Desa Kaki Gunung: Geen & Buroi

Sawah pukul enam tiga lima mendapat sinar matahari yang muncul dari balik gunung. Sinar tersebut memberikan orang-orangan sawah sebuah teman untuk diajak berbincang menikmati pagi: si bayangan besar. Buroi, ia dinamai. Geen si orang-orangan sawah sudah dua bulan berdiri dengan pegal di tengah sawah. Kadang ia mampu mengusir binatang-binatang nakal yang sekedar lewat, namun habis oleh binatang-binatang lokal tak beradab yang sengaja datang untuk menggodanya.

Continue reading “Desa Kaki Gunung: Geen & Buroi”

Advertisements

Pagi, Siang, Sore, Malam

Sore merah muda di Jakarta pada dua puluh Februari mencengangkan para pengguna media sosial. Mereka mengaguminya untuk dijadikan konten pada profile masing-masing. Menunjukkan ketertarikan pada keindahan alam, kegemaran pada kombinasi warna, atau sekedar ikut-ikutan agar sama seperti yang lain. Langit Jatinangor?

Continue reading “Pagi, Siang, Sore, Malam”

Matanya menghangat, larut dalam rasa takut. Seperti berjalan dalam ruang penuh kaca tipis. Salah salah bisa terinjak dan pecah, merusak kaca menjadi kepingan, juga melukai kaki hingga mengalir darah. Menyudutkan keinginan untuk memiliki harapan.

Matanya menghangat, ingin lelap dalam larutnya malam. Namun kata-kata membajak ke sudut-sudut pikirannya. Mencoba menjelaskan seonggok rasa. Orang bilang sulit deskripsikan rasa, yang lain bilang coba saja tidak akan dosa.

Maka ia coba merangkai kata. Satu demi satu. Usaha yang sia-sia, sepertinya. Karena kepala mulai berputar seiring beratnya mata, mendesak ingin terkatup. Membawanya ke alam mimpi, untuk sejenak melupakan kegundahan.

Orang bilang, tidur adalah cara terbaik untuk sekedar rehat dari segala masalah. Bukan masalahpun, rasanya kata-kata yang menggerayangi dapat sirna seketika. Maka ia coba merebahkan kepala, bersama rintik hujan yang mulai mengetuk jendela.

Matamu bermain
menatap lalu berpaling
menerawang ke awang-awang
lalu tersenyum
sedikit menahan tawa
mungkin malu
mungkin canggung
entahlah

Maaf
aku yang spontan ini
menyambut mereka
yang lama tidak terlihat
menyapa dengan semangat
karena
terlalu senang
terkesan sangat dekat
padahal tidak sedekat
yang mungkin dipikirkan
tapi inilah aku,
yang sekarang

Kembali ke jalur obrolan,
pada jarak proksemik
level pertama,
matamu bermain
menatap lalu berpaling
menerawang ke awang-awang
namun tidak tersenyum
terjadi perubahan yang dirasa
atas sikapku
beberapa menit lalu

Tidak perlu mengaku
aku sudah tahu
dari sikap itu
bahwa kamu
tidak suka begitu
tidak apa
mungkin aku akan
melakukan
yang
sama
sepertimu

I hope that tonight someone
could hug
you
as tight as
I did
to let go of
your sadness
your confusion
toward life
while I’m
hugging myself
as tight as
I could
and cry overnight
planning about the talk

let’s meet
next week
to talk that over
you can choose
the day and time
I choose the place

Tentang pagi dan mereka yang memulai hari

Cuaca memang sedang dingin, ditambah ia yang belum mengisi perut kecuali dua butir telur rebus sejak kemarin pagi, membuat pembakaran menjadi energi tidak mampu menghangatkan si pemilik tubuh. Tiga lapis pakaian dikenakan, namun gerutu kedinginan tidak lepas dari pikirannya. Tidak suka melontarkan gerutuan,” ujarnya di suatu waktu. “Tidak ada guna, tidak ada yang dengar juga, jadi untuk apa dikatakan?” Continue reading “Tentang pagi dan mereka yang memulai hari”

Tentang malam dan aku yang sulit berdamai

Suhu pagi ini menusuk hingga ke lapisan dalam pakaianku. Menerobos jaket panjang berbahan tebal, sweater, hingga kaos tipis yang biasa dikenakan saat tidur. Matahari belum terlihat, hanya semburat oranye di ujung timur sana, yang masih malu atau enggan bangun terlalu pagi, seperti pada bulan-bulan lain.

Berjalan keluar, apalagi dengan suhu begini, tidak seperti aku pada hari-hari lain. Continue reading “Tentang malam dan aku yang sulit berdamai”

Sayup

Sayup kereta terdengar dari kejauhan.
Memberikan suara pada malam dingin di kota ini.
Musim belum juga berganti,
namun tanda-tandanya sudah dapat diamati.

Sayup pesawat terdengar dari atas sana.
Membuat khayal berkelana kesana-kemari.
Tidak untuk menemani dalam sunyi,
tidak pula untuk sedikit bernyanyi.

Sayup azan terdengar dari sisi barat.
Menyadarkan pagi datang memanggil.
Menghempaskan rasa dingin yang mengigil,
untuk segera membasuh tubuh dan menghadap sang ilahi.

Sayup riuh cengkrama terdengar.
Suara yang dikenal menjalarkan getar.
Suara yang dikenal kepunyaanmu, rupanya.
Sayup riuh mimpi semalam tadi, benar adanya.

_____

Riung Endah, Bandung, Agustus 2017

Another Perspective from Sunflowers

 

A bunch of sunflowers is having a good talk, gossipping about humans.

“Look at those people, at the time like this, they still have to wait for some traffic lights. What are they doing all this day? It is not the time when you still at someplace but home.”
“What are they after by the way? Something that could provide their temporary happiness? They are wasting time!”
“Geez, shut up. Humans are complicated, they are different one to another. That man in blue shirt could be the one that helps his sick grandmother. He’s outside so he could buy the medicine. And that shiny black sedan with a star on top of its hood could be driven by someone that provides a school for street children.”
“Why would they do that?”
“Maybe because of their love?”
“Love? Look at us, we can’t feel love, we can’t feel anything, and we are fine. We don’t have to work for life. We are alive.”
“But our lives so short compared to the human.”
“Aren’t they tired?”
“Of course they are.”
“Because tired is temporary. Once they go to bed, they will be refreshed.”
“And start these stuff all over again?”
“Yup.”
“So, being a human is to do things over and over again?”
“Not all the human is doing some boring stuff.”
“I envy them actually, they could go everywhere they want. Humans have to be so grateful becoming what they are.”
“You might right.”
“Hhh, my head is hurt. I’m so glad that me, us, just a bunch of sunflowers.”
“Well, you don’t even have a head, you know.”
“I know, I’m just like expressing feeling like humans.”
“So, you are much like a human now?”
“Ugh, don’t start!”