Takut Terlupa

Katamu, sudah bulat tekad ingin pergi. Entah untuk berapa lama. Tapi kamu memang tidak ingin kembali ke kota di mana keluargamu berkumpul. Di mana mereka telalu menekan, telalu sibuk dengan ego masing-masing hingga kamu merasa tidak dipahami. Tapi jujur, rencana kepergianmu terus menghantuiku. Memunculkan segala ketakutan akan kemungkinan yang dapat terjadi.

Sebuah pertanyaan pada suatu malam, membuatku memikirkan kemungkinan bahwa kamu tidak akan kembali. Dari awalpun, saat rasa ini belum kusadari, aku beberapa kali berkata ingin selalu bisa menemukanmu. Di manapun kamu, sebagai apapun kita, aku ingin menjadi orang menjaga dan dijaga hubungan baik, kedekatan, pengakuan pribadi, yang akan selalu abadi.

Pernahkah aku bercerita tentang Someone Like You-nya Adele yang pernah aku hindari hingga 2015? Sekarang, lagu itu jadi masuk akal. Bila aku tidak layak untukmu, pun begitu kamu untukku, aku berharap bisa menemukan orang sepertimu. Karena si orang sepertimu mungkin memiliki hal-hal yang aku kagumi, yang aku inginkan, yang membuatku menemukan diri sendiri, dihargai, dimengerti, didengarkan, dipahami, diterima dalam satu waktu, hal yang tidak pernah aku temukan di orang lain. Namun, adakah orang sepertimu?

Kamu pernah bilang ingin menemukanmu versi wanita. Aku bilang bahwa kamu hanya satu, yang mirip ada, tapi bukan kamu. Kita akhirnya menyamakan persepsi tentang hal itu. Maka aku ingin, jika bukan kamu, bisa menemukan versi pria yang mirip dengamu. Jutaan bahkan miliaran manusia di muka bumi, aku yakin akan ada satu atau dua yang sepertimu. Namun, bisakah aku menemukannya? Hanya untukku? Untuk jadi milikku?

Hal yang paling menggaggu mungkin bukan fakta bahwa kamu akan pergi, namun hal yang dapat terjadi setelahnya. Aku takut dilupakan. Bukanlah hal mudah untukku yang selalu menjaga hubungan dengan mereka yang berharga, memikirkan jika aku akan menjadi orang yang terlupakan, oleh kamu yang telah menempati posisi kuat dalam hidupku. Bila terjadi, hal tersebut akan jadi kehilangan terbesar untukku. Kehilangan sebagian diriku yang bersemayam dalam dirimu.

Untuk sekarang, aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Biarlah rasaku padamu tetap menjadi rasaku. Kamu hanya perlu tahu bahwa ada yang peduli padamu, tanpa perlu ikut pusing memikirkannya. Tidak lagi aku punya kekuatan untuk berharap dibalas. Ingin, tentu. Tapi aku simpan dalam-dalam agar harap tidak bisa menyakitiku.

Aku sadar, memang tidak semua dapat berjalan atas mauku. Tidak juga aku bisa mengatur-atur hidupmu. Karena bisaku adalah mengatur hidupku. Tapi tolong, untuk hal ini, sekali ini, aku sangat berharap pada yang ini. Jangan lupakan aku.

Advertisements

Mari Bercerita

Kalau rindu harus apa?

Rindu saat kamu masih punya banyak waktu luang
Rindu saat aku belum dipusingkan dengan bab-bab yang harus diselesaikan
Rindu saat kamu duduk dengan tenang membaca buku
Rindu saat aku tiba-tiba bisa menemukanmu di kedai kuning atau cokelat
di meja dengan dua kursi atau di bar
Rindu saat kamu berbagi segala pengetahuan yang baru dipelajari
Rindu saat aku dengan semangat mengeluarkan pertanyaan dengan takjub
Rindu saat kamu menceritakan hal-hal terdalam
Rindu saat aku semakin menemukan persamaan antara kita
Rindu saat kamu ingin dimengerti
Rindu saat aku ingin didengarkan
Atau kebalikannya.

Jadi, kapan kita bisa melakukan itu semua lagi?
Katamu, harus sabar.
Katamu, tidak boleh berasumsi.
Kataku, things take time and we’re all will be okay.

Maybe, your “someday” is almost here.

 

Menangislah, tidak apa-apa

Malam minggu di Jalan Riau, seorang sahabat bertanya padaku tentang apa dirinya sebenarnya. Apakah ia titik, koma, sekumpulan paradoks, tanda tanya, atau apa. Aku bingung harus jawab apa. Bukan karena ia bukan siapa-siapa, tapi karena aku gak bisa menemukan kata yang cocok untuk konteks yang ia maksud. Jadi aku hanya menjawab, “Aku gak tau, yang aku tau adalah aku nyaman berteman denganmu. Berbagi cerita, menertawai dunia, dan lainnya.” Ternyata ia memikirkan hal tersebut, terutama pertanyaannya yang belum terjawab. Ia mengunggah fotonya yang diambil olehku, lalu menuliskan caption yang kurang lebih sama dengan pertanyaannya. Aku memberi komentar. Lalu ia menge-chat via LINE, “Ku menangis baca komen ig mu,” katanya.

IMG_20180920_192331.jpg

Beberapa jam sebelumnya, Continue reading “Menangislah, tidak apa-apa”

Stubborn-Hearted: Miwa

Miwa, seorang teman dari zaman putih biru, yang supel, asik, rendah hati, selalu up-to-date, terlihat stunning dengan dunianya sendiri, karena ia berani berbeda. Masa bodoh orang mau bilang apa. Ia membuat, minta pendapat, mencoba lagi, belajar lebih, berhasil, berkembang. Dikenal sebagai anak foto dan anak baking, Miwa seperti top of mind dalam bidang tersebut di antara anak-anak sekolah.

Keputusannya mengambil STP Bandung mengagetkanku dan beberapa teman. Maksudku, pilihannya termasuk berani. Di saat orang-orang terobsesi masuk PTN, Miwa dengan yakin mengikuti kecintaannya pada pastry. Rasa cinta ini berawal dari kebiasaan melihat sang Mama membuat kue sejak ia kecil dan tayangan Ibu Sisca Soewitomo di televisi. She knows what she loves, then she do it wholeheatedly. “My ambition isn’t on what I will accomplish in pastry culinary, but what I can share to people through my pastries.” 

Untuk itu, ia mulai membuat kue dan dibagikan ke teman-teman saat SMP, khususnya yang ulang tahun sambil coba-coba berbagai resep. Saat SMA, selain bagi-bagi kue per slice ke berbagai kelas, Miwa juga mulai berjualan cupcakes bersama teman yang se-passion. Segala hal untuk mengembangkan keahlian ia lakukan. Dari tutorial di YouTube, buka buku-buku resep, lihat majalah, sampai menyiapkan diri untuk masuk STP Bandung yang tentu tidaklah mudah dan sederhana.

Tantangan sebenarnya ia temukan setelah lulus. Pinsip kuat dengan pernyataan “I can’t keep up with others’ standard because I have my own rules.” (dasar scorpio haha) ternyata melatihnya lebih keras. Kendala bahan dan alat yang serba mahal membuatnya memutar otak untuk bisa memenuhi itu semua. Belum lagi keinginan untuk belajar lebih yang butuh lebih banyak biaya, membuat Miwa harus pintar-pintar mengatur keuangan. Ditambah ego “Gue udah lulus, udah gak boleh ngerepotin orang tua,” juga melanda quarter life crisis-nya.

Namun ia percaya, ini semua adalah jalan untuk menjadi Miwa yang lebih besar lagi nantinya. Seorang Miwa yang punya cakeshop sendiri, dengan staff yang akan memproduksi resep-resep unik buatannya hingga cukup untuk banyak orang, resep yang akan membuat mereka bahagia dengan cerita yang dibawa dalam sebuah kue. Agar ia tetap dapat mengurus hal yang lebih penting dari semua pekerjaan di dunia; mengurus keluarga. Dengan motivasi dari sebuah hadist,

Allah berfirman:
“Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [H.R. Turmudzi]

ia selalu percaya ada hikmah di balik setiap kegagalan, ada hikmah di balik segala kejadian, yang baik maupun yang kurang baik.

“Kerja keras. Kerja cerdas. Kerja Ikhlas,”-lah yang mendasari setiap keringat yang ia keluarkan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terus berjuang, Amira Qisthina Arindra.

Self-Love

A good friend of mine, named Annisa Tiara, posted series of Instastories on her account about self-love. The positive topic to think about for today, makes me feel at ease. Though the points she talked about can be appended or tolerated based on each person’s condition, in general it’s inspiring and motivating.

Woke up at 06:30 from a deep sleep and delusive headache after diving in thoughts about abstract concept of life, time, affection, grieving, and the possibility of the future. The thoughts came like a storm after hearing a heartbreaking news about another good friend’s sudden heavy-loss. The thoughts got deeper after I saw her crying in my embrace, when my friends and I brought her bag and luggage.

So, these are some points from Nisa’s May 2nd Thought of The Day I scripted:

1. Because loving yourself is hard
We like getting compliments as a human being because it justifies ourselves, our existence. That makes us feel desirable, because we don’t love ourselves basically.

2. Because loving yourself is hard
Another reaction is when you say to other people that their compliment is bullshit is obviously the result of you not loving or appreciating yourself as much as other people.

3. Accepted by society
Then to any compliments, like other normal human beings, our reactions probably “Thank you” and just to stay humble because we want to be accepted as a normal people within our society.

4. Us vs society
Because “The feeling of acceptance is the basic need of human beings,” says Abraham Maslow. But then, it’s really funny or ironic that we let other people accept us but we don’t accept ourselves.

5. Lack of self-love
Therefore, it makes perfect sense why we tend to make other people our home. And when that person leave, we feel like shit. Because basically we lack of self-esteem and self-love.

6. The point
You have to be able to love yourself independently before you start loving other people, because you have to make a home for yourself.

All rights reserved, Annisa Tiara Yuherawan, 2018

Di Altar

Sebuah iseng berdiri di atas sofa, di bawah lampu sorot ala ala, dengan penekanan suka-suka, berbuah rekaman suara.

Salam,

tiga pagi.

May Day

Pernah liat dokumentasi kegiatan di @POST_santa tentang menulis suka-suka berupa puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang merupakan interpretasi dari photobook berjudul InTransit:23 karya Fransisca Angela. Ketertarikan itu aku bagi di twitter dan coba minta dikabari kalo ada yang punya photobook untuk dipinjam. Karena gak ada yang bilang-bilang, akhirnya terlupa. Kemarin (30/4) liat ada photobook Diana F+ More True Tales & Short Stories di KUNST House. Setelah izin sama Galih (sebagai empunya) untuk dibawa balik ke kosan, aku berencana merayakan Hari Buruh ini dengan bikin puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang terinspirasi dari photobook. Ini bukunya:

2018-05-02 07.04.48 1.jpg
Society of Lomographers. Diana F+ : More True Tales & Short Stories. 2007. Vienna: Lomographic Society International.

Gak semua foto dikembangkan, hanya beberapa yang menurutku menarik:

Continue reading “May Day”