Tentang pagi dan mereka yang memulai hari

Cuaca memang sedang dingin, ditambah ia yang belum mengisi perut kecuali dua butir telur rebus sejak kemarin pagi, membuat pembakaran menjadi energi tidak mampu menghangatkan si pemilik tubuh. Tiga lapis pakaian dikenakan, namun gerutu kedinginan tidak lepas dari pikirannya. Tidak suka melontarkan gerutuan,” ujarnya di suatu waktu. “Tidak ada guna, tidak ada yang dengar juga, jadi untuk apa dikatakan?”

Ia berjalan menyusuri jalan setapak dengan sepatu kanvas hitam bertali putih. Langit belum bisa memaksa matahari untuk keluar, jadi hanya menampilkan semburat oranye di sisi timur. Ia menengadah, mencoba mencari jawaban atas keputusan yang ia anggap bodoh, untuk keluar sepagi ini.

Satu dua motor berlalu cepat ke arah sebaliknya, menikmati jalan raya yang masih sepi menuju tengah kota. Untung bukan pakai knalpot modifikasi, kasihan wanita tua di ujung perempatan sana kalau harus terbangun sepagi ini, pikirnya. Berbeda dengan dua motor tadi, seorang bapak membawa gerobaknya pelan-pelan. Mendorong entah dari mana, menuju tempat di samping warung bertembok putih, yang masih rapat menutup kiosnya dengan rolling door. Dilihatnya tulisan “Soto Ayam” di gerobak si bapak. Menandakan itulah penjual soto ayam terenak di daerah ini. Soto ayam yang sering dibicarakan teman yang doyan makan. Sudah tiga tahun ia pindah ke daerah ini, namun soto ayam saja baru ia lihat.

Lingkungan kerjanya di tengah kota, sekitar empat puluh lima menit berkendara dari daerah ini tanpa macet. Keputusannya untuk bermukim di sini karena harga properti yang lebih murah. Namun kesibukan membuat berjalan-jalan serasa buang-buang waktu. Sabtu minggu dihabiskan untuk bersosialisasi, itupun kalau tidak ada kerjaan tambahan. Sebulan sekali ia pulang ke kota asal, itupun kalau tidak dinas. Tanggal merah dihabiskan untuk mengurus rumah, itupun kalau kehabisan tiket atau tiket liburan terlalu mahal karena terlambat memesan. Bisa berjalan santai seperti ini saja karena cuti sakit akibat opname dua hari lalu, jadi diberi bonus seminggu dengan catatan pekerjaan dikirim lewat email. Bosnya terlalu baik.

Tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan, ia sampai di kios koran yang sudah siap menjajalkan dagangannya. Memajang koran dan majalah dari berbagai penerbit, menerima kedatangan para pengantar dengan motor mereka, melayani pembeli dari berbagai kalangan, sambil menghisap rokok kretek yang tinggal setengah. Merek murah, batinnya. Ia bukan perokok, namun hapal betul merek rokok yang mahal dan bukan, dijual di sini dan di sana, hanya karena dikelilingi mereka si kereta berkaki dua.

Dari tempat penjual koran, terlihat seorang pelajar mengeluarkan motor dari beranda rumahnya, berusaha sebisa mungkin tidak menggores mobil hitam yang terparkir berdekatan. Kepergiannya diantar oleh lambaian tangan yang tadi ia kecup. Keramaian mulai menjalari indera pendengaran, ditambah bunyi rolling door warung sebelah tempat penjual koran. Mereka saling menyapa, penjual koran dan pemilik warung.

Merasa asing dengan bagaimana warga memulai hari, ia memutuskan kembali ke kediamannya. Namun, keinginan itu tertunda karena melihat gerobak bubur ayam yang bertengger di depan mini market. Semoga enak, harapnya.

“Pak, bubur ayam satu porsi. Tapi pakai ayam dan bawang goreng saja.”

Penjual bubur ayam datang membawa semangkuk yang dipesan.

Setelah bertukar senyum, ia memutuskan untuk memulai percakapan.

“Bapak biasa nyiapin ini semua dari jam berapa?”

“Dari malem sih dek, tapi kalau yang bisa saya siapin dari subuh, mendingan dari subuh. Biar seger. Jadi setelah semua siap, kira-kira jam setengah enam, saya jalan ke sini.”

“Bapak tinggal sendiri?”

“Enggak, sama anak dan istri. Biasanya istri saya ikut ke sini abis siapin sarapan dan bekal anak, tapi hari ini lagi sakit. Jadi saya sendiri.”

Membayangkan aktifitas pagi si bapak, membuat ia bertanya-tanya apakah si bapak dan istrinya menikah karena cinta? Dimana rumah pemilik warung? Dari mana penjual koran mendapat koran dan majalahnya? Pelajaran apa yang disiapkan anak SMA tadi untuk hari ini? Bagaimana penjual soto ayam menyiapkan dagangannya? Sedang apa wanita tua yang tinggal di perempatan jalan? Apa rencana yang disiapkan pengendara motor di tengah kota?

Berbagai pertanyaan berputar dalam benaknya. Membuat ia cepat-cepat menghabiskan bubur, membayar, dan menyetop angkutan kota yang berjalan santai. Melihat penumpang lain, muncul pertanyaan baru,

Apakah mereka semua bahagia?

Lamunan itu dibuyarkan oleh suara penumpang yang ingin turun tepat di kawasan kediamannya. Ia berlari memasuki kamar, mengambil ponsel dan langsung mencari nama yang semalam tidak mengangkat telepon. Suara panggilan membuatnya frustasi, hingga hening dan

“Halo, aku butuh bicara, aku mau cerita…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s