Stupidity for Having Foggy Eyes

looked too far
didn’t believe
what’s near
one step away to the right
took hundreds of steps to the left
realized
should be started
from a trust
to oneself
to what’s seen
why were looking for
what’s beneath, rather than
on the surface
the near.

Advertisements

Naive

say that i’m naive
perhaps
it’s because i’m trying
to see
the good in everything

when i’m not
it’s humanize me

days are meant to
have ups and downs
be okay
is what keeps me
sane

and that’s all i need

Mari Bercerita

Kalau rindu harus apa?

Rindu saat kamu masih punya banyak waktu luang
Rindu saat aku belum dipusingkan dengan bab-bab yang harus diselesaikan
Rindu saat kamu duduk dengan tenang membaca buku
Rindu saat aku tiba-tiba bisa menemukanmu di kedai kuning atau cokelat
di meja dengan dua kursi atau di bar
Rindu saat kamu berbagi segala pengetahuan yang baru dipelajari
Rindu saat aku dengan semangat mengeluarkan pertanyaan dengan takjub
Rindu saat kamu menceritakan hal-hal terdalam
Rindu saat aku semakin menemukan persamaan antara kita
Rindu saat kamu ingin dimengerti
Rindu saat aku ingin didengarkan
Atau kebalikannya.

Jadi, kapan kita bisa melakukan itu semua lagi?
Katamu, harus sabar.
Katamu, tidak boleh berasumsi.
Kataku, things take time and we’re all will be okay.

Maybe, your “someday” is almost here.

 

Menangislah, tidak apa-apa

Malam minggu di Jalan Riau, seorang sahabat bertanya padaku tentang apa dirinya sebenarnya. Apakah ia titik, koma, sekumpulan paradoks, tanda tanya, atau apa. Aku bingung harus jawab apa. Bukan karena ia bukan siapa-siapa, tapi karena aku gak bisa menemukan kata yang cocok untuk konteks yang ia maksud. Jadi aku hanya menjawab, “Aku gak tau, yang aku tau adalah aku nyaman berteman denganmu. Berbagi cerita, menertawai dunia, dan lainnya.” Ternyata ia memikirkan hal tersebut, terutama pertanyaannya yang belum terjawab. Ia mengunggah fotonya yang diambil olehku, lalu menuliskan caption yang kurang lebih sama dengan pertanyaannya. Aku memberi komentar. Lalu ia menge-chat via LINE, “Ku menangis baca komen ig mu,” katanya.

Beberapa jam sebelumnya, Continue reading “Menangislah, tidak apa-apa”

Di Altar

Sebuah iseng berdiri di atas sofa, di bawah lampu sorot ala ala, dengan penekanan suka-suka, berbuah rekaman suara.

Salam,

tiga pagi.

May Day

Pernah liat dokumentasi kegiatan di @POST_santa tentang menulis suka-suka berupa puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang merupakan interpretasi dari photobook berjudul InTransit:23 karya Fransisca Angela. Ketertarikan itu aku bagi di twitter dan coba minta dikabari kalo ada yang punya photobook untuk dipinjam. Karena gak ada yang bilang-bilang, akhirnya terlupa. Kemarin (30/4) liat ada photobook Diana F+ More True Tales & Short Stories di KUNST House. Setelah izin sama Galih (sebagai empunya) untuk dibawa balik ke kosan, aku berencana merayakan Hari Buruh ini dengan bikin puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang terinspirasi dari photobook. Ini bukunya:

2018-05-02 07.04.48 1.jpg
Society of Lomographers. Diana F+ : More True Tales & Short Stories. 2007. Vienna: Lomographic Society International.

Gak semua foto dikembangkan, hanya beberapa yang menurutku menarik:

Continue reading “May Day”

Ia terlalu banyak berpikir

2018-05-07 03.50.34 3.jpg

Seperti jauh namun ternyata dekat
Serengkuh dua rengkuh dari genggaman
Sesuatu menahannya dari beragam kejadian
Suatu dinding yang ia sebut sekat, yang tidak terlihat

Pada pagi menjelang siang yang terang
Berhembus angin sejuk yang membingungkan
Dengan tonggeret tanpa lelah bersahut-sahutan
Tidak kalah dengan deru mesin serta sirine kendaraan di bawah sana

Semua terlihat dari atas, dari tempat ia berdiri
Memandang kota dengan warna yang menyejukkan mata
Menikmati punggung dan bahu yang polos dibelai angin
Memeluk dada yang dingin mencari hangat

Ia kembali berkelana, dengan pikirannya
Merasakan suasana film Perancis bergenre drama
Merasakan suasana film Cina bergenre romansa
Merasakan suasana film Jepang bergenre remaja
Merasakan suasana film Amerika bergenre indie
Merasakan suasana film Inggris bergenre aksi
Merasakan suasana film Thailand bergenre misteri
Merasakan suasana film Korea bergenre musik
Merasakan suasana film klasik animasi

Bahkan saat ia tenggelam dalam pikiran, rasa
Tetap memainkan peran besar dalam alur berpikir
Kadang ia tak habis pikir dengan dirinya
Semua berawal dari rasa,
Saat rasa memberat dan tidak lagi membuat bahagia,
Ia lari pada pikiran untuk membantu membahagiakan rasa.

10:05
Pintu balkon 2133B

atau tidak perlu sekat

No need for weed, your presence plus serotonin and your absence plus caffeine were affecting my body in the same way. I’m flying high, high enough to touch the imaginary ceilings because I’m not that high to touch them with bare effort.

Comparing Tuesday night and Thursday night.

Circadian got hijacked by thoughts for 41 hours.

paham, kan?

“saya pusing lihat instagramnya, terlalu gelap”

jangan dilihat

“penasaran”

paham kan,

kegelapan yang ingin kuterangi,
kelemahan yang ingin kukuatkan,
kesedihan yang ingin kuhapuskan,
kesendirian yang ingin kuramaikan,
kekosongan jiwa yang ingin kuisi,
keruntuhan yang ingin kubangun,
kerumitan yang ingin kusederhanakan,
kesendirian yang ingin kutemani,
kebencian dalam diri yang ingin kulunakkan,
kebaikan yang ingin kubagi,
kebahagiaan lewat senyum dan tawa yang ingin kunikmati,
menyatu dalam orang yang ingin kusayang.

paham, kan?
paham, kan?

“iya paham.
semoga bijak.”

aamiin