paham, kan?

“saya pusing lihat instagramnya, terlalu gelap”

jangan dilihat

“penasaran”

paham kan,

kegelapan yang ingin kuterangi,
kelemahan yang ingin kukuatkan,
kesedihan yang ingin kuhapuskan,
kesendirian yang ingin kuramaikan,
kekosongan jiwa yang ingin kuisi,
keruntuhan yang ingin kubangun,
kerumitan yang ingin kusederhanakan,
kesendirian yang ingin kutemani,
kebencian dalam diri yang ingin kulunakkan,
kebaikan yang ingin kubagi,
kebahagiaan lewat senyum dan tawa yang ingin kunikmati,
menyatu dalam orang yang ingin kusayang.

paham, kan?
paham, kan?

“iya paham.
semoga bijak.”

aamiin

Advertisements

A Letter: I’m Sorry I Don’t Know How to Say It in Person. You Also Know That I’ve Got Difficulty to Express My Deepest Feeling. So, Here It Is.

I guess the reasons why I don’t want to lose you and always be able to find you are because you’re capable to calm me down, to rationalize the non-sense in my head, to make me focus on our conversation only, diving into the depths, to keep me still, chill, yet thrill, to train me how to be patient, to sort out my chaotic thinking path, to encourage me to learn about anything because you know a lot of things and your knowledge tickles my curiosity. Above all, because you’re you.

We find ourselves at the edge of the fitted shape of hundred pieces of a jigsaw. Complement one another. I may be a blue wrapped in yellow, while you’re yellow wrapped in blue. Together, we can create green in both inside and outside of ourselves. The green color represents growth, nature, calm, and harmony. The communication in green describes us as well at points that tell to give time to think, to skip the “small talk”, to give the big picture then get into details.

Surrounded by the colors of calmness, there’s no need to rush. As long as we keep consistent and persistent on what and how we do to aim our purpose, time will do the rest. Though I can create my own happiness and overcome my own desolation, your presence contributes to quicken the recovery or heal the wound completely. Thank you for your existence. It’s just the beginning, learning about you is a lifetime subject I’d like to take.

P.s. I’m too, need to learn how to show and convince you that ‘this thing’ is real, to do something to make you feel the same way, without me pretending to be someone else, to keep me as genuine as I am, to behave serenely. I love to learn, then I will.

03:00

Bagaimana bisa, mereka tidak bersalah.

Bagaimana bisa kamu begitu mencintai sebuah bulan dan membenci sebuah yang lain? Padahal bulan hanya satuan waktu yang terdiri dari beberapa minggu.

Bagaimana bisa kamu begitu mencintai sebuah warna dan membenci sebuah yang lain? Padahal warna hanya refraksi cahaya putih yang diserap dan dipantulkan sebuah benda.

Bukan mereka yang salah. Mereka hanya benda mati yang tidak tahu-menahu tentang urusan manusia.

Mungkin

Continue reading “Bagaimana bisa, mereka tidak bersalah.”

Stubborn-Hearted: Ponco

Gue selalu percaya sama quote

“Magic happens when you do not give up, even though you want to. The universe always falls in love with a stubborn heart.”

Karena saat lo menyerah, tandanya harapan lo gak sebesar itu untuk menjadikan lo layak mendapatkannya. Quote tersebut tiba-tiba terpikir lagi setelah baca cerita perjalanan Ponco untuk menjadikan dirinya seperti apa yang ia mau. Ponco mau jadi jurnalis musik. Ia bercita-cita jadi jurnalis musik karena suka musik dan ingin punya dampak positif di dunia musik. Setelah banyak main, banyak ide bermunculan. Berawal dari datang ke gigs gratisan, foto-fotoin yang tampil, edit, lalu diunggah ke media sosial untuk senang-senang. Apalagi kehadiran foto-fotonya dilihat, dikomen, direpost oleh musisi tersebut. Dari apresiasi itu, semangat semakin menggebu.

Harapan Ponco gak disimpan sendiri, tapi ia bagikan. Gak lama, ia mendapat berkah dari berbagi harap. Seorang teman membukakan jalan dengan jempol, cuma modal mention tentang lowongan fotografer. Pilihan harus selalu dibuat, pertimbangan dipikirkan, antara kenyataan dan keinginan. Lowongan fotografer gak dibayar, capek ngabisin waktu di jalan dan di tempat kerja, tapi tempat kerjanya asik karena bisa masuk ke acara musik kecil maupun gede dengan gratis. Setelah merelakan tenaga dan uang yang terkuras untuk menjalani itu semua, ada hal-hal yang gak harus pake itung-itungan logika. Kepuasan, link kerja, pengalaman, dan lain-lain.

Lagi, Ponco berbagi kesenangan dan kesedihannya dengan tetap mempertahankan keinginan yang sangat kuat. Di situ, jalan terbuka. Keterbatasan gak punya kamera bukan lagi keterbatasan, karena ada tangan-tangan yang mau bantu meminjamkan. Sehari dua hari, sekali dua kali. Dari hal-hal yang telah ia jalani, waktupun membawanya ke tingkatan yang lebih tinggi. Ada yang menawarkan magang di salah satu website musik besar, yang ternyata ada di bawah naungan dapur rekaman besar pula, yang dikelola oleh salah satu band pop-jazz yang mewarnai musik Indonesia dari belasan tahun lalu.

Ponco sadar, masa depan yang sebelumnya kabur, kini mulai jelas. Ia paham sama apa yang ada di hadapannya, gimana caranya agar ia semakin bisa mendekatkan diri sama apa yang diharapkan. Ini masih perjalanan, bukan sebuah akhir. Tapi dengan harapan yang begitu besar tertanam di hatinya, semesta meyakini bahwa seorang Ponco Iskandar akan layak mendapatkannya.

Desa Kaki Gunung: Geen & Buroi

Sawah pukul enam tiga lima mendapat sinar matahari yang muncul dari balik gunung. Sinar tersebut memberikan orang-orangan sawah sebuah teman untuk diajak berbincang menikmati pagi: si bayangan besar. Buroi, ia dinamai. Geen si orang-orangan sawah sudah dua bulan berdiri dengan pegal di tengah sawah. Kadang ia mampu mengusir binatang-binatang nakal yang sekedar lewat, namun habis oleh binatang-binatang lokal tak beradab yang sengaja datang untuk menggodanya.

Continue reading “Desa Kaki Gunung: Geen & Buroi”

A Poem

To celebrate the World Poetry Day on March 21st, my best-not-so-like-to-celebrate-anything-friend offered to make me a poem. She asked the theme, then I gave her some words to use to make her less complicated in making the poem. One day later, she gave me the link to her poem. So, here it is

Tikam Menikam

Dear Acha,

stop trying to make sense of everything. There are things that just don’t make sense and they are okay. They exist not to be understood. You have to accept them as they are. As you said, acceptance is the key. So this time, please try to live with the no make sense. As Linda Schell said on Extremely Loud& Incredibly Close

No matter how hard you try, Oskar, it’s never gonna make sense because it doesn’t. It doesn’t… make… sense!”

cherio!

Perpus Fikom, Jatinangor, 13:29

Transaction

Human connection is about a transaction. We want or need something and the others can provide so we stick with them. As simple as we need to talk about school, then we contact our classmate. We want to play around the city, then we contact our friend. We need to be understood, we contact our best friend. We need to feel secure, then we ask our close people how they are feeling/are they good/have they take lunch. If they can’t fulfill our needs, we tend to find another way to fulfill it. It could go with someone else, go by ourselves, or wait for them to be available. While we’re waiting, we could do other things to distract our boredom.

Continue reading “Transaction”

Semesta

Sebagian orang takut untuk memulai
Sebagian lagi takut untuk mengakhiri

Tapi bukankah hidup itu tentang mulai dan berhenti, awal dan akhir? Lalu sepertinya hidup dipenuhi rasa takut, apa tidak lebih baik mati?

Tapi hidup tidak sesederhana itu, dan takut adalah yang membuatnya tetap hidup. Ketakutan ada karena ia tidak ingin mati, kata yang lain

Siapa yang membuatnya begitu runyam, tanya ia yang tidak senang

Manusia,
dan semesta.

Easton Park, Jatinangor, 07:56