabtu di Erasmus Huis Kedutaan Belanda Rasuna Said.”
“Tapi gue bisa yang Jumat, Sabtu aja gak apa-apa Mut?”
“Gak apa-apa banget, Cha. Gue juga kok Sabtu doang.”
“Ini acaranya siapa emang?”
“Acaranya 2030 Youth Force Indonesia X Youth Advisory Panel UNFPA Indonesia.”
“Okay, count me in. Gue mau banget, kayaknya seru.”

Singkat cerita, Jumat sore selepas acara hari pertama, workshop, aku datang untuk briefing hari kedua. Aku yang biasanya masa bodoh dengan malu-malu, malam itu entah kenapa gak bisa sok asik seperti biasa. Aku malah diam, berubah jadi pengamat. Setelah briefing, Muti bersama teman-teman FKMnya mengajak pulang bareng (yaiyalah bareng, kompleks kita depan-depanan masa gak bareng haha). Dari kesempatan itu, jabatan tangan baru dengan Sharon, Dara, dan Djarot tercipta.

Topik yang menarik perhatianku adalah fakta bahwa Djarot, yang mirip banget sama Iqbal (post sebelumnya membahas sedikit tentang Iqbal), merupakan mahasiswa Hukum UI 2015 yang sebelumya berstatus mahasiswa Akuntansi UI 2013. Saat ditanya mengapa, FE bukan tempat yang cocok, katanya. Awalnya aku pikir mungkin ia gak terlalu suka angka atau mungkin kesulitan.

Hari kedua adalah talkshow. Aku berkontribusi dari awal hingga akhir hari. Selagi berjaga di meja registrasi, di pojokkan ada meja yang diatasnya ditaruh buku-buku lama berbahasa Belanda dari perpustakaan. Melihat sampul-sampul klasik, aku membawa beberapa dengan dalih “I don’t understand Dutch, so I choose these for the sake of aesthetic. That’s all.” Berbeda dengan Djarot yang sedikit-sedikit mengerti Bahasa Belanda karena ia belajar, beberapa buku membuatnya terkagum.

“Eh lo mau ini ga? Gue gak jadi ambil deh udah berat banget.”
“Buku apa tuh?”
“Politeia sih judulnya.”
“Politeia! Buat gue dong.”
“Emang bagus?”
“Ini tuh tentang… Jadi Politeia itu…” *Djarot bercerita singkat mengenai buku tersebut*
“Kalau yang ini mau juga ga?”
“Sini liat. Eh gapapa nih Cha buat gue? Ini ada pedoman huruf Suku Maya loh.”
“Ih sini gak jadiii.”
“Et gak bisa, udah jadi hak milik gue.”
“Emang itu tentang apa?”
“Ini tuh kayaknya tentang…” *Djarot bercerita sepahamanya mengenai buku tersebut*
“Wah seru banget! Nanti ceritain gue fix. Kabarin kalo udah selesai yaa nanti gue samper buat denger cerita dari lo haha”
“Okee nanti gue kabarin ya!”

Hari itu, aku berkenalan, berbincang, dan bercanda dengan lebih banyak orang, termasuk Djarot. Ia sering berada di luar venue bersama anak registrasi untuk mengatur  alur masuk peserta, membantu loading barang, berkoordinasi dengan pihak penjaga. Sesekali masuk ke aula, bersama MC mengatur alur di dalam, berkoordinasi dengan sesama pemegang HT, dan lainnya.

Setelah acara selesai, “Geng Depok” yang kemarin pulang bersama, bersatu kembali dalam perjalanan ke Plaza Festival Kuningan untuk makan malam dan penutupan. Djarot hampir selalu bersuara dengan berbagai pengetahuan dan gagasan yang ia miliki. Masuk ke dalam restoran tujuan, ia semakin seru menceritakan seputar pemerintahan dan lain-lain. Aku gak terlalu mendengarkan, namun ada sekali dua kali aku perhatikan ia sedang bercerita tentang VOC dan topik-topik yang aku kenal saat pelajaran sejarah SMA dulu.

Akhirnya aku mengerti, kenapa seorang mahasiswa angkatan 2013 rela mengulang kembali dari awal sebagai angkatan 2015.
Karena passion gak melihat usia.
Djarot adalah contoh dari orang yang berpegang teguh dengan apa yang ia sukai. Mengejar ilmu, mendalami apa yang menarik untuknya.

“Lo kalo baca buku tentang apa, Rot?”
“Apa aja Cha, gue baca semua buku.”

Pengetahuannya yang luas akan sayang bila ‘hanya’ berkecimpung dengan angka dan logika perhitungan. Mungkin di Hukum, jurusan yang ‘lebih sosial’, ilmu dan ketertarikannya akan bisa lebih berkembang. Aku jadi menyesal sempat berkata “Kok lo rela sih pindah? Udah setengah jalan loh di Akuntansi.”
Padahal itu pilihannya. Menurutku, sebagai mahluk sosial, gak seharusnya aku mempertanyakan keputusan yang telah ia ambil tanpa sebelumnya melihat kapabilitas dan ketertarikannya. Ternyata, ia masuk Akuntansi karena asal pilih saja. Setelah dijalani, ia meninggalkan jurusan yang diangung-agungkan oleh banyak anak SMA IPS karena sesederhana “Gue gak cocok.”

Ia memilih kebahagiaannya tanpa peduli apa kata orang. Ia berani ambil langkah yang paling sesuai untuk dirinya.