Why me?

I love how people can see through me. Acknowledge my potential, define me in their life, even if they want, put me on their priority list. I love how they can tell something I don’t know or realize, even encourage me to feel what I assumed unrequited as it turns out our feelings are mutual.

It’s simply because it was so tiring to do things alone, to feel some things alone, to fight alone. I rarely feel lonely or sad, as blooming flowers in a pot can bring excitement, summer breeze in a bright morning triggered an unstoppable smile. But when I reviewed what happened that day or that week or that month, I often found myself alone. If everything was supportive and so on, I could just sleep until the sun arose from the back of the east side. If it wasn’t, I might have trouble to sleep or wake up with a clear mind.

Days already have shits, it’s not my job to make them worse.

Advertisements

11:11

Kepada Si Pengelana,

Mungkin kamu gak sadar udah jadi pohon yang besar dan kuat di dalam diri, dengan prinsip-prinsip yang dipegang hingga kini. Prinsip besar yang bercabang, membuat tendensi sebab dari satu hal mengerucut namun dalam beberapa. Entah dari poin mana yang membuatmu jadi seperti sekarang, tolong jangan bakar jembatannya. Meskipun telah sepi, tapi sesekali bisa dilewati. Aku gak pernah menyesal telah belajar. Terima kasih atas semuanya.

Ya, semuanya. Ingat kan aku pernah bilang sangat bersyukur atas kedatanganmu pada tahun terakhirku di dunia mahasiswa ini? Meskipun yang lain berubah, rasa syukur itu enggak. Seperti angka kembar yang diindikasikan membawa keberuntungan, hal-hal yang terjadi aku anggap sebagai bagian dari itu. Meskipun kamu gak percaya takhayul, toh gak ada salahnya untuk tetap optimis tentang kebaikan dan keberuntungan yang akan datang (dengan tetap bergerak, berpikir, berusaha, berproses untuk jadi lebih).

Selamat ulang tahun kamu, semoga damai.

T’s Ideal Sunday

I imagined that this weekend would be used to sleep all day, as I ruined my sleep schedule in past two weeks. But as Mas Reno said “You won’t have a good night’s sleep after graduating, Cha. You gotta work your ass off till you’ve reached your limit and be satisfied with the result.” Here I am at 5:30 a.m., on my way to Studio 5 at Antasari Street. I’ll do commercial product photoshoot as a Brand Manager’s assistant. Set the needed properties, associated to build style’s mood, timekeeper, and make sure every detail are checked.

So instead of having pity on myself, I’d like to create a list about how the perfect Tasha’s weekend probably going.

– Cool weather. Yea if one asks me which one would I choose between sunny or rainy season, I’d answer rainy but to be honest I can’t choose because sunny season creates joy, grows numerous colorful flowers especially sunflowers, and no wet streets anywhere, but sometimes it’s too hot to be outside. While rainy season creates contentment, the perfect reason to stay at home.
– Someone to talk to. Yup, about everything he/she knows, their interest, to find another perspective, exchange values, get inspiration, their struggle to learn from, understand one’s thought through conversation, to define the undefined, opening the closed door.
– Movie marathon. It’d be great to do with the closest.
– Slices of apple, pressed orange, mashed banana.
– Discover new things, meet new people.
– Going on an adventure
– Strolling at city park
– Sipping coffee or tea, enjoying its relaxing smell. Thank god my new Earl Grey Tea, with the combination of black tea, lime, and bergamot smells so damn good. Still looking for a favorite perfume to use, leaving a trace of my smell in every place I walk on, creating memories with people I talk with, reinforcing my identity among people around.

Dear Self

Dear Acha,

Happy graduation. I heard that you experienced a super sad condition because of memories about people from your past, and how you felt so small compared to them.

Well, we can’t completely erase what happened, nor change it. They’ve got their own path, you’ve got yours.I

It’s okay if we can’t change the past. It happened, let it be. You’ll have another day to start, to create new memories, chase your ongoing dreams, heighten your qualities, aim your careers, meet your possibilities, take your chances, embrace new feelings. THERE ARE LOTS OF IMPORTANT THINGS TO DO CHA. BE BRAVE.

We, people, are changing constantly. Change to be the best of you, Cha. You don’t have to only start a new chapter. Instead, start a new book.

Good luck my love, my dear-self.

Metromini Hari Jumat

Jumat kali ini, aku pulang naik Metromini. Waktu tidak sedang mengejar, begitu pula menggencet. Jadi, kuputuskan melambaikan tangan pada bus merah biru tujuan Pasar Minggu. Aku penasaran dan merasa tertantang.

Ini Jumat malam, waktu orang-orang pulang cepat untuk bertemu keluarga atau hang out bersama teman-teman. Bercengkerama tentang ini dan itu, melepaskan beban seminggu lalu. Tapi aku malah memilih naik kendaraan semi terbuka dengan bangku plastik usang dan keras, menikmati suara mesin tua meraung padahal sedang berjalan lambat, memandang kerlipan lampu merah belakang kendaraan yang berebut masuk jalur bebas hambat. Padahal tahu bahwa waktu yang dibutuhkan akan lebih panjang, sendiri.

Untuk memperkaya sensasi yang baru pertama dialami, sekalian saja beli kudapan ringan dua ribuan yang dibungkus kecil-kecil. Ah sial, saat menoleh ingin memfotonya, si penjual malah turun. Aku yakin kok, sebenarnya harga jajanan itu seribuan. Tapi karena aku terlanjur bilang cari yang sebungkus dua ribu, otak cerdiknya langsung bilang “iya iya pilih aja dua ribu.” Biarlah.

Rasanya… Gini deh, kamu berharap apa dari snek duaribuan? Selama mengunyah, terngiang kalimat seorang teman “Gue selalu berusaha ngabisin apa yang gue beli.” Sebuah cerminan dari tanggung jawab yang dulu kuanggap serius, sekarang kujadikan santai. Mungkin karena lihat teman-teman kurus punya kebiasaan makan gak habis? Bisa jadi. Hhh mudah terpengaruh, sepertinya aku harus pilih-pilih lingkungan agar tidak mudah memaklumi beberapa hal.

Kenek ibu-ibu dengan asumsi istri si pak supir mulai berkeliling meminta ongkos para penumpang. Kecleng… Kecleng… Kurang lebih begitu suara koin-koin yang beradu dalam kepalan tangan. Si ibu lewat ke belakang, kembali ke depan.  Kurebahkan kepala sedikit, tiba-tiba terlelap, bangun-bangun hampir sampai tujuan. Ahh nikmatnya.

Kata teman yang lain, dapat tidur merupakan salah satu nikmat dunia yang patut disyukuri. Begitu pula dengan kemudahan memahami orang lain, mampu berempati hingga tidak mudah menghakimi, menerima keadaan diri, dan lain-lain.

Gambar oleh @pixelheidi di akun puisinya

Ia tetap diam, mengatupkan bibir agar tidak ada kata yang keluar. Sementara pikirannya bermain cepat, memberi label pada perkataan dan perbuatan yang dilakukan orang di meja sebelah, membuat simpulan atas pertanyaan yang dilontarkan, menghakimi sepihak tanpa rasa ingin berbaur dan bertanya untuk melakukan validasi.

Ia tetap diam, menyibukkan diri dengan apa yang ada di layar gawai. Sementara sudut matanya memperhatikan suasana sekitar, menangkap sikap dan sifat orang di meja sebelah, membandingkan dirinya dengan mereka, membuat keputusan bahwa ia jauh lebih baik dibanding mereka tanpa rasa ingin lebih mengenal.

Sombong sekali kalau dipikir-pikir. Sibuk dengan pikiran-pikirannya tanpa mau berbagi. Mencari solusi dalam menyikapi kebingungan, yang alih-alih membuat tenang dengan keputusan yang diambil, malah memperburuk suasana dengan orang lain. Untung manusia bermacam, untung ia berurusan dengan yang tidak sepertinya. Jika sama, mungkin keadaan akan semakin memanas dan mereka tidak akan bertemu lagi. Mencoba menahan ego masing-masing, memendam amarah yang ditunjukkan dalam diam dengan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

Egois.

pintu kuning berderak membuka, ia masuk membawa suka dengan gelas plastik kosong dan jubah merah terlipat di dalam kantong biru tua. sudah lama tidak melihatnya. terpapar perasaan bahagia dalam menyambut hari besar prosesi kelulusan, yang ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun. tidak menyangka akan bertemu, padahal hanya ingin melakukan transaksi dengan seorang teman.

mari, anggap saja hadiah menunggu.
siapa suruh mengasingkan diri begitu lama
sudahlah, memang butuh, jangan didebat.

rindu rindu rindu

 

Stubborn-Hearted: Miwa

Miwa, seorang teman dari zaman putih biru, yang supel, asik, rendah hati, selalu up-to-date, terlihat stunning dengan dunianya sendiri, karena ia berani berbeda. Masa bodoh orang mau bilang apa. Ia membuat, minta pendapat, mencoba lagi, belajar lebih, berhasil, berkembang. Dikenal sebagai anak foto dan anak baking, Miwa seperti top of mind dalam bidang tersebut di antara anak-anak sekolah.

Keputusannya mengambil STP Bandung mengagetkanku dan beberapa teman. Maksudku, pilihannya termasuk berani. Di saat orang-orang terobsesi masuk PTN, Miwa dengan yakin mengikuti kecintaannya pada pastry. Rasa cinta ini berawal dari kebiasaan melihat sang Mama membuat kue sejak ia kecil dan tayangan Ibu Sisca Soewitomo di televisi. She knows what she loves, then she do it wholeheatedly. “My ambition isn’t on what I will accomplish in pastry culinary, but what I can share to people through my pastries.” 

Untuk itu, ia mulai membuat kue dan dibagikan ke teman-teman saat SMP, khususnya yang ulang tahun sambil coba-coba berbagai resep. Saat SMA, selain bagi-bagi kue per slice ke berbagai kelas, Miwa juga mulai berjualan cupcakes bersama teman yang se-passion. Segala hal untuk mengembangkan keahlian ia lakukan. Dari tutorial di YouTube, buka buku-buku resep, lihat majalah, sampai menyiapkan diri untuk masuk STP Bandung yang tentu tidaklah mudah dan sederhana.

Tantangan sebenarnya ia temukan setelah lulus. Pinsip kuat dengan pernyataan “I can’t keep up with others’ standard because I have my own rules.” (dasar scorpio haha) ternyata melatihnya lebih keras. Kendala bahan dan alat yang serba mahal membuatnya memutar otak untuk bisa memenuhi itu semua. Belum lagi keinginan untuk belajar lebih yang butuh lebih banyak biaya, membuat Miwa harus pintar-pintar mengatur keuangan. Ditambah ego “Gue udah lulus, udah gak boleh ngerepotin orang tua,” juga melanda quarter life crisis-nya.

Namun ia percaya, ini semua adalah jalan untuk menjadi Miwa yang lebih besar lagi nantinya. Seorang Miwa yang punya cakeshop sendiri, dengan staff yang akan memproduksi resep-resep unik buatannya hingga cukup untuk banyak orang, resep yang akan membuat mereka bahagia dengan cerita yang dibawa dalam sebuah kue. Agar ia tetap dapat mengurus hal yang lebih penting dari semua pekerjaan di dunia; mengurus keluarga. Dengan motivasi dari sebuah hadist,

Allah berfirman:
“Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [H.R. Turmudzi]

ia selalu percaya ada hikmah di balik setiap kegagalan, ada hikmah di balik segala kejadian, yang baik maupun yang kurang baik.

“Kerja keras. Kerja cerdas. Kerja Ikhlas,”-lah yang mendasari setiap keringat yang ia keluarkan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terus berjuang, Amira Qisthina Arindra.

May Day

Pernah liat dokumentasi kegiatan di @POST_santa tentang menulis suka-suka berupa puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang merupakan interpretasi dari photobook berjudul InTransit:23 karya Fransisca Angela. Ketertarikan itu aku bagi di twitter dan coba minta dikabari kalo ada yang punya photobook untuk dipinjam. Karena gak ada yang bilang-bilang, akhirnya terlupa. Kemarin (30/4) liat ada photobook Diana F+ More True Tales & Short Stories di KUNST House. Setelah izin sama Galih (sebagai empunya) untuk dibawa balik ke kosan, aku berencana merayakan Hari Buruh ini dengan bikin puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang terinspirasi dari photobook. Ini bukunya:

2018-05-02 07.04.48 1.jpg
Society of Lomographers. Diana F+ : More True Tales & Short Stories. 2007. Vienna: Lomographic Society International.

Gak semua foto dikembangkan, hanya beberapa yang menurutku menarik:

Continue reading “May Day”

Minggu Pagi

000009
Though there is Sad in his (user)name, I wish for his heart to be happy.

Pertemuan gak sengaja di minggu pagi dua dua April waktu setempat.
Sempat terucap cerita tentang rollfilm yang udah lama mengendap dalam film chamber. Cerita lain tentang pertama kali mengeluarkan kamera tersebut dari lemari papa, tapi gak dilanjutkan. Saat itu 2013, orang-orang masih sibuk dengan kamera digital dan polaroid. Cuci scan waktu itu hanya satu di kotaku, tempat-tempat yang aku tahu dulu, udah gak lagi melayani hal semacam itu. Aku tertarik mengoperasikan kamera papa karena ingin menghidupkan ketidakberadaannya. Berbekal buku panduan pengguna dan informasi dari internet, aku memotret sesukaku.

000010

Lalu ia bertanya, “Kenapa berenti?” Setelah berpikir sebentar aku menjawab, “Kenapa ya, karena gak ada temen yang bisa sama-sama ngelakuinnya kayanya.” Waktu itu analog gak hype samsek, beda sama sekarang. Kayaknya cuma aku yang tertarik di sekitar, jadi aku takut sendiri.

000021

Ditarik sedikit ke belakang tentang gambar. Pernah aku cerita tentang alasan dulu mau punya kedai kopi. Karena suka vibe yang tercipta dari interior design-nya. Meskipun bervariasi, kedai kopi punya kecenderungan interior yang sama, menghasilkan vibe yang sama. Karena harum kopi yang menguar memenuhi ruang, entahlah. Dari situ pernah tertarik mau jadi interior designer. Pernah juga waktu kecil terpikir untuk jadi arsitek karena suka gambar-gambar bangunan. Tapi itu semua dipinggirkan karena satu hal: takut disuruh gambar. Aku cuma bisa gambar stickman.” kataku waktu dulu.

000025

Lalu ia bertanya, “Kenapa gak dilatih lagi?” Aku menjawab “Gapapa, ngerasa jelek aja.” Setelah itu ia menunjukkan dan membicarakan tweet Wahyu “Pinot” Ichwandardi yang juga pernah aku lihat di linimasa Twitter. Tweet tentang gak usah takut dibilang ABCD, gambar ya gambar aja. Kalau ngerasa jelek, latihan lagi sampai bagus.

000024

Obrolan tentang gambar itu muncul dari obrolan tentang peta imajiner, yang dibahas karena kami punya dunia ciptaan masing-masing. Aku dengan huruf-huruf United States of Acha yang sekarang berubah nama jadi Achalandia, per 3 Januari 2018. Ia dengan The Known World beserta segala huruf (yang masih coba aku pecahkan di waktu luang), sejarah, karakteristik masyarakat masing-masing negara, dan tempat-tempat pentingnya.

000014

Lalu aku bercerita sempat ingin buat kata-kata khusus, udah bikin kamus sendiri tapi kata yang terkumpul masih sedikit dan menyadari ‘kata-kata’ terlalu banyak, ingin bikin peta negara sendiri tapi Achalandia terlalu kecil dan gambarku terlalu jelek jadinya gak jadi. Takut gak bisa memuaskan khayalan sendiri. Lalu ia menunjukkan semuanya.

000013

Aku baru sadar, ia mengingatkanku pada hal-hal yang dulu aku suka, tapi terlalu takut untuk mengembangkannya karena ini dan itu. Mungkin aku terlalu mendengarkan apa kata orang lain. Mungkin aku terlalu terpaku pada pemenuhan harapan orang lain. Hingga secara sadar maupun gak sadar, menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang aku sukai, yang ternyata ia lakukan dengan sangat baik.

000012

Permainan hidup yang dikendalikan ketakutan. Lalu mencari alternatif dengan bermain aman, mencari hal lain yang bisa dan menyenangkan untuk dilakukan hingga ketakutan dan hal-hal yang menempelinya terkubur menjadi kenangan.

000008

Lalu seseorang datang, membangkitkan kembali ketakutan yang terkubur dalam bentuk baru, sebuah harapan. Harapan akan kemampuan untuk melakukan apa yang selama ini takut dilakukan. Seseorang mengubah sebuah takut menjadi sebuah harap.

000007

*Minggu pagi ingin beli ikan cupang sekaligus ngabisin rollfilm karena kata seorang teman, “Mending filmnya diabisin dulu, baru lensanya kamu bawa ke tempat yang bisa bersihin jamurnya.”
**Ini rollfilm ketiga yang di-develop sejak 2013, hasil foto dengan lensa berjamur ngasih efek yang unik
***”Selama gak merugikan berbagai pihak, lakuin aja apa yang mau dilakuin. Tapi selalu berkembang biar yang dilakuin gak cuma sekedar. Minimal, bisa ngebanggain diri sendiri.” – Acha, 2018
****Itu rambut cepet panjangnya, pake sampo kuda apa gimana?
*****Jadi, akan ada kejutan apa lagi?