Tentang malam dan aku yang sulit berdamai

Suhu pagi ini menusuk hingga ke lapisan dalam pakaianku. Menerobos jaket panjang berbahan tebal, sweater, hingga kaos tipis yang biasa dikenakan saat tidur. Matahari belum terlihat, hanya semburat oranye di ujung timur sana, yang masih malu atau enggan bangun terlalu pagi, seperti pada bulan-bulan lain.

Berjalan keluar, apalagi dengan suhu begini, tidak seperti aku pada hari-hari lain. Semalaman bergulat dengan pikiran yang tiba-tiba datang mengusik ketenangan, membuat sirkadian mengamuk dan akhirnya pergi tidak lagi memedulikan waktu tidurku. Disanalah aku, terbaring dengan usaha menidurkan diri. Sesekali memejamkan mata, mencoba menghitung domba-domba hingga merasa bodoh sendiri, sampai akhirnya menyerah dan bangkit ke meja baca berlampu kuning di sudut ruangan.

Buku-buku tersusun rapih di lemari kayu sebelahnya. Cukup besar untuk menampung buku-buku yang belum dibaca, hanya baru dibuka demi mencium harum kertas yang masih perawan. Aku pilih salah satu dengan sampul yang berwarna tenang, sebuah kumpulan puisi. Halaman pertama begitu menyentuh, hingga tak terasa halaman lain lebih menarikku masuk ke dunianya. Mencerna rangkaian kata menjadi sebuah makna, pesan tentang cinta dari si penulis, melalui berbagai perspektif yang telah ia kumpulkan. Bukan tentang cinta picisan yang pasaran, namun lebih luas dengan banyak latar belakang para pemain, serta perandaian yang dengan manis dimainkan.

Halaman terakhir mengentakkanku karena sakit hati. Cara terbaik untuk mengembalikan pembaca ke dunia nyata. Tidak terasa, beberapa jam pun berlalu. Namun kantuk belum juga hadir. Aku mengambil ponsel dan mulai mencari nama, berharap ia akan mengangkat panggilan untuk membahas yang sedari tadi mengganggu pikiranku. Nada panggil berbunyi sampai habis, digantikan suara wanita yang memberitahu bahwa teleponku tidak diangkat dan menyarankan untuk menelepon kembali beberapa saat lagi. Sampah, aku juga tahu teleponku gak diangkat! hardikku dalam hati. Aku butuh bicara, sekarang. Dengan frustasi melirik jam dinding, berubah merasa bersalah setelahnya. Pantas saja, ini pukul dua tujuh belas. Siapa yang masih bangun pukul segini?

Kesal, aku mencari buku lain. Sampul nuansa biru gelap menarik perhatianku. Novel dari penulis terkenal, fiksi yang telah diterjemahkan ke banyak bahasa, peraih berbagai penghargaan. Kalimat pertama menyihirku, menaikkan semangat untuk terus mengikuti alurnya. Sayup-sayup kokok ayam terdengar, menandakan pagi akan datang. Sayang, mereka tak mampu menggubrisku yang tengah bertualang dalam rimba kata-kata. Kali ini, aku kembali ke dunia nyata dengan manis. Akhir cerita begitu tragis, namun beberapa menggantung misterius, dan lagi-lagi yang benar yang menang.

Jengah, aku memutuskan untuk keluar. Mencari suasana lain, berharap mendapat ketenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s