heard some statements about his reasons why he did what he did to me, didn’t give any closure on how to stop the feeling i own. instead, i laughed after finding our similar traits and tendencies that seem almost identical. guess i need alone time to make up my mind, to discuss the sensitive topic with myself. after this friday, indeed.

Advertisements

the stare

the stare that checked people around
the stare that checked if i was truly happy
or tried to look happy
the stare that confused me

the stare that answered my questions
later

with a bitter fact
and some
other facts
about one’s
confusing
unidentified traits

the stare that made me
truly
wanted to
looking everywhere
to walk beside
the owner of the stare

the one who
deeply
care

like i do


one dry afternoon, crowded parking lot turned into a place where people gather to take pics, to be fully happy about one’s achievement. where good times happened, wtf the next.

while i was trying my best to humanizing my closest people, take them deeply, listen to them carefully, be there for them happily, the one that i put my focus into, perceived me seeing him as a puzzle, a thing. once the mystery solved, it’ll be over. i didn’t see him as a person, he said.

well, i do see him as a puzzle but not a thing. it’s a metaphor, you know. like i’m a puzzle that can be completed by his puzzle self. like my and his every edges are meant to be clicked just how it is. seeing someone as something you can play then leave is harsh and shallow, where is the humanity lies within it?

his statement do hurt me. as the one who tries to appreciate the existence of oneself, disregarded by the one who couldn’t accept the presence of my feelings, by seeing me as superficial, let me down. not only i feel like losing my worth, but also making him disappoint to have such a wrongful idea about me.

well, perhaps he just didn’t like me to care about him and tried to find a reason to refuse a pleasure of being loved.

Find and be Found

“You need to find the person who talks with the same language. The one who understands or try to understand the way you talk about everything. Not only to support in some cases, but also to give another side to enrich yours, to reach the wholeness as a person, to find the best of the best perspective. To create a suitable perception in seeing an issue, to find the solution in facing life ahead. The one that’ll make you feel accepted, completed, accompanied, able to grasp the meaning behind your traits, revise your attitude to improve you and your relationship with the society, retrieve the broken you. The one that’ll make you do the same things to him/her.”

– Tafia

pintu kuning berderak membuka, ia masuk membawa suka dengan gelas plastik kosong dan jubah merah terlipat di dalam kantong biru tua. sudah lama tidak melihatnya. terpapar perasaan bahagia dalam menyambut hari besar prosesi kelulusan, yang ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun. tidak menyangka akan bertemu, padahal hanya ingin melakukan transaksi dengan seorang teman.

mari, anggap saja hadiah menunggu.
siapa suruh mengasingkan diri begitu lama
sudahlah, memang butuh, jangan didebat.

rindu rindu rindu

 

The Royal Tenenbaums dan Arti dari Kenyataan

Beberapa minggu terakhir ini saya mengurung diri di gua. Gua yang dimaksud adalah ruang pribadi di mana saya dapat sendiri dan fokus untuk mengerjakan yang harus dikerjakan. Pernah saya coba ikut teman untuk menatap laptop dan membiarkan jari menari di atas tuts-tuts penuh huruf and angka, di salah satu toko donat 24 jam. Nyatanya, tidak bisa. Terlalu banyak distraksi seperti suara pintu geser, orang datang dari arah belakang, orang datang dari arah depan, ingin menoleh ke seberang jalan untuk sekedar melihat siluet dan bertanya-tanya manakah siluetnya.

Saya membatasi pertemuan, di mana hanya mereka yang saya yakin tidak akan menyebabkan gejolak dada dan perut, dosen, pihak yang berkepentingan, dan mereka yang meminta untuk bertemu. Saya membatasi kegiatan, informasi, juga topik-topik yang dapat memicu excitement saya. Pembatasan ini dilakukan karena saya sadar bahwa saya mudah terdistraksi dan mudah berubah mood. Lalu, pengetahuan baru akan diri sendiri muncul: semakin saya berusaha fokus, otak saya semakin ramai dengan fantasi yang masuk akal maupun yang tidak, dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak mampu jawab sendiri, serta kemungkinan yang dapat terjadi dari nilai 0,5-100. Bila tidak dikeluarkan, rasanya akan sangat tidak nyaman. Maka terkadang saya limpahkan ke twitter, lalu nanti dihapus.

Jadi jika saya ramai di timeline dengan fantasi, bukan berarti tidak ada kerjaan. Saya menenangkan otak saya agar tidak meledak jadi partikel warna-warni berkilauan, agar tidak kepenuhan hingga membuat sesak atau tenggelam di dalamnya. Mudah membuat saya tidak sesak dengan mengalihkan fokus ke hal lain, tapi saya sedang tidak bisa tenggelam.

Berlebihan? Tentu, saya juga sadar. Ini baru bagi saya. Saya pernah berusaha sesantai biasanya, sesantai waktu itu, namun tidak mempan. Setelah ditelaah, memang ritme hidup saya sudah berubah dibanding masa SMA. Maka, perlakuan pada diri sendiri juga ikut berubah.

Wall of thoughts, will be more than this i guess

Setelah merasa lelah bila harus menghapus-hapus tweet, saya belajar untuk membuat catatan-catatan agar selanjutnya saat berkesempatan, dapat diakses kembali untuk dicari jawabannya. Agar tidak tercecer, catatan-catatan tersebut saya tempel di tembok. Namun, dua minggu terakhir ini agak berbeda. Setiap kembali dari kampus, saya selalu menyempatkan diri untuk menonton satu atau dua film dan mulai menyentuh novel.

Salah satu pertanyaan yang menggantung, yang tiba-tiba muncul kembali setelah nonton The Royal Tenenbaums:

Mengapa saat seseorang mengalami kesulitan suka ditanggapi dengan “Welcome to the real world!” seakan realitas atau kenyataan berisi hal-hal tidak menyenangkan, menyedihkan, menyulitkan.

Jadi, apakah harus mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan untuk masuk atau berada dalam sesuatu yang dianggap nyata?

Setelah nonton film besutan Wes Anderson tersebut, saya agak sedikit lega. Diceritakan bahwa Chas, Margot, dan Eli punya masalahnya masing-masing. Sampai Margot yang menyimpan banyak rahasia, akhirnya terbongkar juga.

Ethelene: but I think he’s been very depressed.

Margot : so am I.

Saya agak lega bahwa film ini dapat menggambarkan bahwa semua orang punya masalah, ceritanya mengalir tentang hidup yang tidak melulu baik. Film ini menceritakan tentang ‘kegelapan’.

Begini: kalau selama ini kemalangan dianggap sebagai kenyataan dan kebahagiaan merupakan hal yang fiktif, film ini fiktif dan menceritakan tentang kemalangan. Jadi, kebahagiaan (seharusnya) dapat pula dianggap sebagai suatu kenyataan.

Hal ini berhubungan dengan pertanyaanku ke Syifa, seorang sarjana psikologi yang sedang berusaha mewujudkan mimpi untuk meneruskan kuliah di luar negeri (IYA KAMU BISA AKU YAKIN, SEMANGAT YA!), pada Mnggu pagi kemarin:

“Aku kan mudah seneng. kemarin baru sadar ternyata kesenanganku bisa tumbuh dari memori dan imajinasi. memori dan imajinasi itu kan gak nyata, tapi efek yang ditimbulkannya nyata. tau nyatanya karena bikin aku semangat, berenergi, jadi mau aktif dll. tapi sempet mikir juga apa jangan-jangan rasa seneng yang dirasain itu gak nyata. selama kamu kuliah, pernah ada penjelasannya ga tentang itu? aku mau nyari di Google juga bingung keywordnya apa.”

Kesadaran ini cukup mengganggu, karena akhir-akhir ini saya sangat kesal jika disikapi dengan tidak serius. Maksudnya, saya sampai merasa bahwa saya sedang butuh kejujuran dan ketulusan dari orang-orang karena tidak punya kekuatan untuk menghadapi yang palsu-palsu. Karena pikiran ini, saya takut bahwa selama ini saya memalsukan rasa bahagia yang dirasakan. Tapi apa bisa memalsukan rasa? Perkara rasa yang waktu itu saja belum dapat jawaban, muncul lagi perpanjangan tangannya.

Setelah menonton, saya baca deskripsi The Royal Tenenbaums memang mengandung apa yang disebut dengan “dark comedy”. Bahwa fiksi ini menceritakan tentang ironi, maka yang nyata dapat berupa kepositifan. Masih ada harapan untuk menjadikan dunia, khususnya dunia sendiri, menjadi lebih cerah dan lebih bermakna.

disak7uxuae7q-6

Last week, I begged to myself that I was enough. I subtly asked whoever passed me on whichever street I walked, through the universe, for saying these all were enough. It was tiring tho, to feel that way. But again, I passed it.

Value

I value my time in my own way. Lately, i can’t give it freely as usual. I’ll save some for those who ask. By then, i’ll know my worth and vice versa. We’ll meet and be a good company.

I love to give, yet i somehow in bizarre when it’s my turn to receive. Perhaps that’s what makes me don’t really care about the benefit i might get in return.

Stupidity for Having Foggy Eyes

looked too far
didn’t believe
what’s near
one step away to the right
took hundreds of steps to the left
realized
should be started
from a trust
to oneself
to what’s seen
why were looking for
what’s beneath, rather than
on the surface
the near.