Pulang: Bonus

Di perjalanan pulang setelah seharian beraktifitas di luar
dan seiring malam yang kian larut
terkadang datang keinginan dalam diri
untuk menghabiskan malam di suatu tempat yang asing.

Tempat di mana kita bisa sejenak berhenti menjadi pelaku kehidupan,
kemudian merelakan diri menjadi seorang pengamat.

Kemudian berbekal spontanitas,
kejenuhan akan rutinitas,
atau keeingganan untuk tiba di rumah dengan tepat waktu,
kita pun memilih jalan yang sebelumnya belum pernah kita lewati.

Mungkin hari itu kita ingin mencoba berjalan kaki
di trotoar jalan yang dipenuhi pedagang kaki lima.

Mungkin sebelumnya kita tidak pernah memandang jalan raya
dari atas jembatan penyebrangan.

Mungkin malam itu kita ingin mendatangi pintu-pintu yang tertutup rapat
di pinggiran kota,
di celah-celah gang
yang keberadaannya pun tak pernah kita ketahui sebelumnya.

Kemudian di tempat-tempat asing itu, kita pun mengemati mereka, para perayap malam.
Orang-orang yang menunduk di bar sembari menahan kantuk,
yang bergegas menuju suatu tempat di bangku kemudi,
yang menjajakan barang dengan penerangan yang remang.

Lalu kita pun bertanya-tanya “apa yang sedang terlintas di benak mereka?”

Malam memanglah waktu yang tepat untuk bertanya, merenung, an memikirkan kembali segala hal yang tak pernah kita pedulikan sebelumnya.

Maka untuk sejenak,
berhentilah,
amatilah.

Malam ini kita akan menjadi perayap malam.

__

Galih Satria Adhi Putra

galihsadhira.tumblr.com

Advertisements

Dear Acha,

seperti yang sudah-sudah selama tiga tahun, kali ini aku juga akan menulis surat untukmu. Bukan sebagai resolusi seperti orang-orang, hanya untuk pengingat. Continue reading “”

Tentang pagi dan mereka yang memulai hari

Cuaca memang sedang dingin, ditambah ia yang belum mengisi perut kecuali dua butir telur rebus sejak kemarin pagi, membuat pembakaran menjadi energi tidak mampu menghangatkan si pemilik tubuh. Tiga lapis pakaian dikenakan, namun gerutu kedinginan tidak lepas dari pikirannya. Tidak suka melontarkan gerutuan,” ujarnya di suatu waktu. “Tidak ada guna, tidak ada yang dengar juga, jadi untuk apa dikatakan?” Continue reading “Tentang pagi dan mereka yang memulai hari”

Tentang malam dan aku yang sulit berdamai

Suhu pagi ini menusuk hingga ke lapisan dalam pakaianku. Menerobos jaket panjang berbahan tebal, sweater, hingga kaos tipis yang biasa dikenakan saat tidur. Matahari belum terlihat, hanya semburat oranye di ujung timur sana, yang masih malu atau enggan bangun terlalu pagi, seperti pada bulan-bulan lain.

Berjalan keluar, apalagi dengan suhu begini, tidak seperti aku pada hari-hari lain. Continue reading “Tentang malam dan aku yang sulit berdamai”

“Sometimes you just need a good talk with the right one.” – Annonymous

Langit sore terang benderang, hawanya terlalu menyengat untukku, yang terbiasa dengan suhu sejuk kaki gunung. Nyalanya pendingin ruangan juga tidak ada guna, apalagi ruang ini terang dan freon yang semakin menipis. Entah bagaimana, layanan servis AC bahkan tidak dapat digubris dari sehari sebelum Natal hingga sehari setelahnya. Tidak membantu.

Akupun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur yang terlalu memanjakan tulang punggung.

Continue reading ““Sometimes you just need a good talk with the right one.” – Annonymous”

Beberapa menit berlalu, aku menunggu.

Rasa familiar dari kombinasi gagang pintu bercat tidak rata dan harum khas sebuah ruangan, menyelusupkan kenyamanan. Pandangan mengarah ke satu titik, berharap menemukan wajah familiar di sana. Ternyata, sudut itu kosong malam ini. Kota semakin menyepi, lalu lalang kendaraan menipis seiring larutnya hari. Memang belum ramai akibat perginya ratusan hingga ribuan orang ke berbagai kota. Namun malam ini terasa semakin kosong. Aku duduk di tempatnya, merasakan setiap jengkal meja yang terasa dingin di permukaan kulit jemari. Teringat makanan kesukaannya, teringat senyumnya, teringat lekukan kulit dahi saat ia berpikir, teringat tatapannya. Tatapan dalamnya.

Beberapa menit berlalu.

Berusaha berpikir keras untuk mencari alasan untu tetap tinggal,

berharap ia akan datang.

Tersadarkan, alasan tidak bisa berpikir oleh sebuah bunyi yang datang dari dalam diri, abdomen memberi sinyal ke otak untuk segera diisi. Bukan untuk energi seketika, namun untuk tiga jam setelahnya. Makanan kesukaannya terngiang, mengaktifkan kelenjar saliva di bawah telinga, rahang bawah, bawah lidah, dan sekitar rongga mulut. Aku meninggalkan tempat duduk itu, memesan seporsi makanan kesukaannya kepada orang di balik layar, lalu kembali. Mencoba menenggelamkan diri di antara rangkaian alinea pada sebuah buku, selagi menunggu.

Beberapa menit berlalu,

mangkuk putih hangat berisikan pesanan, datang. Namun tidak dengannya. Lelah telah bekerjasama dengan waktu untuk menggerogoti hari itu. Tidak lagi menunggu, aku habiskan isi mangkuk tersebut lalu pulang. Mengistirahatkan jiwa dan raga dari segala pikiran yang tak habisnya berlarian.

Satu Cerita Banyak Hati dan Si Penonton

Satu cerita banyak hati, aku saksikan di antara asumsi dan deskripsi. Diperankan oleh ia yang jatuh hati, kepada ia yang memendam rasa, terhadap ia yang masih menyimpan rasa, untuk ia yang menyakiti. Sungguh sesak melihat keadaan ini, terlebih lagi karena salah satunya adalah sosok yang mengagumkan, salah dua dari pemeran tersebut adalah bagian dari keseharianku, pun mereka saling memahami dan menjadi tempat sampah utama dari segala hal yang bercokol dalam dada sejak lama.

Salah dua itu yang utama untukku. Memikirkan kemungkinan hancurnya hubungan mendalam mereka yang dibina sejak lama, hanya karena satu hati yang tiba-tiba datang mengusik tahun. Memang benar keputusannya untuk menjadi si pemendam, agar tidak mengganggu ketenangan yang jatuh hati akan ketidakmungkinan. Biarlah yang awam melihat ketenangan air yang ternyata riaknya ramai di dasar sana.

Kami si orang dalam, kelimpungan memilih antara kejujuran yang nantinya akan manis atau kebohongan yang terlihat manis. Ingin memanipulasi, sayangnya hanya sampai batas awang-awang tanpa ada penjelasan konkret yang menguatkan. Tidak ingin, tidak bisa memilih. Karena dua-duanya sangat berharga. Karena dua-duanya merupakan satu kesatuan.

Hanya berharap, isu ini menemukan jalan keluar. Terlalu sedih untukku melihat mereka.