Percakapan Kecil: Sudah Berapa Lama?

Akhir-akhir ini, aku jadi sering menggunakan angkot lalu ojek (yang dikendarai oleh satpam) kompleks untuk sampai rumah dibanding ojek online karena satu dan lain hal. Beberapa kali pulang lebih malam, suasana sepi mengembalikanku pada ingatan tentang kompleks ini. Membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk tentang segala hal, yang melekat pada sudut-sudutnya. Salah satunya adalah tentang lamanya para …

Semata

Beautiful writing to illustrate the awkwardness between he & she. Say no more, it breaks me.

pic source

LINIMASA

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret…

View original post 530 more words

Rangga, Bandara Kepastian

Dari jendela kau melihat bintang-bintang tanggal satu demi satu berulang mengucapkan selamat tinggal kadang ku pikir lebih mudah mencintai semua orang dari melupakan satu orang jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantung mereka yang datang kemudian hanya menyentuh kemungkinan --AADC 2

Mungkin Sekarang

Terserah bagaimana hidup bermain menentukan plot cerita dengan turbulensi mendadak. Bergejolak membuat saya ingin muntah, namun pada waktu lain terbang seringan kapas. Kapan kita merasa ini semua tidak adil? Padahal sebenarnya hanya untuk memberi warna. Mana aku tahu bahwa kamu sebenarnya tidak kemana-mana. Kehilangan tahun-tahunku bersamamu hanya membuatku senewen. Tahukan artinya? Terlepas dari itu, terlepas …

Dari Jendela Aku Melihat Punggungmu yang Semakin Jauh.

Ini semua tentang rasa. rasa yang tertahan. rasa yang dengan bodohnya tetap berdiri dan tidak bergerak mematung bagai prasasti, mati tak teridentifikasi. mati... atau dianggap mati? pergolakan masa lalu yang tiba-tiba datang menghampiri, mengetuk, mengganggu. kalau begini ceritanya, tidak usah saja merasa sekalian. "lebih baik tidak usah bertemu daripada saya harus memilih." "ketidakhadiran Kesempatan yang …

Rasa (25)

Tempat hanyalah benda mati, yang tidak berubah sedinamis yang hidup. Aku hidup dan aku berubah, juga mereka yang menempati tempat itu. Kunjungan terakhir sebelum tempat tersebut ditinggal pemiliknya, menjadi saat-saat emosional bagiku. Aku bukan pemilik tempat ini, bukan pula yang tinggal di sini. Namun, tempat ini memberikan kenangan masa lalu yang indah. Masa dimana masalah …

Rasa (17)

Is it me or you really try to show some signals? Well, I think it's just me. Never mind. I'll just have to keep my fantasies away. __________ Inspired by: the morning meet up and the afternoon update, combined and blended at the point where we met.

Rasa (16)

Setelah sehari bersama, aku semakin merasa kecil. Keraguan mencuat menjadi pertanyaan-pertanyaan yang merendahkan diri. Gimana kalau kamu melambatkan langkah sedikit, sementara aku mengejar banyak ketinggalan dengan kecepatan ekstra. Agar kita dapat cepat bertemu pada satu titik, dimana akhirnya aku bisa setara denganmu. __________ Inspired by: pinggir jalan Cipete di malam hari, from one spot to another.