Djarot: Pilihan Itu Kita yang Nentuin

Pertemuan dengan orang-orang baru, berbincang sedikit tentang hidupnya dan hidupku, bertukar pikiran tentang isu yang mampu kami bahas, merupakan kegiatan yang menyenangkan untukku. Maka dari itu, aku senang bergabung dalam kerjasama yang melibatkan orang lain seperti kepanitiaan dan sejenisnya. Awal Agustus lalu, Muti menawarkan kesempatan yang sulit aku tolak.

“Cha, ikut volunteer The International Youth Day 2017 yuk. Mau ga?”
“Dimana Mut acaranya?”
“Jumat di HQ UN Jakarta di Menara Thamrin, Sabtu di Erasmus Huis Kedutaan Belanda Rasuna Said.”
“Tapi gue bisa yang Sabtu aja gak apa-apa Mut?”
“Gak apa-apa banget, Cha. Gue juga kok Sabtu doang.”
“Ini acaranya siapa emang?”
“Acaranya 2030 Youth Force Indonesia X Youth Advisory Panel UNFPA Indonesia.”
“Okay, count me in. Gue mau banget, kayaknya seru.”

Singkat cerita, Jum’at sore selepas acara hari pertama, workshop, aku datang untuk briefing hari kedua. Aku yang biasanya masa bodoh dengan malu-malu, malam itu entah kenapa gak bisa sok asik seperti biasa. Aku malah diam malu-malu, berubah jadi pengamat. Setelah briefing, Muti bersama teman-teman FKMnya mengajak serta aku untuk pulang bareng (yaiyalah bareng, kompleks kita depan-depanan masa gak bareng haha). Dari kesempatan itu, jabatan tangan baru dengan Sharon, Dara, dan Djarot tercipta.

Topik yang menarik perhatianku adalah fakta bahwa Djarot, yang mirip banget sama Iqbal (post sebelumnya membahas sedikit tentang Iqbal), merupakan mahasiswa Hukum UI 2015 yang sebelumya berstatus sebagai mahasiswa Akuntansi 2013. Saat ditanya mengapa, FE bukan tempat yang cocok, katanya. Awalnya aku pikir mungkin ia tidak terlalu suka angka atau mungkin kesulitan.

Hari kedua adalah talkshow. Aku benar-benar berkontribusi dari awal hingga akhir hari. Selagi berjaga di meja registrasi, ada meja-meja yang diatasnya ditaruh buku-buku lama berbahasa Belanda dari perpustakaan. Melihat sampul-sampul klasik, aku membawa beberapa dengan dalih “I don’t understand Dutch, so I choose these for the sake of aesthetic. That’s all.” Namun berbeda dengan Djarot, yang sedikit-sedikit mengerti bahasa Belanda karena ia juga belajar. Ada beberapa buku yang membuatnya terkagum.

“Eh lo mau ini ga? Gue gak jadi ambil deh udah berat banget.”
“Buku apa tuh?”
“Politeia sih judulnya.”
“Politeia! Buat gue dong.”
“Emang bagus?”
“Ini tuh tentang… Jadi Politeia itu…” *Djarot bercerita singkat mengenai buku tersebut*
“Kalau yang ini mau juga ga?”
“Sini liat. Eh gapapa nih Cha buat gue? Ini ada pedoman huruf suku Maya loh.”
“Ih sini gak jadiii.”
“Et gak bisa, udah jadi hak milik gue.”
“Emang itu tentang apa?”
“Ini tuh kayaknya tentang…” *Djarot bercerita sepahamanya mengenai buku tersebut*
“Wah seru banget! Nanti ceritain gue fix. Kabarin kalo udah selesai yaa nanti gue samper buat denger cerita dari lo haha”
“Okee nanti gue kabarin ya!”

Hari itu, aku berkenalan, berbincang, dan bercanda dengan lebih banyak orang, termasuk Djarot. Ia sering sekali berada di luar bersama anak registrasi untuk mengatur masuknya peserta, membantu loading barang, berkoordinasi dengan pihak penjaga, juga berada di dalam aula. Bersama MC, mengatur alur di dalam, berkoordinasi dengan sesama pemegang HT, dan lainnya.

Setelah acara selesai, “Geng Depok” yang kemarin pulang bersama, bersatu kembali dalam perjalanan ke Plaza Festival Kuningan untuk makan malam dan penutupan. Djarot hampir selalu bersuara dengan berbagai pengetahuan dan gagasan yang ia miliki. Masuk ke dalam restoran tujuan, ia semakin seru menceritakan seputar pemerintahan dan lain-lain. Aku memang tidak terlalu mendengarkan, namun ada sekali dua kali aku perhatikan ia sedang bercerita tentang VOC dan topik-topik yang aku kenal saat pelajaran sejarah SMA dulu.

Lalu akupun akhirnya mengerti kenapa seorang mahasiswa angkatan 2013 rela mengulang kembali dari awal sebagai angkatan 2015.
Karena passion tidak melihat usia.
Djarot adalah contoh dari orang yang berpegang teguh dengan apa yang ia sukai. Mengejar ilmu, mendalami apa yang menarik untuknya

“Lo kalo baca buku tentang apa, Rot?”
“Apa aja Cha, gue baca semua buku.”

Pengetahuannya yang luas akan sayang bila hanya berkecimpung dengan angka-angka dan logika perhitungan. Mungkin di Hukum, jurusan yang ‘lebih sosial’, ilmu yang ia miliki akan lebih berguna. Aku jadi menyesal berkata “Kok lo rela sih pindah? Udah setengah jalan loh di Akuntansi.” di awal.
Karena itu adalah pilihannya. Menurutku, sebagai mahluk sosial yang baik, tidak seharusnya aku mempertanyakan keputusan yang telah ia ambil tanpa melihat dulu apa yang bisa dilakukannya. Ia mampu masuk Akuntansi karena ya pilih saja. Namun setelah dijalani, ia meninggalkan jurusan yang diangung-agungkan oleh banyak anak SMA IPS.

Ia memilih kebahagiaannya tanpa peduli apa kata orang. Ia mengambil langkah yang menurutnya paling benar untuk dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s