Sayup

Sayup kereta terdengar dari kejauhan.
Memberikan suara pada malam dingin di kota ini.
Musim belum juga berganti,
namun tanda-tandanya sudah dapat diamati.

Sayup pesawat terdengar dari atas sana.
Membuat khayal berkelana kesana-kemari.
Tidak untuk menemani dalam sunyi,
tidak pula untuk sedikit bernyanyi.

Sayup azan terdengar dari sisi barat.
Menyadarkan pagi datang memanggil.
Menghempaskan rasa dingin yang mengigil,
untuk segera membasuh tubuh dan menghadap sang ilahi.

Sayup riuh cengkrama terdengar.
Suara yang dikenal menjalarkan getar.
Suara yang dikenal kepunyaanmu, rupanya.
Sayup riuh mimpi semalam tadi, benar adanya.

_____

Riung Endah, Bandung, Agustus 2017

Advertisements

Percakapan Kecil: Sudah Berapa Lama?

Akhir-akhir ini, aku jadi sering menggunakan angkot lalu ojek (yang dikendarai oleh satpam) kompleks untuk sampai rumah dibanding ojek online karena satu dan lain hal. Beberapa kali pulang lebih malam, suasana sepi mengembalikanku pada ingatan tentang kompleks ini. Membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk tentang segala hal, yang melekat pada sudut-sudutnya. Salah satunya adalah tentang lamanya para satpam menjaga keamanan tempat aku tumbuh, selama 18 tahun ini.

Aku: “Pak, bapak jadi satpam di sini udah berapa lama?”
Beberapa menjawab sudah 17 tahun, ada yang menjawab dari tahun 1999, adapula yang menjawab sejak tahun 2002.

Aku: “Kalau dulu patroli udah pake motor apa gimana? Motornya punya sendiri atau dikasih dari developer?”
Waktu awal-awal, kalau patroli masih jalan kaki, lalu naik sepeda gantian. Sepeda gunung gitu. Baru pertengahan 2000an pakai motor.

Selagi mereka bercerita, aku membayangkan para bapak satpam yang begitu hapal dengan kami si penghuni lama. Mengetahui para anggota keluarga dalam tiap-tiap rumah. Berkenalan dengan penghuni baru yang lahir dan memanggilnya dengan sapaan akrab hingga ia tumbuh besar. Teringat olehku akan cerita beberapa tahun lalu dari Kak Nurul, kakaknya Atia, akan pengalamannya naik ojek pak satpam setelah bertahun-tahun jarang terlihat di kompleks (karena kuliah di Malang dan berkeluarga di sekitar Jawa sana).

“Tau gak Cha, aku sedih deh. Masa waktu aku pulang kemarin (saat itu hamil anak pertama) kan aku naik ojek dari depan kompleks. Trus pak satpam ngira aku tamu. Pas aku bilang minta dianterin ke blok X, baru mereka ngeh kalo aku Nurul. Emang aku seberubah itu ya Cha sampe gak dikenalin sama mereka.”

Hal serupa terjadi padaku beberapa malam lalu. Entah kenapa malam itu, mereka tidak menyadari bahwa aku yang mengacungkan jari meminta satu ojek. Baru setelah aku menyebutkan blok rumah, tanggapannya langsung “Ooh kakak! Yaampun kirain siapa, abisnya kurus banget jadi beda. Lagi libur kak? Abis pulang dari mana nih kak? Kok Khalid gak jemput? Gimana kak kuliahnya kira-kira lulus kapan? Anak bapak Inshaa Allah tahun depan kuliah, doain ya kak.” dan sederet percakapan lainnya.

Mengenai revolusi kendaraan yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun, aku melihat hal tersebut juga terjadi pada anak-anak sekitar. Pak satpam bilang bahwa mereka sempat patroli dengan jalan kaki. Aku, yang mengintip dari balik goden yang tersibak, ingat bagaimana dua atau tiga orang sekaligus berjalan malam hari, membawa pentungan. Pada masa itu, aku, Atia, Iqbal, dan Rehan (dulu Yosef) masih asik berlarian di sekitar taman yang terang dengan lampu, tanaman, dan ayunan yang terawat.

Lalu pak satpam bilang pernah patroli dengan sepeda. Aku ingat bagaimana tersisa aku, Atia, dan Iqbal yang bermain bersama. Karena Rehan harus pindah rumah ke daerah Cilandak. Hari terakhir ia menempati rumah itu, kami dan beberapa temannya mengunjungi untuk main sesorean. Setelah kepergian Rehan, kami bertiga berkenalan dengan Aga, Balqis dan Anya, dll yang senang main sepeda dan pergi ke rumah kosong untuk berkhayal akan mahluk jejadian, membuat kami berlari keluar rumah tersebut, lalu masuk kembali untuk mengkhayalkan scene lainnya.

Lalu masuk masa patroli dengan motor, dimana kami semakin besar dan mulai mengenal kendaraan tersebut. Aga dan para cowok seumuran mulai terlihat mengendarai motor. Mama yang memutuskan menjual mobil dan membeli motor setelah papa meninggal (demi efektifitas dan efisiensi dalam mobilisasi), membuatku mulai mengurangi penggunaan sepeda. Tidak hanya kendaraan yang kami pakai, pertemanan kami juga berkembang.

Semakin besar, Iqbal mulai sibuk dengan dunianya dan gamenya. Tersisalah aku dan Atia yang setiap sore bermain Barbie. Meskipun Iqbal sesekali ikut bermain bersama, namun rasanya tidak sama lagi seperti dulu. Ia mulai menolak ajakan kami bermain hingga kamipun agak melupakan keinginan untuk bermain bersamanya. Memasuki SMP, benar-benar tersisa aku dan Atia. Dengan menyukai dan menggeluti hal yang sama, kami sering melakukan ini itu bersama pula. Mulai dari basket hingga belajar bersama. Memasuki SMA, pertemuan mulai terjadi kadang-kadang karena perbedaan jadwal yang semakin signifikan. Sekarang kami berstatus sebagai mahasiswa. Ia di Surabaya dan aku di Bandung (Jatinangor-sebenernya). Pertemuan kami dapat dihitung jari selama satu tahun. Sampai-sampai dengan hanya melihatnya dalam jarak dekat dan berbincang sebentar sudah membuatku bahagia. Ia yang menyimpan sejarah hidupku selama ini, begitupun aku kepadanya.

Percakapan kecil dengan pak satpam yang terhitung sebentar membuatku tersadar tentang sudah berapa lama aku mengalami ini semua. Sudah berapa rasa, asa, kesempatan, ingatan, cerita, yang kutorehkan selama ini. Bersama mereka yang terkasih, bersama mereka yang mengenalku hingga kini. Kompleksku mungkin merupakan bagian kecil dari  keseluruhan hidup seorang manusia, seorang aku. Namun aspek kecil ini melengkapi dan membentukku menjadi aku yang sekarang. Untukku, ini bukan sekedar masa lalu, namun sesuatu yang akan terus aku bawa hingga kapanpun. Terutama tentang ikatan yang telah kami rajut dari masa belum bisa berhitung.

Another Perspective from Sunflowers

 

A bunch of sunflowers is having a good talk, gossipping about humans.

“Look at those people, at the time like this, they still have to wait for some traffic lights. What are they doing all this day? It is not the time when you still at someplace but home.”
“What are they after by the way? Something that could provide their temporary happiness? They are wasting time!”
“Geez, shut up. Humans are complicated, they are different one to another. That man in blue shirt could be the one that helps his sick grandmother. He’s outside so he could buy the medicine. And that shiny black sedan with a star on top of its hood could be driven by someone that provides a school for street children.”
“Why would they do that?”
“Maybe because of their love?”
“Love? Look at us, we can’t feel love, we can’t feel anything, and we are fine. We don’t have to work for life. We are alive.”
“But our lives so short compared to the human.”
“Aren’t they tired?”
“Of course they are.”
“Because tired is temporary. Once they go to bed, they will be refreshed.”
“And start these stuff all over again?”
“Yup.”
“So, being a human is to do things over and over again?”
“Not all the human is doing some boring stuff.”
“I envy them actually, they could go everywhere they want. Humans have to be so grateful becoming what they are.”
“You might right.”
“Hhh, my head is hurt. I’m so glad that me, us, just a bunch of sunflowers.”
“Well, you don’t even have a head, you know.”
“I know, I’m just like expressing feeling like humans.”
“So, you are much like a human now?”
“Ugh, don’t start!”

Semata

Beautiful writing to illustrate the awkwardness between he & she. Say no more, it breaks me.

pic source

LINIMASA

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret…

View original post 530 more words

Rangga, Bandara Kepastian

Dari jendela
kau melihat bintang-bintang tanggal
satu demi satu
berulang mengucapkan
selamat tinggal

kadang ku pikir
lebih mudah mencintai semua orang
dari melupakan satu orang

jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantung
mereka yang datang kemudian
hanya menyentuh kemungkinan

–AADC 2

Mungkin Sekarang

Terserah bagaimana hidup bermain
menentukan plot cerita dengan turbulensi mendadak.
Bergejolak membuat saya ingin muntah,
namun pada waktu lain terbang seringan kapas.

Kapan kita merasa ini semua tidak adil?
Padahal sebenarnya hanya untuk memberi warna.
Mana aku tahu bahwa kamu sebenarnya tidak kemana-mana.
Kehilangan tahun-tahunku bersamamu hanya membuatku

senewen.

Tahukan artinya?

Terlepas dari itu, terlepas dari yang telah terlewati
yang terpenting kamu dalam pelukan. Sekarang.
Terlepas rasa sakit yang seakan tak berujung,
kesempatan kedua untukku, untuk kita,
datang. Jadilah bahagia,
sekarang.

__________

Inspired by: baru nonton AADC 2

Dari Jendela Aku Melihat Punggungmu yang Semakin Jauh.

Ini semua tentang rasa.
rasa yang tertahan.
rasa yang dengan bodohnya tetap berdiri dan tidak bergerak
mematung bagai prasasti,
mati tak teridentifikasi.

mati… atau dianggap mati?

pergolakan masa lalu yang tiba-tiba datang
menghampiri, mengetuk, mengganggu.
kalau begini ceritanya,
tidak usah saja merasa sekalian.

“lebih baik tidak usah bertemu daripada saya harus memilih.”
“ketidakhadiran Kesempatan yang tidak memihak.”
“kenyataan memang plinplan, mengutuk atas kebodohan refleks diri.”
“maaf.”

Pernyataan tegasmu, terima kasih aku hargai.
Biarlah aku yang merasa,
perasaan ini urusanku. Biarkan aku yang mengatasinya.
Biarkan saya berdamai.

Sementara kamu,
urusi saja urusanmu.

__________

Inspired by: baru nonton AADC 2

Rasa (25)

Tempat hanyalah benda mati, yang tidak berubah sedinamis yang hidup. Aku hidup dan aku berubah, juga mereka yang menempati tempat itu.

Kunjungan terakhir sebelum tempat tersebut ditinggal pemiliknya, menjadi saat-saat emosional bagiku. Aku bukan pemilik tempat ini, bukan pula yang tinggal di sini.

Namun, tempat ini memberikan kenangan masa lalu yang indah. Masa dimana masalah terbesar dalam hidup adalah memilih antara rok merah muda atau rok oranye yang akan dipakai setelah mandi sore.

Tempat yang sama, dengan umur yang tergambar di berbagai sisi, hiasan berbeda dari yang pernah ada, beberapa tempat telah berubah fungsi, saatnya harus ditinggal.

Inspired by: kunjungan terakhir ke rumah Wa Nobby yang terjual, sebelum pindah tangan ke pemilik baru pascaLebaran ini.

Rasa (17)

Is it me or you really try to show some signals?
Well, I think it’s just me. Never mind. I’ll just have to keep my fantasies away.

__________

Inspired by: the morning meet up and the afternoon update, combined and blended at the point where we met.

Rasa (16)

Setelah sehari bersama, aku semakin merasa kecil. Keraguan mencuat menjadi pertanyaan-pertanyaan yang merendahkan diri. Gimana kalau kamu melambatkan langkah sedikit, sementara aku mengejar banyak ketinggalan dengan kecepatan ekstra. Agar kita dapat cepat bertemu pada satu titik, dimana akhirnya aku bisa setara denganmu.

__________

Inspired by: pinggir jalan Cipete di malam hari, from one spot to another.