Dear Self

Dear Acha,

Happy graduation. I heard that you experienced a super sad condition because of memories about people from your past, and how you felt so small compared to them.

Well, we can’t completely erase what happened, nor change it. They’ve got their own path, you’ve got yours.I

It’s okay if we can’t change the past. It happened, let it be. You’ll have another day to start, to create new memories, chase your ongoing dreams, heighten your qualities, aim your careers, meet your possibilities, take your chances, embrace new feelings. THERE ARE LOTS OF IMPORTANT THINGS TO DO CHA. BE BRAVE.

We, people, are changing constantly. Change to be the best of you, Cha. You don’t have to only start a new chapter. Instead, start a new book.

Good luck my love, my dear-self.

Advertisements

A love letter for cinnamon rolls

It started with a good smell
I fell for you since the first time I passed a bakery, where you were hanging on the display. but I was on a diet
so I decided not to think about you anymore

I fell on admiration when I discovered the benefit of you + honey + warm water
flat belly was formed as I consumed you regularly
every morning
literally

I fell in love, it got stronger as I understood that you’re not the one that’ll ruin my weight. eat you once in a while won’t be bad.
walking by the bakery, smell the fresh-baked of you and other croissants has been my favorite thing to do
every office-hour morning
if I arrived earlier than I should

I feel like getting permission to love you freely, to buy you with no hesitation, to eat you without regret
my love for you has grown

Thank you, for your existence
My dear cinnamon rolls
(or cinnamon in general)

Minggu Pagi

000009
Though there is Sad in his (user)name, I wish for his heart to be happy.

Pertemuan gak sengaja di minggu pagi dua dua April waktu setempat.
Sempat terucap cerita tentang rollfilm yang udah lama mengendap dalam film chamber. Cerita lain tentang pertama kali mengeluarkan kamera tersebut dari lemari papa, tapi gak dilanjutkan. Saat itu 2013, orang-orang masih sibuk dengan kamera digital dan polaroid. Cuci scan waktu itu hanya satu di kotaku, tempat-tempat yang aku tahu dulu, udah gak lagi melayani hal semacam itu. Aku tertarik mengoperasikan kamera papa karena ingin menghidupkan ketidakberadaannya. Berbekal buku panduan pengguna dan informasi dari internet, aku memotret sesukaku.

000010

Lalu ia bertanya, “Kenapa berenti?” Setelah berpikir sebentar aku menjawab, “Kenapa ya, karena gak ada temen yang bisa sama-sama ngelakuinnya kayanya.” Waktu itu analog gak hype samsek, beda sama sekarang. Kayaknya cuma aku yang tertarik di sekitar, jadi aku takut sendiri.

000021

Ditarik sedikit ke belakang tentang gambar. Pernah aku cerita tentang alasan dulu mau punya kedai kopi. Karena suka vibe yang tercipta dari interior design-nya. Meskipun bervariasi, kedai kopi punya kecenderungan interior yang sama, menghasilkan vibe yang sama. Karena harum kopi yang menguar memenuhi ruang, entahlah. Dari situ pernah tertarik mau jadi interior designer. Pernah juga waktu kecil terpikir untuk jadi arsitek karena suka gambar-gambar bangunan. Tapi itu semua dipinggirkan karena satu hal: takut disuruh gambar. Aku cuma bisa gambar stickman.” kataku waktu dulu.

000025

Lalu ia bertanya, “Kenapa gak dilatih lagi?” Aku menjawab “Gapapa, ngerasa jelek aja.” Setelah itu ia menunjukkan dan membicarakan tweet Wahyu “Pinot” Ichwandardi yang juga pernah aku lihat di linimasa Twitter. Tweet tentang gak usah takut dibilang ABCD, gambar ya gambar aja. Kalau ngerasa jelek, latihan lagi sampai bagus.

000024

Obrolan tentang gambar itu muncul dari obrolan tentang peta imajiner, yang dibahas karena kami punya dunia ciptaan masing-masing. Aku dengan huruf-huruf United States of Acha yang sekarang berubah nama jadi Achalandia, per 3 Januari 2018. Ia dengan The Known World beserta segala huruf (yang masih coba aku pecahkan di waktu luang), sejarah, karakteristik masyarakat masing-masing negara, dan tempat-tempat pentingnya.

000014

Lalu aku bercerita sempat ingin buat kata-kata khusus, udah bikin kamus sendiri tapi kata yang terkumpul masih sedikit dan menyadari ‘kata-kata’ terlalu banyak, ingin bikin peta negara sendiri tapi Achalandia terlalu kecil dan gambarku terlalu jelek jadinya gak jadi. Takut gak bisa memuaskan khayalan sendiri. Lalu ia menunjukkan semuanya.

000013

Aku baru sadar, ia mengingatkanku pada hal-hal yang dulu aku suka, tapi terlalu takut untuk mengembangkannya karena ini dan itu. Mungkin aku terlalu mendengarkan apa kata orang lain. Mungkin aku terlalu terpaku pada pemenuhan harapan orang lain. Hingga secara sadar maupun gak sadar, menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang aku sukai, yang ternyata ia lakukan dengan sangat baik.

000012

Permainan hidup yang dikendalikan ketakutan. Lalu mencari alternatif dengan bermain aman, mencari hal lain yang bisa dan menyenangkan untuk dilakukan hingga ketakutan dan hal-hal yang menempelinya terkubur menjadi kenangan.

000008

Lalu seseorang datang, membangkitkan kembali ketakutan yang terkubur dalam bentuk baru, sebuah harapan. Harapan akan kemampuan untuk melakukan apa yang selama ini takut dilakukan. Seseorang mengubah sebuah takut menjadi sebuah harap.

000007

*Minggu pagi ingin beli ikan cupang sekaligus ngabisin rollfilm karena kata seorang teman, “Mending filmnya diabisin dulu, baru lensanya kamu bawa ke tempat yang bisa bersihin jamurnya.”
**Ini rollfilm ketiga yang di-develop sejak 2013, hasil foto dengan lensa berjamur ngasih efek yang unik
***”Selama gak merugikan berbagai pihak, lakuin aja apa yang mau dilakuin. Tapi selalu berkembang biar yang dilakuin gak cuma sekedar. Minimal, bisa ngebanggain diri sendiri.” – Acha, 2018
****Itu rambut cepet panjangnya, pake sampo kuda apa gimana?
*****Jadi, akan ada kejutan apa lagi?

 

A Letter: I’m Sorry I Don’t Know How to Say It in Person. You Also Know That I’ve Got Difficulty to Express My Deepest Feeling. So, Here It Is.

I guess the reasons why I don’t want to lose you and always be able to find you are because you’re capable to calm me down, to rationalize the non-sense in my head, to make me focus on our conversation only, diving into the depths, to keep me still, chill, yet thrill, to train me how to be patient, to sort out my chaotic thinking path, to encourage me to learn about anything because you know a lot of things and your knowledge tickles my curiosity. Above all, because you’re you.

We find ourselves at the edge of the fitted shape of hundred pieces of a jigsaw. Complement one another. I may be a blue wrapped in yellow, while you’re yellow wrapped in blue. Together, we can create green in both inside and outside of ourselves. The green color represents growth, nature, calm, and harmony. The communication in green describes us as well at points that tell to give time to think, to skip the “small talk”, to give the big picture then get into details.

Surrounded by the colors of calmness, there’s no need to rush. As long as we keep consistent and persistent on what and how we do to aim our purpose, time will do the rest. Though I can create my own happiness and overcome my own desolation, your presence contributes to quicken the recovery or heal the wound completely. Thank you for your existence. It’s just the beginning, learning about you is a lifetime subject I’d like to take.

P.s. I’m too, need to learn how to show and convince you that ‘this thing’ is real, to do something to make you feel the same way, without me pretending to be someone else, to keep me as genuine as I am, to behave serenely. I love to learn, then I will.

03:00

A Poem

To celebrate the World Poetry Day on March 21st, my best-not-so-like-to-celebrate-anything-friend offered to make me a poem. She asked the theme, then I gave her some words to use to make her less complicated in making the poem. One day later, she gave me the link to her poem. So, here it is

Tikam Menikam

Dear Acha,

stop trying to make sense of everything. There are things that just don’t make sense and they are okay. They exist not to be understood. You have to accept them as they are. As you said, acceptance is the key. So this time, please try to live with the no make sense. As Linda Schell said on Extremely Loud& Incredibly Close

No matter how hard you try, Oskar, it’s never gonna make sense because it doesn’t. It doesn’t… make… sense!”

cherio!

Perpus Fikom, Jatinangor, 13:29

Dear Acha,

seperti yang sudah-sudah selama tiga tahun, kali ini aku juga akan menulis surat untukmu. Bukan sebagai resolusi seperti orang-orang, hanya untuk pengingat.

Selamat, kelulusanmu hanya tinggal hitungan bulan (semoga). Aku harap kepercayaan diri dan keoptimisanmu masih sebesar saat kamu dengan seenaknya hanya mencantumkan satu pilihan pada seleksi undangan masuk PTN beberapa tahun lalu. The universe conspires to help the person who knows where they are going and what they want.

Ingat, seperti kata beberapa orang di sepanjang tahun, kamu gak harus selalu berpikir. Beri ruang untuk merasa, karena gak semua butuh logika.

Memulai adalah bagian tersulit, tapi jangan putus asa, oke? Karena akan ada yang pertama dalam segala hal. Kamu gak perlu takut. Semua balik lagi ke cara pandangmu pada sesuatu. Kalau kata Payung Teduh, mengapa takut pada lara sementara semua rasa bisa kita cipta. Tuh kan rasa aja bisa dibangun, masa pikiran engga.

Omongan adalah doa, ingat baik-baik itu. Kamu udah lihat kan gimana magisnya kata-kata yang tanpa permisi berubah nyata?

Keberanianmu untuk menyatakan keinginan, meningkat. Keinginan untuk tahu, untuk melakukan sesuatu. Meskipun beberapa isu masih senang disimpan, gapapa itu proses. Jadi seperti Buty, berani bilang apapun yang ia harapkan dan yang gak ia harapkan dengan jelas, agar orang lain mengerti. Nih, sebagai pengingat aja sih

Karma itu ada. Hargai diri sendiri, hargai orang lain, karena kamu gak pernah tau perjuangan yang mereka lewati sampai akhirnya ada di depanmu. Rajin tersenyum, bikin orang bahagia bisa sesederhana itu. Kebaikan kamu dapetin kalau kamu kasih kebaikan juga ke orang lain. Kalau boleh mengutip omongan seseorang, “Do good and good will come to you.”

Belajar terus, jangan pernah bosen. Apapun. Terlalu banyak hal bagus yang kamu lewatin kalo gak belajar lebih banyak. Lalu, selesaikan apa yang kamu mulai, jangan pernah lelah untuk bertanggungjawab atas pilihan yang kamu ambil.

Terakhir, kamu udah tahu cara melepaskan diri dari kenangan yang menggerogoti pikiran dan hati mu selama kurang lebih sembilan tahun. Lakukan. Gak usah membahas, yakinkan diri kalau namanya gak lagi bergaung menggetarkan hati.

Semua benda berjalan dengan cara dan waktunya masing-masing. Benda mati seperti planet punya rotasi dan revolusinya sendiri. Air dengan siklusnya menjalari setiap lini kehidupan. Tumbuhan kopi punya cara beragam dan waktu yang berbeda untuk bisa tersaji ke hadapanmu. Begitu juga dirimu. All is well.

Tertanda,

Acha

Understood, Capt!

Minggu pagi setelah aktivitas rutin (menonton Doraemon), aku lanjutkan dengan menyetel Captain Fantastic (2016) dari Yana. Karena toh hari ini tidak ada rencana maupun kekuatan untuk kemana-mana, satu film bisa lah ya. Seekor rusa yang lagi jalan santai di tengah hutan mengawali film. Beberapa menit kemudian terlihat seorang berwajah hitam  karena lumpur mengintip dari balik semak, mengintai. Dengan kelihaiannya, si Rusa ditangkap, dibeset lehernya hingga darah habis, lalu diseret ke sungai untuk dibersihkan. Orang berwajah hitam lain datang dari segala sisi, menyaksikan orang yang menerjang rusa tadi diresmikan kedewasaannya oleh si tertua, dengan darah rusa yang dioleskan ke T-Zone dan disuruh memakan entah jantung atau hati.

“Yana, itu Captain Fantasticnya?” tanyaku selagi si tertua membersihkan wajah, khawatir ini film suku-suku terpencil Amerika. “Iya.” kata Yana meyakinkan. “Ini film tentang apa yan?” aku semakin penasaran. “Lu mah maunya dispoilerin. Ini tentang keluarga yang tinggal di hutan, nyari makan dari alam, belajar bertahan hidup,” gerutunya. “Mereka ke kota gak? Bajunya bikin apa beli apa gimana?” cecarku. “Engga. Bajunya bikin sendiri kali. Eh gak tau, gak dijelasin. Udah nonton aja deh.” tetap berusaha menjelaskan. “Oke.” kataku mencoba menikmati film.

 Dari film ini, aku memaknai beberapa hal:

Continue reading “Understood, Capt!”