Harap: Bonus

Advertisements

Harap (20)

Selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuh, menyisakan kepala yang menghadap gelapnya kamar lewat tengah malam. Beberapa menit berdiam hingga jenuh dengan gelap, namun tidak juga ingin ditemukan terang. Tirai di samping kiri akhirnya disingkap untuk sedikit memberi hiburan bagi mata. Terlihat titik-titik berbagai warna dari lampu jalan, kendaraan, juga rumah-rumah yang terlihat kecil. Seperti bintang, namun di bawah sana.

Perjalanan hari ini melelahkan, namun syukurnya telah sampai. Sudah berminggu-minggu tidak melihatnya, menggantungkan pesan akan kembali pada secarik kertas yang terselip di antara lembar sebuah buku. Tidak ada pula pertanyaan yang diberikan, tidak ada pertukaran cerita. Ceritanya disimpan, untuk nanti bertemu.

Pertemuan yang saling menemukan. Mengikuti kemanapun waktu akan membawa, bukan ke tempat-tempat namamu disebut. Karena permainan kita tidaklah sesederhana yang dapat dibaca orang.

Saat itu terjadi, semoga lara menghilang. Membawa keberanian dalam menjawab berbagai tanya, di antara kata yang menjebak kita pada suatu malam di sebuah bulan.

Sekian.

Harap (19)

Kamu rindu diperjuangkan
Aku rindu menangis memerjuangkanmu
Bagai rasa yang tak punya ujung
Tak bisa berhenti meski sakit hati

Benar bukan aku yang kamu tunggu
Aku sudah lama tahu
Sempat satu hari senyummu memberi tanda
kamu tidak benar-benar kepadaku

Jemarimu sempat ku ukur
Sudah ku bayangkan simbol pengikatmu
Lalu kenyataan datang merangkul
Masing-masing kita disimpan untuk yang lebih baik

Satu-satunya yang tersisa dari kita adalah harap
Harapku yang belum sampai dari beribu malam lalu
Aku relakan kesenanganmu
Untuk diberikan pada cinta yang lain.

_

Rahmat Satria Bakker
(https://www.instagram.com/rahmat_satria/)

Harap (18)

Aku pernah hidup 21 tahun.

Belum menyelesaikan sisanya dari

orang lain, termasuk

tuhan

dan nafsu dunia.

Kini di setiap hari liburtermasuk libur diri,

ada ketidaktahuan tentang kejelasan hatiku.

Berharap terobati atas urusan tubuh

atau angan yang kubicarakan

ke semua orang.

Tetapi mencari tidak selalu berakhir dengan menemukan,

biasanya hanya berhasil

bingung.

Benci-lah pada harapan karena wajahnya ada seribu.

Aku bisa kok hidup tanpa itu, tanpa kamu atau orang lain.

Pada akhirnya, sebentar lagi, aku berjanji akan mengakhiri ini:

berharap pada orang selain diriku.

Sekarang aku harap kamu tanya dirimu

sendiri.

_

Radifan Cakra Aji
(https://www.instagram.com/radifancakra/)

Harap (16)

Seingatku sinar matahari masih mengecup pipi saat mata tertutup, membiarkan angin melakukan tugasnya untuk membelai. Kaca sengaja dibuka untuk membiarkan alam memberikan afeksi, menebar kehangatan untuk merangkul kedua pundak yang dingin. Maka, bingung rasanya saat mata terbuka dan berhadapan langsung dengan bulir-bulir air di luar jendela yang tertutup.

Lantunan kata yang diberi irama masih terdengar dari speaker di samping kaki. Masih suara yang sama, dengan album yang berbeda. Sepertinya si pengemudi yang duduk di sebelah merasa nyaman dengan suara si penyanyi, hingga suaranya memenuhi perjalanan lintas provinsi kali ini. Beberapa lirik dapat ditangkap dengan baik, merepresentasikan sebuah tanya di balik harap.

Seperti perjalanan ini, mencari tujuan dengan mengandalkan kemudi yang mengarahkan empat ban hitam di bawah kami. “Mau kemana?” tanyanya tadi pagi. “Terserah, pokoknya aku mau pergi.” kataku malas menanggapi lebih jauh. “Jawa timur, mau?” balasnya seraya melihatku termangu. “Asal bersama, aku mau.”

Lalu, di sinilah kami.

Harap (15)

Mungkin harap adalah

doa yang tak pernah dipanjatkan,
surat yang tak pernah dikirim,
draft novel yang tak pernah dirampungkan,
coretan yang tertinggal di bangku sekolah,

atau keberanian diri untuk percaya, yang tiba-tiba raib di suatu malam di Bulan Maret.

Maka izinkan diriku untuk mengharapkan kembalinya harap.

“Semoga ikan koi yang kulepas kepergiannya di Sungai Dunajec, menjelma menjadi Naga dan membawaku ke Angkasa.”

_

Galih Satria Adhi Putra
(galihsadhira.tumblr.com)
Melalui secarik surat di dalam amplop angpao merah.

Harap (14)

Langkah itu berhenti tepat di tengah. Maju tak mampu, mundur pun tak sanggup; sadar sepenuhnya jika semesta tak selalu berkompromi dengan langkah yang semaunya.

Sesuatu, kolaborasi antara satuan emosi dan perasaan demi perubahan kenyataan sesuai keinginan.

Sesuatu itu, punya nama;
harap.

Berhenti tepat di tengah. Benak hanya mampu menerka-nerka, sementara harap terus tumbuh dengan egoisnya. Harap, yang penuh oleh bayangan kemungkinan-kemungkinan buncahan kebahagiaan, berusaha mengarang cerita dari percikan fakta demi kesenangan.

Harap hanya mampu menunggu. Menunggu jawaban semesta dalam bentuk keadaan yang nyata.

Berhenti tepat di tengah, bergantung sampai lelah. Jawaban semesta satu diantara dua; bahagia luar biasa, atau akhirnya harap memutuskan untuk pergi selamanya, pergi bersama kecewa.

Karena itu, kukira, harapku sudah lama pergi.

Sampai bayangan nyata kembali tiba, bersama khasnya guratan senyum dan nada suara, yang begitu mudahnya menguak bagian terdalam jiwa, hati, pikiran dan memori; menghadirkan sebuah kesadaran yang selama ini ternyata hanya berusaha bersembunyi.

Harapku padamu, ternyata masih di sini.

Masih berhenti tepat di tengah, bergantung sampai lelah.

_

Rayyan Raima Zurriyyatina
(http://razuriy.tumblr.com)
Penyempurnaan perspektif dari cerita di meja satu.

Harap (13)

Ayolah, ini sudah pukul berapa? Dari pagi saya menunggu, katanya pukul delapan. Lalu digeser, katanya pukul sepuluh. Malah tunggu sebentar sampai… Setengah satu? Jadi mau pukul berapa? Saya cemas. Tidak bisakah memanusiakan manusia? Agar harap tak perlu muncul buru-buru.

Harap (12)

Hari itu sangat terik, ia tidak mampu lagi berjalan memanggul keresahan. Di tengah jalan kecil, sebuah pintu dari rumah yang belum selesai terbuka, namun dihalangi beberapa kayu. Pemilik menawarkan minum. Beberapa kali ia menyapa dan bertukar cerita dengan pemilik. Keduanya merasakan sesuatu yang dengan takut dibahasakan. Saat akhirnya merasa waktu sudah tepat, ia bertanya apakah bisa ia masuk rumah tersebut, namun si pemilik menjawab

“Jangan masuk dulu, belum siap.”
“Sudah sampai mana?”
“Eng…”
“Gak apa-apa, ayo buka pintunya. Aku bantu selesaikan rumah ini.”
“Kalau kamu bantu, setelah selesai apa kamu akan pergi?”
“Tergantung, apakah si pemilik membiarkan aku tinggal?”
“Kalau ya, apakah kamu mau bantu aku menjaganya agar tidak hancur atau cepat rusak?”
“Dengan senang hati.”

Lalu mereka pergi ke toko bangunan paling berkualitas di daerahnya, membeli bahan bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan untuk menciptakan tempat pulang paling nyaman di dunia. Minimal, di dunia yang mereka ciptakan sendiri.