Pagi, Siang, Sore, Malam

Sore merah muda di Jakarta pada dua puluh Februari mencengangkan para pengguna media sosial. Mereka mengaguminya untuk dijadikan konten pada profile masing-masing. Menunjukkan ketertarikan pada keindahan alam, kegemaran pada kombinasi warna, atau sekedar ikut-ikutan agar sama seperti yang lain. Langit Jatinangor?

Aku gak tahu. Aku ketiduran setelah makan siang pukul empat. Terlalu lelah akibat kombinasi dari first day of period that got me craving for salty snacks all day, medium stage of headache, stiff back, and mood swing. Bangun-bangun, Spotify memainkan lagu Ephemeral dari album Bahasa Hati-nya Sandrayati Fay. What a sweet way to wake someone up, pikirku.

Kalau aku tidur, terlebih lagi kalau aku di Jatinangor, bagaimana tahu Sore merah muda di Jakarta?

Instagram.

Fitur Instagram Stories menampilkan foto dan video mereka yang mengabadikan langit Sore merah muda. Indah, batinku. Begitu banyak, sangat banyak Sore. Kemana semua orang saat Pagi menampilkan pesonanya? Mengapa langit Pagi terabaikan oleh mereka? Maksudku, bukannya langit Pagi tidak kalah indah? Masihkah mereka di alam mimpi? Atau sibuk memulai hari? Kadang kita terlalu mencintai suatu hal hingga melupakan yang lain.

Setelah mengagungkan, akankah mereka membenci Malam karena telah melahap Sore merah muda? Aku harap tidak. Jangan sampai hati untuk membenci Malam, karena Malam punya cara untuk juga indah seperti Pagi dan Sore.
Terkadang Malam tanpa bintang di atas, namun kerlap-kerlip dapat ditemukan di bawah. Pada lampu jalanan, lampu rumah, lampu kendaraan, lampu gedung, dan sumber cahaya kecil lainnya.
Terkadang Malam tanpa bintang di bawah. Biasanya keadaan ini membuat kerlap-kerlip sirius, canopus, arcturus, dan bintang lainnya lebih terlihat. Mewarnai kegelapan dengan caranya sendiri.
Terkadang, Malam sedang terang. Sisi atas benderang, sisi bawah tidak juga mau kalah.

Saat sore yang singkat sangat dihargai, Pagi yang cerah disyukuri, Malam yang gemerlap disayangi lewat pikiran-pikiran liar dan pertukaran ide mendalam, bagaimana dengan Siang?

Kadang Siang terlupa, karena terlalu sibuk mengurusi diri dan orang lain. Kadang juga sengaja tidak diperhatikan, karena hawa panas dan cahaya yang terik. Padahal mereka tidak mengerti akan kecintaan Siang pada dunia. Siang hanya memberikan apa yang dibutuhkan semua aspek kehidupan: cahaya, kehidupan, dan lainnya.

Siang dan Malam datang dari unsur yang sama: langit. Kesamaan mereka sebagai waktu yang paling lama menguasai hari, di satu sisi membuat perbedaan yang begitu signifikan. Namun, keberadaan Siang dan Malamlah yang menjadi pemeran utama dan saling melengkapi satu sama lain. Malah sebenarnya pemeran pembantu justru Pagi dan Sore, hanya lewat sebentar.

Mengapa kita terlalu fokus pada yang sekejap sementara yang utama sering terlupa? Manusia mencintai keindahan.

Maka, mungkin kita harus menemukan keindahan pada Siang dan Malam. Atau, menciptakannya sendiri.

Disadur dari:

screenshot_2018-02-20-20-21-37-398_com1816452416.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s