Stubborn-Hearted: Miwa

Miwa, seorang teman dari zaman putih biru, yang supel, asik, rendah hati, selalu up-to-date, terlihat stunning dengan dunianya sendiri, karena ia berani berbeda. Masa bodoh orang mau bilang apa. Ia membuat, minta pendapat, mencoba lagi, belajar lebih, berhasil, berkembang. Dikenal sebagai anak foto dan anak baking, Miwa seperti top of mind dalam bidang tersebut di antara anak-anak sekolah.

Keputusannya mengambil STP Bandung mengagetkanku dan beberapa teman. Maksudku, pilihannya termasuk berani. Di saat orang-orang terobsesi masuk PTN, Miwa dengan yakin mengikuti kecintaannya pada pastry. Rasa cinta ini berawal dari kebiasaan melihat sang Mama membuat kue sejak ia kecil dan tayangan Ibu Sisca Soewitomo di televisi. She knows what she loves, then she do it wholeheatedly. “My ambition isn’t on what I will accomplish in pastry culinary, but what I can share to people through my pastries.” 

Untuk itu, ia mulai membuat kue dan dibagikan ke teman-teman saat SMP, khususnya yang ulang tahun sambil coba-coba berbagai resep. Saat SMA, selain bagi-bagi kue per slice ke berbagai kelas, Miwa juga mulai berjualan cupcakes bersama teman yang se-passion. Segala hal untuk mengembangkan keahlian ia lakukan. Dari tutorial di YouTube, buka buku-buku resep, lihat majalah, sampai menyiapkan diri untuk masuk STP Bandung yang tentu tidaklah mudah dan sederhana.

Tantangan sebenarnya ia temukan setelah lulus. Pinsip kuat dengan pernyataan “I can’t keep up with others’ standard because I have my own rules.” (dasar scorpio haha) ternyata melatihnya lebih keras. Kendala bahan dan alat yang serba mahal membuatnya memutar otak untuk bisa memenuhi itu semua. Belum lagi keinginan untuk belajar lebih yang butuh lebih banyak biaya, membuat Miwa harus pintar-pintar mengatur keuangan. Ditambah ego “Gue udah lulus, udah gak boleh ngerepotin orang tua,” juga melanda quarter life crisis-nya.

Namun ia percaya, ini semua adalah jalan untuk menjadi Miwa yang lebih besar lagi nantinya. Seorang Miwa yang punya cakeshop sendiri, dengan staff yang akan memproduksi resep-resep unik buatannya hingga cukup untuk banyak orang, resep yang akan membuat mereka bahagia dengan cerita yang dibawa dalam sebuah kue. Agar ia tetap dapat mengurus hal yang lebih penting dari semua pekerjaan di dunia; mengurus keluarga. Dengan motivasi dari sebuah hadist,

Allah berfirman:
“Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [H.R. Turmudzi]

ia selalu percaya ada hikmah di balik setiap kegagalan, ada hikmah di balik segala kejadian, yang baik maupun yang kurang baik.

“Kerja keras. Kerja cerdas. Kerja Ikhlas,”-lah yang mendasari setiap keringat yang ia keluarkan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terus berjuang, Amira Qisthina Arindra.

Advertisements

Stubborn-Hearted: Ponco

Gue selalu percaya sama quote

“Magic happens when you do not give up, even though you want to. The universe always falls in love with a stubborn heart.”

Karena saat lo menyerah, tandanya harapan lo gak sebesar itu untuk menjadikan lo layak mendapatkannya. Quote tersebut tiba-tiba terpikir lagi setelah baca cerita perjalanan Ponco untuk menjadikan dirinya seperti apa yang ia mau. Ponco mau jadi jurnalis musik. Ia bercita-cita jadi jurnalis musik karena suka musik dan ingin punya dampak positif di dunia musik. Setelah banyak main, banyak ide bermunculan. Berawal dari datang ke gigs gratisan, foto-fotoin yang tampil, edit, lalu diunggah ke media sosial untuk senang-senang. Apalagi kehadiran foto-fotonya dilihat, dikomen, direpost oleh musisi tersebut. Dari apresiasi itu, semangat semakin menggebu.

Harapan Ponco gak disimpan sendiri, tapi ia bagikan. Gak lama, ia mendapat berkah dari berbagi harap. Seorang teman membukakan jalan dengan jempol, cuma modal mention tentang lowongan fotografer. Pilihan harus selalu dibuat, pertimbangan dipikirkan, antara kenyataan dan keinginan. Lowongan fotografer gak dibayar, capek ngabisin waktu di jalan dan di tempat kerja, tapi tempat kerjanya asik karena bisa masuk ke acara musik kecil maupun gede dengan gratis. Setelah merelakan tenaga dan uang yang terkuras untuk menjalani itu semua, ada hal-hal yang gak harus pake itung-itungan logika. Kepuasan, link kerja, pengalaman, dan lain-lain.

Lagi, Ponco berbagi kesenangan dan kesedihannya dengan tetap mempertahankan keinginan yang sangat kuat. Di situ, jalan terbuka. Keterbatasan gak punya kamera bukan lagi keterbatasan, karena ada tangan-tangan yang mau bantu meminjamkan. Sehari dua hari, sekali dua kali. Dari hal-hal yang telah ia jalani, waktupun membawanya ke tingkatan yang lebih tinggi. Ada yang menawarkan magang di salah satu website musik besar, yang ternyata ada di bawah naungan dapur rekaman besar pula, yang dikelola oleh salah satu band pop-jazz yang mewarnai musik Indonesia dari belasan tahun lalu.

Ponco sadar, masa depan yang sebelumnya kabur, kini mulai jelas. Ia paham sama apa yang ada di hadapannya, gimana caranya agar ia semakin bisa mendekatkan diri sama apa yang diharapkan. Ini masih perjalanan, bukan sebuah akhir. Tapi dengan harapan yang begitu besar tertanam di hatinya, semesta meyakini bahwa seorang Ponco Iskandar akan layak mendapatkannya.