Harap: Bonus

Advertisements

Mari Tertawa

Ayo, tertawa bersama. Menertawakan hidup. Ah, terlalu luas. Tertawakan hati saja.

Ya, lebih spesifik.

Bagaimana tidak, aku yang bergelung hampir sepuluh tahun akhirnya sampai pada titik kelelahan yang teramat sangat. Meyakinkan diri, mencari solusi, serta banyak diskusi untuk bisa lepas dari jeratan rasa padanya. Perlahan namun pasti, aku mencapai pintu keluar.

Lalu, aku bertemu denganmu.

Hanya satu di dunia, spesies langka yang dengan ajaibnya seakan hidup dari sebagian jiwaku. Atau mungkin aku yang hidup dari sebagian jiwamu.

Sayang, periode titik jenuhmu pada masa lalu belum mencapai puncaknya seperti periodeku. Sayangnya lagi, ada orang lain yang membuatmu betah berlama-lama duduk di satu tempat. Menumbuhkan bunga, menarik segerombolan kupu-kupu yang kegirangan mengepakkan sayapnya.

Begini polanya: aku yang baru lepas, melihatmu, kamu yang belum lepas, melihat masa lalu dan melihatnya. Lucu kan?

Makanya aku ajak kamu tertawa bersama. Karena hanya kita yang paham, bagaimana rasanya jatuh hati dan sakit hati pada waktu bersamaan.

Ha ha

Ha ha.

The phase is getting started,
let’s put on a jacket
and hiding somewhere under a blanket.

Then make sure your surroundings
as dark as a forbidden tropical rainforest
that no other things
will see your tears

like you can only feel it,
not see it.

Ha ha.

That Sleepless Night

On another sleepless night, you said that you want to hurt people because you’ve hurt so bad.

Dear you,
Congratulation.
You don’t have to look further for that person.

Remember me,

I was hurt when you said that you were hurt.
I was hurt when you said the one that gave you hope wasn’t me.
I was hurt when you said that you didn’t expect my presence.

And I still am, hurt
by you.

You don’t have to look further, babe.
Cause it’s all in me.

Malam, aku lelah.

Sebuah tatap menumbuhkan harap
yang menari riang bersamanya.
Sebuah rasa menumbuhkan asa
yang malu-malu berkata mau.

Memang manusia punya logika,
namun tidak semua dipersepsi dengan tepat.
Memang manusia dapat berkata,
namun kebenaran tidak lagi menimbulkan tanya.

Semua rasa dapat dicipta,
benar begitu adanya.
Namun mengapa kali ini
sangat sakit.
Hingga mata tidak lagi sanggup normal bekerja,
mengeluarkan cairan asin seperti biasa,
mengatup tenang saat kantuk datang.

Malam, aku lelah.
Hatiku lelah.
Biarkan aku tidur sejenak
agar rasa yang tidak tersampai
dapat terlupa sejenak dengan damai.

Acceptance

you can’t force anything. you can’t force him to love you and you can’t force yourself to unlove him. things take time, enjoy your pain while it lasts. enjoy your time while seeing his smiled eyes, talking about the things he loves: including her.

but feeling is something you can learn, something you can grow. the thing is, it takes time. but i don’t mind. everything takes time, so why not.

if you need some time, it’s okay. take your time, i’m not going anywhere. i’ll just do my things while waiting for you to come to me, then we can share stories about that phase.

Harap (20)

Selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuh, menyisakan kepala yang menghadap gelapnya kamar lewat tengah malam. Beberapa menit berdiam hingga jenuh dengan gelap, namun tidak juga ingin ditemukan terang. Tirai di samping kiri akhirnya disingkap untuk sedikit memberi hiburan bagi mata. Terlihat titik-titik berbagai warna dari lampu jalan, kendaraan, juga rumah-rumah yang terlihat kecil. Seperti bintang, namun di bawah sana.

Perjalanan hari ini melelahkan, namun syukurnya telah sampai. Sudah berminggu-minggu tidak melihatnya, menggantungkan pesan akan kembali pada secarik kertas yang terselip di antara lembar sebuah buku. Tidak ada pula pertanyaan yang diberikan, tidak ada pertukaran cerita. Ceritanya disimpan, untuk nanti bertemu.

Pertemuan yang saling menemukan. Mengikuti kemanapun waktu akan membawa, bukan ke tempat-tempat namamu disebut. Karena permainan kita tidaklah sesederhana yang dapat dibaca orang.

Saat itu terjadi, semoga lara menghilang. Membawa keberanian dalam menjawab berbagai tanya, di antara kata yang menjebak kita pada suatu malam di sebuah bulan.

Sekian.

Harap (19)

Kamu rindu diperjuangkan
Aku rindu menangis memerjuangkanmu
Bagai rasa yang tak punya ujung
Tak bisa berhenti meski sakit hati

Benar bukan aku yang kamu tunggu
Aku sudah lama tahu
Sempat satu hari senyummu memberi tanda
kamu tidak benar-benar kepadaku

Jemarimu sempat ku ukur
Sudah ku bayangkan simbol pengikatmu
Lalu kenyataan datang merangkul
Masing-masing kita disimpan untuk yang lebih baik

Satu-satunya yang tersisa dari kita adalah harap
Harapku yang belum sampai dari beribu malam lalu
Aku relakan kesenanganmu
Untuk diberikan pada cinta yang lain.

_

Rahmat Satria Bakker
(https://www.instagram.com/rahmat_satria/)