Titik

Explaining is tiring, hope it’s worth it.

Siapa sangka hari ini jadi Hari Menjelaskan Sedunia. Setelah semua ditekan karena anggapan bahwa aku terlalu transparan hingga tidak lagi punya sisi misterius yang menggelitik rasa penasaran, membiarkan isu jadi tebak-tebakan, yang ada tebakannya banyak keliru. Kan gatal ingin meluruskan.

Sebuah travel melaju menuju kota dari kecamatan nun jauh di sana, kami duduk di dalamnya sambil membicarakan ini itu. Di tengah upaya menahan rasa kantuk, tanpa sadar aku berkata 
“Mungkin aku yang dulu punya titik tuju, titik fokus, yang sekarang gak lagi bisa digenggam. Mungkin aku yang sekarang sedang mencari titik.” Lalu terucap sebuah penegasan sebelum terlelap, dari ia yang mendengarkan di sebelah kanan, “Hmm titik ya.”

Mengapa sebuah Titik yang sederhana bisa bermakna besar dalam diri seseorang? Mungkin aku terlalu sering melihat hal-hal kecil, hingga titikpun seakan besar dan spesial, atau hanya perumpamaan yang dapat dimengerti. 

Ini, bukan berarti pandai membesar-besarkan masalah. Malah, sebisa mungkin menghindarinya dengan memaklumi dan cenderung menganggap diri yang bersalah. Entahlah, daripada merugikan orang lain kan.

Saat bangun, hal pertama yang teringat adalah penegasan tentang keberadaan Titik. Pernah aku bercerita tentang Titik pada caption post di Instagram Januari lalu, dalam #30HariBercerita. Saat itu, temanya Titik. Saat itu, kebingungan menangkup rasa hingga jemari tak kuasa membuat asa. Katanya, 

Aku harap dapat menjadi titik.
Bentuk paling sederhana yang paling krusial.
Menjadi alasan berjalannya sistem,
menandakan keberadaan sebuah letak,
memungkinkan berjalannya suatu format,
menjaga sebuah pesan dalam kode rahasia,
memberi penegasan makna,
menjadi pembentuk ciri khas,
membentuk sebuah jawaban
dari titik-titik lain
yang terhubung,
memegang berbagai peran
yang dibutuhkan,
merapikan kerumitan susunan pesan,
sebagai pengganti
saat huruf maupun angka
tak lagi sanggup menggambarkan
maksud,
menjadi akhir paling manis,
sebagai pembuka lembaran baru,
yang ada dalam
segala aspek
kehidupanmu.

Tak disangka, menjadi dan mencari titik tidak berhenti pada saat itu. Mungkin tahun depan, cerita tentang ‘Titik’ dapat diteruskan. Entah saat masih mencari atau telah menemukan, untuk mengisi bagian yang rumpang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s