20-ish

a brief contemplation on a wooden chair in a small-yellowish-white coffee shop, waiting for my fish and chips to be served. written in warm summer mood. when it finally served:

2018-05-01 05.38.01 1.jpg
Fish and Friends, 30k, KUNST House Jatinangor

you’re an awful liar if this tasty look isn’t mouthwatering for you.

Continue reading “20-ish”

Advertisements

Minggu Pagi

000009
Though there is Sad in his (user)name, I wish for his heart to be happy.

Pertemuan gak sengaja di minggu pagi dua dua April waktu setempat.
Sempat terucap cerita tentang rollfilm yang udah lama mengendap dalam film chamber. Cerita lain tentang pertama kali mengeluarkan kamera tersebut dari lemari papa, tapi gak dilanjutkan. Saat itu 2013, orang-orang masih sibuk dengan kamera digital dan polaroid. Cuci scan waktu itu hanya satu di kotaku, tempat-tempat yang aku tahu dulu, udah gak lagi melayani hal semacam itu. Aku tertarik mengoperasikan kamera papa karena ingin menghidupkan ketidakberadaannya. Berbekal buku panduan pengguna dan informasi dari internet, aku memotret sesukaku.

000010

Lalu ia bertanya, “Kenapa berenti?” Setelah berpikir sebentar aku menjawab, “Kenapa ya, karena gak ada temen yang bisa sama-sama ngelakuinnya kayanya.” Waktu itu analog gak hype samsek, beda sama sekarang. Kayaknya cuma aku yang tertarik di sekitar, jadi aku takut sendiri.

000021

Ditarik sedikit ke belakang tentang gambar. Pernah aku cerita tentang alasan dulu mau punya kedai kopi. Karena suka vibe yang tercipta dari interior design-nya. Meskipun bervariasi, kedai kopi punya kecenderungan interior yang sama, menghasilkan vibe yang sama. Karena harum kopi yang menguar memenuhi ruang, entahlah. Dari situ pernah tertarik mau jadi interior designer. Pernah juga waktu kecil terpikir untuk jadi arsitek karena suka gambar-gambar bangunan. Tapi itu semua dipinggirkan karena satu hal: takut disuruh gambar. Aku cuma bisa gambar stickman.” kataku waktu dulu.

000025

Lalu ia bertanya, “Kenapa gak dilatih lagi?” Aku menjawab “Gapapa, ngerasa jelek aja.” Setelah itu ia menunjukkan dan membicarakan tweet Wahyu “Pinot” Ichwandardi yang juga pernah aku lihat di linimasa Twitter. Tweet tentang gak usah takut dibilang ABCD, gambar ya gambar aja. Kalau ngerasa jelek, latihan lagi sampai bagus.

000024

Obrolan tentang gambar itu muncul dari obrolan tentang peta imajiner, yang dibahas karena kami punya dunia ciptaan masing-masing. Aku dengan huruf-huruf United States of Acha yang sekarang berubah nama jadi Achalandia, per 3 Januari 2018. Ia dengan The Known World beserta segala huruf (yang masih coba aku pecahkan di waktu luang), sejarah, karakteristik masyarakat masing-masing negara, dan tempat-tempat pentingnya.

000014

Lalu aku bercerita sempat ingin buat kata-kata khusus, udah bikin kamus sendiri tapi kata yang terkumpul masih sedikit dan menyadari ‘kata-kata’ terlalu banyak, ingin bikin peta negara sendiri tapi Achalandia terlalu kecil dan gambarku terlalu jelek jadinya gak jadi. Takut gak bisa memuaskan khayalan sendiri. Lalu ia menunjukkan semuanya.

000013

Aku baru sadar, ia mengingatkanku pada hal-hal yang dulu aku suka, tapi terlalu takut untuk mengembangkannya karena ini dan itu. Mungkin aku terlalu mendengarkan apa kata orang lain. Mungkin aku terlalu terpaku pada pemenuhan harapan orang lain. Hingga secara sadar maupun gak sadar, menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang aku sukai, yang ternyata ia lakukan dengan sangat baik.

000012

Permainan hidup yang dikendalikan ketakutan. Lalu mencari alternatif dengan bermain aman, mencari hal lain yang bisa dan menyenangkan untuk dilakukan hingga ketakutan dan hal-hal yang menempelinya terkubur menjadi kenangan.

000008

Lalu seseorang datang, membangkitkan kembali ketakutan yang terkubur dalam bentuk baru, sebuah harapan. Harapan akan kemampuan untuk melakukan apa yang selama ini takut dilakukan. Seseorang mengubah sebuah takut menjadi sebuah harap.

000007

*Minggu pagi ingin beli ikan cupang sekaligus ngabisin rollfilm karena kata seorang teman, “Mending filmnya diabisin dulu, baru lensanya kamu bawa ke tempat yang bisa bersihin jamurnya.”
**Ini rollfilm ketiga yang di-develop sejak 2013, hasil foto dengan lensa berjamur ngasih efek yang unik
***”Selama gak merugikan berbagai pihak, lakuin aja apa yang mau dilakuin. Tapi selalu berkembang biar yang dilakuin gak cuma sekedar. Minimal, bisa ngebanggain diri sendiri.” – Acha, 2018
****Itu rambut cepet panjangnya, pake sampo kuda apa gimana?
*****Jadi, akan ada kejutan apa lagi?

 

Simple-Minded

Seorang yang pernah menjadi Hampir, belakangan ini berkata tentang sifat saya yang simple-minded. Berawal dari komentarnya tentang tokoh film yang saya pasang sebagai foto profil, saya dan ia mencari kesamaan antara saya dengan tokoh itu. Lalu tercetuslah gagasan “Lo sama-sama simple-minded. Kayak seeing thing as it is gitu loh.” Saya kaget dinilai seperti itu. Kaget kagum dan kaget lega.

Kaget kagum, mungkin ini agak narsis tapi saya kagum pada diri sendiri. Bagaimana saya berhasil membuat diri ini terlihat simpel seperti yang selama ini saya usahakan, tanpa telihat berusaha, tanpa saya rencanakan dengan alam sadar, tanpa harus berpura-pura, tanpa harus membohongi diri sendiri. Saya sendiri gak tau gimana caranya, tapi yang jelas penilaiannya akan simple-minded ini membuktikan bahwa ia gak mengenal saya. Selama beberapa bulan yang ia tahu hanya permukaan saja, ia tidak mau repot menyelam.

Kaget lega, yang berhubungan dengan penjelasan di atas. Akhirnya karena kebingungan dari penilaian tersebut, saya bertanya pada sahabat yang telah mengenal saya dalam hitungan tahun. “Apa yang kamu pikirkan tentang aku yang dinilai sebagai orang yang simple-minded?” seperti biasa, jawabannya menunjukkan siapa ia di hidup saya. Seseorang yang mengenal dan mengerti. For me, you’re not a simple-minded, but you’re better than others in simplifying things.

Saya bukan bermaksud menilai simple-minded sebagai hal yang jelek, toh saya juga berusaha menyederhanakan kekompleksan yang bahkan terkadang suka impulsif, dalam pikiran saya. Saya hanya… Ya itu, bangga dan lega. Bangga pada diri sendiri, karena terlihat sebagai orang yang simpel dan lega karena ia yang tidak bisa memahami dan tidak berusaha untuk memahami, hanya menjadi Hampir.

Kecenderungan yang Kurang Tepat, Tergantung pada Perspektif

Beberapa hari lalu setelah berkontemplasi dari hasil mempelajari agar lebih mengerti seseorang, sebut saja si A, tercetus sebuah kalimat yang dapat diaplikasikan ke berbagai pihak dan dalam situasi yang beragam: “kita cenderung memperlakukan orang lain dengan cara bagaimana kita ingin diperlakukan dan/atau cara yang kita ketahui, bukan memperlakukan orang lain dengan bagaimana mereka ingin diperlakukan dan/atau cara yang mereka ketahui.” Kalimat ini muncul setelah adanya penjelasan singkat hasil ngobrol-ngobrol tentang kerjaan. Lalu obrolan meluncur ke berbagai individu yang terlibat dalam kerjaan tersebut, lalu pemimpin diskusi mendeskripsikan cara memperlakukan si A saat ia sedang tidak dalam mood yang bagus. Kurang lebih kalimatnya seperti ini,

“Kalau lihat teman saya yang itu diam saja dengan muka ditekuk, gak usah digubris ya. Ngomong seperlunya aja, diemin aja, nanti malah kamu yang kena semprot. Dia emang begitu, bukan kamu yang salah kok, jangan diambil hati ya. Nanti juga baik sendiri.”

Continue reading “Kecenderungan yang Kurang Tepat, Tergantung pada Perspektif”

I’m a type who always trying to keep my happiness steady, who lights my own life and people around, who tries so hard to be as simple as I could tho I know I’m not. Perhaps that’s the reason why your complexity, pull me to you. It urges me to be your sun, but you love darkness. So, I’ll be a dim light instead. But morning has to rise, it’s a time when I’ll turn to be a sun and you go out from the cave to embrace the lights. Till the time when you’re ready, let’s be ourselves.

Ia terlalu banyak berpikir

2018-05-07 03.50.34 3.jpg

Seperti jauh namun ternyata dekat
Serengkuh dua rengkuh dari genggaman
Sesuatu menahannya dari beragam kejadian
Suatu dinding yang ia sebut sekat, yang tidak terlihat

Pada pagi menjelang siang yang terang
Berhembus angin sejuk yang membingungkan
Dengan tonggeret tanpa lelah bersahut-sahutan
Tidak kalah dengan deru mesin serta sirine kendaraan di bawah sana

Semua terlihat dari atas, dari tempat ia berdiri
Memandang kota dengan warna yang menyejukkan mata
Menikmati punggung dan bahu yang polos dibelai angin
Memeluk dada yang dingin mencari hangat

Ia kembali berkelana, dengan pikirannya
Merasakan suasana film Perancis bergenre drama
Merasakan suasana film Cina bergenre romansa
Merasakan suasana film Jepang bergenre remaja
Merasakan suasana film Amerika bergenre indie
Merasakan suasana film Inggris bergenre aksi
Merasakan suasana film Thailand bergenre misteri
Merasakan suasana film Korea bergenre musik
Merasakan suasana film klasik animasi

Bahkan saat ia tenggelam dalam pikiran, rasa
Tetap memainkan peran besar dalam alur berpikir
Kadang ia tak habis pikir dengan dirinya
Semua berawal dari rasa,
Saat rasa memberat dan tidak lagi membuat bahagia,
Ia lari pada pikiran untuk membantu membahagiakan rasa.

10:05
Pintu balkon 2133B

atau tidak perlu sekat

No need for weed, your presence plus serotonin and your absence plus caffeine were affecting my body in the same way. I’m flying high, high enough to touch the imaginary ceilings because I’m not that high to touch them with bare effort.

Comparing Tuesday night and Thursday night.

Circadian got hijacked by thoughts for 41 hours.

this little bird

this free little bird needs a cage.
because it needs something to hold it still, to calm its wildest ideas, to reassure the unsure, to give a clear border to limit itself, yet it doesn’t want to feel caged.
because it is feeling sad, the sadness that comes from a tiredness to wander everywhere, to wonder everything, to go to exciting places where it can’t see the end.
the end, may not seen as something dreadful. it may seen as something to make the little bird feel enough. and being enough is enough. enough to be content with itself, to feel safe, to make others happy, to help wholeheartedly, to give the best of it to the society or simply to the significant.

A Fantasizer and the Distractions

I was born to be a fantasizer. A hardcore one. A super flexible adherent of positivism who tries to grasp and question the meaning of nothing (that tells everything). I wasn’t born as a thinker, tho I’m a feeler. Lately, I’m driving in so many thoughts than before. Even, I’ve experienced five different big ideas in a day. Imagine how many sub-ideas, extended ideas, and possibilities that followed after them.

There are some reasons why this condition happens. It could be my last-year-of-college vibes that so intense, sometimes I could throw up. The fact that my friends also busy with their problems and priorities, make me feel alone. I do have them to laugh with, but I don’t have the heart to share my restlessness. Or perhaps, because I know they are only willing to hear, not to understand. I’m unique and I’m fully aware of it that common people can be overwhelmed by my uniqueness. In that moment of sadness, I have no will to explain. But somehow, explaining eases.

Another reason, I met someone interesting and precious enough to explore this huge universe with. The feeling that attached to who he is, neither about his physical nor wealth. I’ve fallen many times, but this one feels different. It feels genuine. Who the hell wants to slip someone that actually able to get you, someone who listens, who magically has same thinking path, who makes you feel like you find the half of you in him. Tho we act in different traits, it feels like knowing him is like knowing myself. That’s cute. He’s the one I’d like to dive.

But, the fact that he is wrapping someone else in his mind, it feels sad, yet funny. Funny to think about the pattern: I’m into him, he is into someone else, that someone else I’m trying not to care about her details, because I’m afraid to get bitter facts about them. To overcome the sadness, I began to find distractions. Then all my free time makes me have moments to over-feel then it leads me to over-think. So, the pattern I’m in is:

Once I fell, I fell hard, deep, and subtle (as I didn’t recognize “that feeling” at first). If some unpleasant things happen, I become unhappy. To keep the harmony in my mood, I need to find distractions for my feeling. So I look for another activity, another challenge to forget what I’ve felt. From the amusing activities, I’m drowning myself to them. Yes, it could help to boost my mood, trigger the dopamine and serotonin in my body. But, while swimming and find a boulder or irritating gravels, I try to find a way to smash the obstacles. Unfortunately, they lead me to another stress. To distract my stressing obstacles, I try to see another perspective. Somehow that new-way-of-thinking leads me to another amusing topic to think about.

My mind seems to get used to my flooding ideas. Sometimes, the ideas stifling my thinking bandwidth while I need to focus on a group of priorities. It’s so confusing yet thrilling. Jump from one stress to another, but the stresses are overwhelmingly sweet. They make me feel alive. Yea good luck for me, then.

Perpus Fikom, Jatinangor, 09:45