Another Perspective from Sunflowers

 

A bunch of sunflowers is having a good talk, gossipping about humans.

“Look at those people, at the time like this, they still have to wait for some traffic lights. What are they doing all this day? It is not the time when you still at someplace but home.”
“What are they after by the way? Something that could provide their temporary happiness? They are wasting time!”
“Geez, shut up. Humans are complicated, they are different one to another. That man in blue shirt could be the one that helps his sick grandmother. He’s outside so he could buy the medicine. And that shiny black sedan with a star on top of its hood could be driven by someone that provides a school for street children.”
“Why would they do that?”
“Maybe because of their love?”
“Love? Look at us, we can’t feel love, we can’t feel anything, and we are fine. We don’t have to work for life. We are alive.”
“But our lives so short compared to the human.”
“Aren’t they tired?”
“Of course they are.”
“Because tired is temporary. Once they go to bed, they will be refreshed.”
“And start these stuff all over again?”
“Yup.”
“So, being a human is to do things over and over again?”
“Not all the human is doing some boring stuff.”
“I envy them actually, they could go everywhere they want. Humans have to be so grateful becoming what they are.”
“You might right.”
“Hhh, my head is hurt. I’m so glad that me, us, just a bunch of sunflowers.”
“Well, you don’t even have a head, you know.”
“I know, I’m just like expressing feeling like humans.”
“So, you are much like a human now?”
“Ugh, don’t start!”

Advertisements

Semata

Beautiful writing to illustrate the awkwardness between he & she. Say no more, it breaks me.

pic source

linimasa

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret…

View original post 530 more words

Rangga, Bandara Kepastian

Dari jendela

kau melihat bintang-bintang tanggal

satu demi satu

berulang mengucapkan

selamat tinggal

Kadang ku pikir

lebih mudah mencintai semua orang

dari melupakan satu orang

Jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantung

mereka yang datang kemudian

hanya menyentuh kemungkinan

Ada Apa Dengan Cinta 2

Mungkin Sekarang

Terserah bagaimana hidup bermain
menentukan plot cerita dengan turbulensi mendadak.
Bergejolak membuat saya ingin muntah,
namun pada waktu lain terbang seringan kapas.

Kapan kita merasa ini semua tidak adil?
Padahal sebenarnya hanya untuk memberi warna.
Mana aku tahu bahwa kamu sebenarnya tidak kemana-mana.
Kehilangan tahun-tahunku bersamamu hanya membuatku

senewen.

Tahukan artinya?

Terlepas dari itu, terlepas dari yang telah terlewati
yang terpenting kamu dalam pelukan. Sekarang.
Terlepas rasa sakit yang seakan tak berujung,
kesempatan kedua untukku, untuk kita,
datang. Jadilah bahagia,
sekarang.

__________

Inspired by: baru nonton AADC 2

Dari Jendela Aku Melihat Punggungmu yang Semakin Jauh.

Ini semua tentang rasa. Rasa yang tertahan, rasa yang dengan bodohnya tetap berdiri dan tidak bergerak. Ia mematung bagai prasasti. Mati tak teridentifikasi. Mati… Atau dianggap mati?

Pergolakan masa lalu yang tiba-tiba datang menghampiri, mengetuk, mengganggu. Kalau begini ceritanya, tidak usah merasa saja sekalian.

“Lebih baik tidak usah bertemu daripada saya harus memilih.”

“Ketidakhadiran dan kesempatan yang tidak memihak.”

“Kenyataan memang plin-plan, mengutuk atas kebodohan refleks diri.”

“Maaf.”

Pernyataan tegasmu, terima kasih aku hargai.
Biarlah aku yang merasa,
Perasaan ini urusanku. Biarkan aku yang mengatasinya.
Biarkan saya berdamai.

Sementara kamu, urusi saja urusanmu.

__________

Inspired by: baru nonton Ada Apa Dengan Cinta 2

Rasa

Rasa yang dulu pernah akrab didada, jadi terlihat lebih buruk dari yang sebenarnya ada. Rasa sakit dan manis pada saat bersama, sekarang terlupa begitu saja. Sebuah film menyadarkanku pada sebuah fakta, bahwa sakit akibat rasa tersebut, telah menorehkan asa yang sekarang telah terlaksana.

Weekend

There comes the weekend.
When people pack their clothes, gather their money, buy a ticket, leave their responsibilities for a while, put their jacket on, to go for a vacation.
But for me, I pack my clothes, gather my money, buy a ticket, leave my responsibilities for a while, put my jacket on, to go home.

Because distance makes me sick.
Because I miss home.
Because it’s too cold to leave my jacket behind.

Satu hari lagi, ya? Aku menggigil

Pintu rumah ku buka dari dalam. Dengan ransel tersampir di punggung dan jaket tebal lembut sewarna langit pagi ini, aku siap pergi lebih awal. Langkah gontai namun pasti, visualisasi samar dari mata bangun tidur, dan tangan menggigil dalam kantung jaket menjadi deskripsi tepat bagiku yang tidak disadari orang.

Tuk…
Tuk… tuk…

Aku keluarkan tangan untuk merasakan tetesan dari langit, menyelaraskan bunyi rintik yang terpantul pada kanopi plastik bangunan sepanjang jalan.

Tuuut… Tuuut… Tuuut…

Nada panggil dari telepon genggam mengalun di telinga setelah aku mendapat tempat berlindung di mini market terdekat.

“Halo, ada apa?” kata suara di seberang.

Continue reading “Satu hari lagi, ya? Aku menggigil”

After the Rain

What do you want?

What do I want?
Maybe I want to travel the world.
Maybe I want to sit on my bed
      and read my favorite books.

Or maybe...
    just maybe...

I simply want to sip
   a cup of coffee
     with you
         beside me
              in the afternoon.

after the rain.

pic source

Ada yang Lebih Sakit, dari Patah Hati

Aku memelukmu erat di sela air mata. Maaf, aku membasahi jaket abu-abu kesayanganmu dengan air mata tak terbendung ini. Tangisku pecah tanpa bisa ditahan. Kamu memelukku balik penuh pengertian, sambil menenangkan, “Iya, aku tahu semua kok. Sudah, sudah.” Aku membeberkan semuanya, semua rasa yang terpendam. Aku bersiap untuk pergi, merelakanmu untuknya. Dengan caraku sendiri.

Dengan memberitahumu semuanya. Iya, itu caraku. Meninggalkan semua rasa yang telah lelah aku panggul seorang diri. Semua cinta dan sakit karena tidak bisa memiliki itu, aku lepas ke udara. Bersama air mata yang bersemayam di pundakmu, di dadamu. Lalu pada satu momen, kamu hanya bisa menenangkan diriku dengan mengeratkan pelukanmu, tanpa kata-kata. Tiba-tiba aku tahu kamu pergi, entah Continue reading “Ada yang Lebih Sakit, dari Patah Hati”