Percakapan Kecil: Sudah Berapa Lama?

Akhir-akhir ini, aku jadi sering menggunakan angkot lalu ojek (yang dikendarai oleh satpam) kompleks untuk sampai rumah dibanding ojek online karena satu dan lain hal. Beberapa kali pulang lebih malam, suasana sepi mengembalikanku pada ingatan tentang kompleks ini. Membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk tentang segala hal, yang melekat pada sudut-sudutnya. Salah satunya adalah tentang lamanya para satpam menjaga keamanan tempat aku tumbuh, selama 18 tahun ini.

Aku: “Pak, bapak jadi satpam di sini udah berapa lama?”
Beberapa menjawab sudah 17 tahun, ada yang menjawab dari tahun 1999, adapula yang menjawab sejak tahun 2002.

Aku: “Kalau dulu patroli udah pake motor apa gimana? Motornya punya sendiri atau dikasih dari developer?”
Waktu awal-awal, kalau patroli masih jalan kaki, lalu naik sepeda gantian. Sepeda gunung gitu. Baru pertengahan 2000an pakai motor.

Selagi mereka bercerita, aku membayangkan para bapak satpam yang begitu hapal dengan kami si penghuni lama. Mengetahui para anggota keluarga dalam tiap-tiap rumah. Berkenalan dengan penghuni baru yang lahir dan memanggilnya dengan sapaan akrab hingga ia tumbuh besar. Teringat olehku akan cerita beberapa tahun lalu dari Kak Nurul, kakaknya Atia, akan pengalamannya naik ojek pak satpam setelah bertahun-tahun jarang terlihat di kompleks (karena kuliah di Malang dan berkeluarga di sekitar Jawa sana).

“Tau gak Cha, aku sedih deh. Masa waktu aku pulang kemarin (saat itu hamil anak pertama) kan aku naik ojek dari depan kompleks. Trus pak satpam ngira aku tamu. Pas aku bilang minta dianterin ke blok X, baru mereka ngeh kalo aku Nurul. Emang aku seberubah itu ya Cha sampe gak dikenalin sama mereka.”

Hal serupa terjadi padaku beberapa malam lalu. Entah kenapa malam itu, mereka tidak menyadari bahwa aku yang mengacungkan jari meminta satu ojek. Baru setelah aku menyebutkan blok rumah, tanggapannya langsung “Ooh kakak! Yaampun kirain siapa, abisnya kurus banget jadi beda. Lagi libur kak? Abis pulang dari mana nih kak? Kok Khalid gak jemput? Gimana kak kuliahnya kira-kira lulus kapan? Anak bapak Inshaa Allah tahun depan kuliah, doain ya kak.” dan sederet percakapan lainnya.

Mengenai revolusi kendaraan yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun, aku melihat hal tersebut juga terjadi pada anak-anak sekitar. Pak satpam bilang bahwa mereka sempat patroli dengan jalan kaki. Aku, yang mengintip dari balik goden yang tersibak, ingat bagaimana dua atau tiga orang sekaligus berjalan malam hari, membawa pentungan. Pada masa itu, aku, Atia, Iqbal, dan Rehan (dulu Yosef) masih asik berlarian di sekitar taman yang terang dengan lampu, tanaman, dan ayunan yang terawat.

Lalu pak satpam bilang pernah patroli dengan sepeda. Aku ingat bagaimana tersisa aku, Atia, dan Iqbal yang bermain bersama. Karena Rehan harus pindah rumah ke daerah Cilandak. Hari terakhir ia menempati rumah itu, kami dan beberapa temannya mengunjungi untuk main sesorean. Setelah kepergian Rehan, kami bertiga berkenalan dengan Aga, Balqis dan Anya, dll yang senang main sepeda dan pergi ke rumah kosong untuk berkhayal akan mahluk jejadian, membuat kami berlari keluar rumah tersebut, lalu masuk kembali untuk mengkhayalkan scene lainnya.

Lalu masuk masa patroli dengan motor, dimana kami semakin besar dan mulai mengenal kendaraan tersebut. Aga dan para cowok seumuran mulai terlihat mengendarai motor. Mama yang memutuskan menjual mobil dan membeli motor setelah papa meninggal (demi efektifitas dan efisiensi dalam mobilisasi), membuatku mulai mengurangi penggunaan sepeda. Tidak hanya kendaraan yang kami pakai, pertemanan kami juga berkembang.

Semakin besar, Iqbal mulai sibuk dengan dunianya dan gamenya. Tersisalah aku dan Atia yang setiap sore bermain Barbie. Meskipun Iqbal sesekali ikut bermain bersama, namun rasanya tidak sama lagi seperti dulu. Ia mulai menolak ajakan kami bermain hingga kamipun agak melupakan keinginan untuk bermain bersamanya. Memasuki SMP, benar-benar tersisa aku dan Atia. Dengan menyukai dan menggeluti hal yang sama, kami sering melakukan ini itu bersama pula. Mulai dari basket hingga belajar bersama. Memasuki SMA, pertemuan mulai terjadi kadang-kadang karena perbedaan jadwal yang semakin signifikan. Sekarang kami berstatus sebagai mahasiswa. Ia di Surabaya dan aku di Bandung (Jatinangor-sebenernya). Pertemuan kami dapat dihitung jari selama satu tahun. Sampai-sampai dengan hanya melihatnya dalam jarak dekat dan berbincang sebentar sudah membuatku bahagia. Ia yang menyimpan sejarah hidupku selama ini, begitupun aku kepadanya.

Percakapan kecil dengan pak satpam yang terhitung sebentar membuatku tersadar tentang sudah berapa lama aku mengalami ini semua. Sudah berapa rasa, asa, kesempatan, ingatan, cerita, yang kutorehkan selama ini. Bersama mereka yang terkasih, bersama mereka yang mengenalku hingga kini. Kompleksku mungkin merupakan bagian kecil dari  keseluruhan hidup seorang manusia, seorang aku. Namun aspek kecil ini melengkapi dan membentukku menjadi aku yang sekarang. Untukku, ini bukan sekedar masa lalu, namun sesuatu yang akan terus aku bawa hingga kapanpun. Terutama tentang ikatan yang telah kami rajut dari masa belum bisa berhitung.

Advertisements

Pulang (20)

Menunggu kejelasanmu hanya membuang waktuku di sini. Keinginan manja yang sebenarnya bisa kamu penuhi sendiri, membuatku semakin rumit. Aku tawarkan solusi. Bagaimana kalau kamu mencari orang yang punya banyak waktu untuk meladenimu, sementara aku kembali dan melakukan hal-hal yang harus aku lakukan. Hal pertama dari serentetan hal tersebut adalah pulang. Karena mereka yang di sana, lebih membutuhkan keberadaanku.

Pulang (19)

Ketidakmampuanku dalam membayangkan  perjalanan pulang semakin membuat sedih. Melakukan segala cara untuk tidak memikirkan rumah, kadang terasa lebih berat dari hidup di sini.

Masih banyak yang harus diselesaikan, tidak bisa ditinggal. Kata ibu, jadilah manusia yang bertanggung jawab. Ternyata, kalimat tersebut tidak semudah yang diucapkan.

Pulang (18)

Dalam bahasa Inggris, kata ‘rumah’ punya dua kata dengan makna yang berbeda. Ada ‘house’, ada ‘home’.

Sekarang pertanyaannya: bagimu, aku yang mana?

Pulang (16)

Aku akan pulang besok. Enam tujuh delapan bahkan sepuluh jam perjalanan daratpun akan aku jalani dengan tegar. Sebenarnya, Tegar adalah nama tengahku. Gipionni Tegar Adityakusuma, kenalkan. Gi, panggilnya. Karena untukku, lelah hanyalah masalah fisik. Tapi sampai ke rumah, merupakan hal yg tidak bisa dibayar oleh apapun. Karena di sanalah kenangan masa lalu, harapan masa depan, orang terkasih yg telah ditakdirkan bersama, dan harum kenyamanan, berbaur menciptakan hal tak bernama dan tak berdefinisi.

Penasaran?

Pergi jauhlah lalu kembali. Ketuk pintu rumahmu dan rasakan sensasi magisnya.

pic source

Pulang (13)

Pulang ke rumah atau kembali ke kostan? Kembali ke rumah atau pulang ke kostan?
Saat pulang, harusnya aku tak perlu memikirkan apa yang harus aku lakukan di hari esok, untuk diriku sendiri.
Saat pulang, seharusnya menjadi tempat terakhir, tanpa harus merapihkan tas dan bersiap untuk pergi lagi.
Tetap bagiku pulang itu ke rumah.
Semoga secepatnya, aku bisa pulang.

-Genesa Hosyiana Sahari
https://www.instagram.com/genesahsyn/

Pulang (12)

Pulang bagiku adalah kembali ke pelukan Ibu; karena dimanapun dia berada aku selalu merasa di rumah.

Siap-siap ya untuk kamu yang akan mengisi hari-hariku;
kelak aku pun akan menjadikan dekapmu sebagai rumahku.
Untuk pulang melepas rindu.

– Fransisca Anjani

fransiscaanjani.tumblr.com