Rasa (17)

Is it me or you really try to show some signals?
Well, I think it’s just me. Never mind. I’ll just have to keep my fantasies away.

__________

Inspired by: the morning meet up and the afternoon update, combined and blended at the point where we met.

Advertisements

Rasa (16)

Setelah sehari bersama, aku semakin merasa kecil. Keraguan mencuat menjadi pertanyaan-pertanyaan yang merendahkan diri. Gimana kalau kamu melambatkan langkah sedikit, sementara aku mengejar banyak ketinggalan dengan kecepatan ekstra. Agar kita dapat cepat bertemu pada satu titik, dimana akhirnya aku bisa setara denganmu.

__________

Inspired by: pinggir jalan Cipete di malam hari, from one spot to another.

Rasa (14)

Bagaimana bisa aku berani berharap terlalu tinggi, saat melihatmu saja aku terkagum bukan main. Kamu terlalu seperti tak terjamah.
Semoga suatu hari, aku akan dapat sejajar denganmu. Tunggu ya.

__________

Inspired by: yang ku kagumi, Instagram

Rasa (13)

Musik instrumental, lampu berwarna kuning, dan derasnya hujan sore ini didukung oleh bubur gerobak langganan yang tadi lewat. Ingatanku kembali pada poster di mading siang tadi. Poster yang aku tahu telah terpajang selama hampir sebulan, baru menarik perhatianku setelah acaranya terselenggara H+1. Siapa yang bisa menyangka bahwa di tengah-tengah poster ada sebuah nama familiar yang sangat aku hindari?

Sebuah nama. Sebuah nama. Kenapa pula aku harus terpengaruh dengan sebuah poster dengan diselipi nama tersebut? Orangnya saja aku tidak bisa tahu. Siapa tahu beda orang. Siapa tahu kan yaa. Siapa tahu. Siapa tahu? Siap, tahu?

__________

Inspired by: poster h+1 event AHSP di Bandung

Rasa (11)

Kehadiranmu diibaratkan pemanis bagi hidupku yang cenderung pahit. Akupun sempat menyukai rasa manisnya. Seperti mencoba rasa baru, seperti keluar dari keadaan monoton. Namun semakin waktu terbuang bersama, aku merasakan gangguan pengelihatan, mati rasa, berat badan cepat berkurang, cepat emosi, serta mudah haus. Sepertinya aku terkena diabetes. Ini tidaklah sehat. Solusinya adalah dengan tidak mengonsumsi yang manis-manis. Ini berarti aku harus menghilangkan pemanis dalam hari-hariku. Aku harus menghilangkanmu. Keputusan bulat yang aku tempuh membawakan hasil. Continue reading “Rasa (11)”

Rasa (10)

“Banyak dari mereka yang mengasosiasikan hujan dengan kenangan. Padahal jelas-jelas kedua hal tersebut tidak berhubungan sama sekali. Menurutku, hujan hanya membuat seseorang tidak bisa melakukan aktifitasnya yang biasa, menyebabkan kebingungan, lalu akhirnya terdiam, lalu otak yang bekerja, lalu tiba-tiba teringat suatu hal, berhubung-hubungan, lama-lama semakin ke belakang, terus hingga mencapai titik kenangan indah yang tidak lagi dimiliki.

Pernyataan tersebut hanya dua hal yang dipaksa untuk terhubung. Seperti mempunyai koneksi dengan frekuensi yang sama, namun sebenarnya ada pola yang tidak dapat disatukan. Seperti Kita beberapa bulan lalu.”

Ah sudahlah, sepertinya hujan tetap tidak akan berhenti. Aku hanya akan melewatinya dengan sepatu boot kuning pemberianmu, dulu.

Rasa (9)

Déjà vu menghampiriku.

Dua tahun lalu tepat di tempat ini, dengan malam penuh bintang dan asap rokok yang mengebul, kamu meninggalkanku di antara motor yang terparkir. Para ‘kereta api’ yang sedang asyik menikmati obrolan malam mereka di depan coffee shop kelas menengah, manjadi saksi bagaimana kata-kata tersiratmu mengakhiri eksistensi dari Kita. Tanpa bisa berbuat apapun, mereka kaget karena aku hanya terlihat kosong.

Kekagetan sekitar yang aku sebabkan belum selesai sampai di situ. Seorang barista yang mengantar piccollo keduaku, terlihat bingung menanggapi responku yang berubah sangat cepat. Tatapan kosong yang kuberikan saat ia datang, dalam hitungan detik dipenuhi luberan air mata, yang tertahan sejak tadi.

Rasa (8)

Tahukah apa yang lebih menyedihkan dari segala rasa yang bertebaran dalam semesta ini?
Yaitu rasa kehilangan tanpa pernah memiliki.

__________

Inspired by: salah satu buku bersampul beruang