Harap: Bonus

Advertisements

Harap (20)

Selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuh, menyisakan kepala yang menghadap gelapnya kamar lewat tengah malam. Beberapa menit berdiam hingga jenuh dengan gelap, namun tidak juga ingin ditemukan terang. Tirai di samping kiri akhirnya disingkap untuk sedikit memberi hiburan bagi mata. Terlihat titik-titik berbagai warna dari lampu jalan, kendaraan, juga rumah-rumah yang terlihat kecil. Seperti bintang, namun …

Harap (19)

Kamu rindu diperjuangkan Aku rindu menangis memerjuangkanmu Bagai rasa yang tak punya ujung Tak bisa berhenti meski sakit hati Benar bukan aku yang kamu tunggu Aku sudah lama tahu Sempat satu hari senyummu memberi tanda kamu tidak benar-benar kepadaku Jemarimu sempat ku ukur Sudah ku bayangkan simbol pengikatmu Lalu kenyataan datang merangkul Masing-masing kita disimpan …

Harap (18)

Aku pernah hidup 21 tahun. Belum menyelesaikan sisanya dari orang lain, termasuk tuhan dan nafsu dunia. Kini di setiap hari libur─termasuk libur diri, ada ketidaktahuan tentang kejelasan hatiku. Berharap terobati atas urusan tubuh atau angan yang kubicarakan ke semua orang. Tetapi mencari tidak selalu berakhir dengan menemukan, biasanya hanya berhasil bingung. Benci-lah pada harapan karena …

Harap (16)

Seingatku sinar matahari masih mengecup pipi saat mata tertutup, membiarkan angin melakukan tugasnya untuk membelai. Kaca sengaja dibuka untuk membiarkan alam memberikan afeksi, menebar kehangatan untuk merangkul kedua pundak yang dingin. Maka, bingung rasanya saat mata terbuka dan berhadapan langsung dengan bulir-bulir air di luar jendela yang tertutup. Lantunan kata yang diberi irama masih terdengar …

Harap (15)

Mungkin harap adalah doa yang tak pernah dipanjatkan, surat yang tak pernah dikirim, draft novel yang tak pernah dirampungkan, coretan yang tertinggal di bangku sekolah, atau keberanian diri untuk percaya, yang tiba-tiba raib di suatu malam di Bulan Maret. Maka izinkan diriku untuk mengharapkan kembalinya harap. "Semoga ikan koi yang kulepas kepergiannya di Sungai Dunajec, …

Harap (14)

Langkah itu berhenti tepat di tengah. Maju tak mampu, mundur pun tak sanggup; sadar sepenuhnya jika semesta tak selalu berkompromi dengan langkah yang semaunya. Sesuatu, kolaborasi antara satuan emosi dan perasaan demi perubahan kenyataan sesuai keinginan. Sesuatu itu, punya nama; harap. Berhenti tepat di tengah. Benak hanya mampu menerka-nerka, sementara harap terus tumbuh dengan egoisnya. …

Harap (13)

Ayolah, ini sudah pukul berapa? Dari pagi saya menunggu, katanya pukul delapan. Lalu digeser, katanya pukul sepuluh. Malah tunggu sebentar sampai... Setengah satu? Jadi mau pukul berapa? Saya cemas. Tidak bisakah memanusiakan manusia? Agar harap tak perlu muncul buru-buru.

Harap (12)

Hari itu sangat terik, ia tidak mampu lagi berjalan memanggul keresahan. Di tengah jalan kecil, sebuah pintu dari rumah yang belum selesai terbuka, namun dihalangi beberapa kayu. Pemilik menawarkan minum. Beberapa kali ia menyapa dan bertukar cerita dengan pemilik. Keduanya merasakan sesuatu yang dengan takut dibahasakan. Saat akhirnya merasa waktu sudah tepat, ia bertanya apakah …