Advertisements

Kadang

Kadang, yang terucap bukanlah yang terjadi. Bukan pula yang dirasa.

Melainkan apa yang disemogakan oleh otak untuk dipahami oleh hati.

Kadang, yang terucap hanya sebuah manipulasi. Untuk menyelamatkan harga diri, yang sebenarnya tidak perlu diselamatkan.

Karena sebenarnya, harga diri telah jatuh di tempat yang tepat. Sayangnya, ia tidak tahu. Atau belum.

Sedikit Bicara Rasa

“Tuhan mencipta manusia, dengan guratan porsinya masing-masing yang menjadikannya indah. Namun, mengapa manusia terus mendamba kata indah dari manusia yang lain?” tanya seorang teman.

“Karena sifat dasar manusia yang tidak pernah puas.” jawabku.

“Kalau begitu, selalu ada alasan dari keburukan yang dibuat manusia.” tambahnya.

“Makanya harus punya batasan yang dibentuk logika, khususnya untuk diri sendiri. Sayangnya, seringkali logika kalah dari perasaan karena rasa tidak bisa kita kontrol. Namun, keseimbangan menciptakan kemampuan kita untuk mengontrol apa yang kita lakukan, mengontrol aksi kita, mengontrol kita dalam merespon suatu realitas. Untungnya, badan kita diatur sama otak, bukan hati.” tutupku menyudahi obrolan malam karena kantuk yang tidak lagi dapat ditahan. Atau karena sadar saat menjawabnyapun, sebenarnya sedang dibajak rasa dibanding logika.

Pada lain kesempatan, saat obrolan tentang rasa di atas mulai terlupa, seorang teman lainnya bertanya. “Jadi, hati itu adalah tempat bernaungnya cerita-cerita yang tak tersampaikan, kan?”

Aku yang sedang dilanda kesulitan menafsirkan rasa, merespon, “Hati merupakan tempat bersemayamnya rasa yang tidak bisa diatur, yang terkadang merengek kepada otak minta didefinisikan. Sayang, otak tidak mampu.” Temanku itu setuju.

Pernyataan atas kejadian yang mencoba untuk diurai, demi pemahaman tentang diri yang lebih baik.

Matanya menghangat, larut dalam rasa takut. Seperti berjalan dalam ruang penuh kaca tipis. Salah salah bisa terinjak dan pecah, merusak kaca menjadi kepingan, juga melukai kaki hingga mengalir darah. Menyudutkan keinginan untuk memiliki harapan.

Matanya menghangat, ingin lelap dalam larutnya malam. Namun kata-kata membajak ke sudut-sudut pikirannya. Mencoba menjelaskan seonggok rasa. Orang bilang sulit deskripsikan rasa, yang lain bilang coba saja tidak akan dosa.

Maka ia coba merangkai kata. Satu demi satu. Usaha yang sia-sia, sepertinya. Karena kepala mulai berputar seiring beratnya mata, mendesak ingin terkatup. Membawanya ke alam mimpi, untuk sejenak melupakan kegundahan.

Orang bilang, tidur adalah cara terbaik untuk sekedar rehat dari segala masalah. Bukan masalahpun, rasanya kata-kata yang menggerayangi dapat sirna seketika. Maka ia coba merebahkan kepala, bersama rintik hujan yang mulai mengetuk jendela.

Gaze

i asked you once
for not giving me
such a gaze

a deep one

you asked why
why a gaze could
be
so wrong
like you have it
your whole life
and it was
wrong

i was so sorry
to your response
then i realized
that it’s not you to
not gazing at
wherever you want
including me

but it is me, to
understand that your gaze
isn’t the same
like his gazed
from across the room
smiled,
coded,
averted,
gazed.

or not.
or perhaps
it is just the same,
but
with quandary and
uncertainty.

Keluar untuk Kembali

Untuk sebagian orang, waktu emas untuk berpikir adalah saat rutinitas pagi di kamar mandi. Mungkin itu yang jadi salah satu pemicu bagi Cary McNeal untuk nulis buku 1,001 Facts that Will Scare the S#*t Out of You: The Ultimate Bathroom Reader. Membuat kumpulan fakta tentang ini dan itu, yang mudah dibaca, dan bisa dibaca dimanapun, terutama kamar mandi. Mungkin untuk memberi inspirasi, mungkin hanya untuk menemani. Poinnya adalah ide bisa didapatkan saat berkontemplasi di kamar mandi.

Gue yang dulu gue lebih sering melakukannya lalu ditulis di tumblr (waktu itu tumblr masih keren banget parah jadi blogspot agak jarang dibuka). Salah satu yang diingat adalah berkhayal kalo gue terjebak di tengah civil war 1845, pakai dress silver dengan hiasan kepala ala era Victoria. Akibat kebanyakan nonton The Vampire Diaries season 1 dan season 2.

Gue yang sekarang terpikir sesuatu saat di kamar mandi pagi ini. Teringat beberapa artikel dan cerita kalau orang-orang Perancis kuliah pertanian ke luar negeri lalu kembali ke negeranya untuk jadi petani anggur yang sukses. Ada lagi yang bilang kalau tantangan terbesar mahasiswa Indo yang kuliah ke luar negeri adalah engga baliknya mereka ke tanah air. Tetap tinggal di sana, bekerja di sana, yang mana ujungnya malah memajukan negera lain, bukan negara sendiri. Gue kurang tahu pastinya seperti apa, tapi masing-masing orang tentu punya alasan sendiri.

Namun, hal yang terpikir adalah mungkin ya emang seharusnya begitu. Kita keluar untuk kembali. Karena sifat itu ada dalam diri kita. Perspektif luasnya, kita mengemban banyak ilmu berkualitas, lalu kembali ke negara asal untuk memperbaiki pembangunan dalam negeri. Analogi yang lebih mengerucut, kalau keluar rumah di pagi hari untuk bekerja, hasil kerjanya akan dibawa kembali ke rumah berupa barang. Entah itu perabotan, makanan untuk dimakan sendiri atau keluarga, galon berisi air mineral, home theater untuk dinikmati di waktu senggang, bahkan buku untuk dipelajari sebelum tidur. Analogi paling sederhana dari tingkatan yang terpikir adalah hubungan kita dengan diri sendiri. Kita, sebagai individu, keluar untuk mencari ilmu, mencari cinta, mencari bahagia, yang mana akan kita gunakan untuk memuaskan diri sendiri.

Keluar untuk kembali, pada dasarnya sudah ada dalam diri sendiri. Hanya saja lingkungan secara luas yang membentuk dan membujuk diri untuk tetap di luar.

 

*rumah yang dimaksud di sini adalah house, bukan home. Bentuk house sendiri dapat dilihat sebagai tempat tinggal, bukan bentuk rumah secara harfiah. Maka, dapat diartikan ke dalam banyak makna, kontrakan, kostan, apartemen, rumah susun, dan lainnya. Karena setelah setelah sekian tahun hidup, akupun memahami bahwa tidak semua orang sudah menemukan rumahnya sendiri.

You are like
broken pieces i’d like to
fix but i know i can’t
so i’d just try
and try
and try
to glue your
pieces into a whole
inside,
so you won’t
missing your pieces
and face the world like
any other person
or you can’t be like
any other peson
because no one be like
any other person.
then i’d just try
and try
and try
to understand
and be with you
because you are
you.

Matamu bermain
menatap lalu berpaling
menerawang ke awang-awang
lalu tersenyum
sedikit menahan tawa
mungkin malu
mungkin canggung
entahlah

Maaf
aku yang spontan ini
menyambut mereka
yang lama tidak terlihat
menyapa dengan semangat
karena
terlalu senang
terkesan sangat dekat
padahal tidak sedekat
yang mungkin dipikirkan
tapi inilah aku,
yang sekarang

Kembali ke jalur obrolan,
pada jarak proksemik
level pertama,
matamu bermain
menatap lalu berpaling
menerawang ke awang-awang
namun tidak tersenyum
terjadi perubahan yang dirasa
atas sikapku
beberapa menit lalu

Tidak perlu mengaku
aku sudah tahu
dari sikap itu
bahwa kamu
tidak suka begitu
tidak apa
mungkin aku akan
melakukan
yang
sama
sepertimu

I hope that tonight someone
could hug
you
as tight as
I did
to let go of
your sadness
your confusion
toward life
while I’m
hugging myself
as tight as
I could
and cry overnight
planning about the talk

let’s meet
next week
to talk that over
you can choose
the day and time
I choose the place