Pulang: Bonus

Di perjalanan pulang setelah seharian beraktifitas di luar
dan seiring malam yang kian larut
terkadang datang keinginan dalam diri
untuk menghabiskan malam di suatu tempat yang asing.

Tempat di mana kita bisa sejenak berhenti menjadi pelaku kehidupan,
kemudian merelakan diri menjadi seorang pengamat.

Kemudian berbekal spontanitas,
kejenuhan akan rutinitas,
atau keeingganan untuk tiba di rumah dengan tepat waktu,
kita pun memilih jalan yang sebelumnya belum pernah kita lewati.

Mungkin hari itu kita ingin mencoba berjalan kaki
di trotoar jalan yang dipenuhi pedagang kaki lima.

Mungkin sebelumnya kita tidak pernah memandang jalan raya
dari atas jembatan penyebrangan.

Mungkin malam itu kita ingin mendatangi pintu-pintu yang tertutup rapat
di pinggiran kota,
di celah-celah gang
yang keberadaannya pun tak pernah kita ketahui sebelumnya.

Kemudian di tempat-tempat asing itu, kita pun mengemati mereka, para perayap malam.
Orang-orang yang menunduk di bar sembari menahan kantuk,
yang bergegas menuju suatu tempat di bangku kemudi,
yang menjajakan barang dengan penerangan yang remang.

Lalu kita pun bertanya-tanya “apa yang sedang terlintas di benak mereka?”

Malam memanglah waktu yang tepat untuk bertanya, merenung, an memikirkan kembali segala hal yang tak pernah kita pedulikan sebelumnya.

Maka untuk sejenak,
berhentilah,
amatilah.

Malam ini kita akan menjadi perayap malam.

__

Galih Satria Adhi Putra

galihsadhira.tumblr.com

Advertisements

Pulang (20)

Menunggu kejelasanmu hanya membuang waktuku di sini. Keinginan manja yang sebenarnya bisa kamu penuhi sendiri, membuatku semakin rumit. Aku tawarkan solusi. Bagaimana kalau kamu mencari orang yang punya banyak waktu untuk meladenimu, sementara aku kembali dan melakukan hal-hal yang harus aku lakukan. Hal pertama dari serentetan hal tersebut adalah pulang. Karena mereka yang di sana, lebih membutuhkan keberadaanku.

Pulang (19)

Ketidakmampuanku dalam membayangkan  perjalanan pulang semakin membuat sedih. Melakukan segala cara untuk tidak memikirkan rumah, kadang terasa lebih berat dari hidup di sini.

Masih banyak yang harus diselesaikan, tidak bisa ditinggal. Kata ibu, jadilah manusia yang bertanggung jawab. Ternyata, kalimat tersebut tidak semudah yang diucapkan.

Pulang (18)

Dalam bahasa Inggris, kata ‘rumah’ punya dua kata dengan makna yang berbeda. Ada ‘house’, ada ‘home’.

Sekarang pertanyaannya: bagimu, aku yang mana?

Pulang (16)

Aku akan pulang besok. Enam tujuh delapan bahkan sepuluh jam perjalanan daratpun akan aku jalani dengan tegar. Sebenarnya, Tegar adalah nama tengahku. Gipionni Tegar Adityakusuma, kenalkan. Gi, panggilnya. Karena untukku, lelah hanyalah masalah fisik. Tapi sampai ke rumah, merupakan hal yg tidak bisa dibayar oleh apapun. Karena di sanalah kenangan masa lalu, harapan masa depan, orang terkasih yg telah ditakdirkan bersama, dan harum kenyamanan, berbaur menciptakan hal tak bernama dan tak berdefinisi.

Penasaran?

Pergi jauhlah lalu kembali. Ketuk pintu rumahmu dan rasakan sensasi magisnya.

pic source

Pulang (13)

Pulang ke rumah atau kembali ke kostan? Kembali ke rumah atau pulang ke kostan?
Saat pulang, harusnya aku tak perlu memikirkan apa yang harus aku lakukan di hari esok, untuk diriku sendiri.
Saat pulang, seharusnya menjadi tempat terakhir, tanpa harus merapihkan tas dan bersiap untuk pergi lagi.
Tetap bagiku pulang itu ke rumah.
Semoga secepatnya, aku bisa pulang.

-Genesa Hosyiana Sahari
https://www.instagram.com/genesahsyn/

Pulang (12)

Pulang bagiku adalah kembali ke pelukan Ibu; karena dimanapun dia berada aku selalu merasa di rumah.

Siap-siap ya untuk kamu yang akan mengisi hari-hariku;
kelak aku pun akan menjadikan dekapmu sebagai rumahku.
Untuk pulang melepas rindu.

– Fransisca Anjani

fransiscaanjani.tumblr.com