An Open Letter to The One Who Understands: I’ve Found Another You

Unlike you who wished to meet your copy, I prayed to God to meet someone like you. After what happened, after what you did, after all the things I have realized about us, I wanted to make things right.

I wanted to be close to someone who understands, the one who listens, who tries so hard not to judge publicly, who puts honesty and sincerity as priority, who strives for harmony, who cares deeply, who’s able to keep me on the ground while I’m flying high with my head, who trusts me to help, whom I could give my attention and everything needed to thrive together, who keeps the manner. Someone who is just like you, or as one of our friend said: “Someone who has characteristic and quality I desired and by chance, is like you.”

Fortunately, If I trace back from the period of our cold and formal separation until now, God has granted my prayer. I don’t have to look far for that person, I don’t even have to look. He that has been given to me is the same person we talked about how did I get rid of feelings that had got in me for years. At some point, I did afraid of welcoming back the feeling you have helped me erasing. But no. Because he seems just like you, he also doesn’t see me the way I wanted you to see me or the way I wanted him to see me years ago. I do treat him the way I did treat you, but I don’t give the same feeling as I gave to you, or I gave to him years ago. I want to treat him right, respecting by simply embrace his presence for he is.

The plus point of this person is we have known each other for years, unlike us who know each other for less than two years. I could tell anything without getting awkward and show my vulnerable side without worrying he would left. Sometimes, if I said that I found my mirror in you, this person feels like half of my soul. If you understood my chaotic mind, he translates it so that anyone could understand too.

Dear You, thank you that you came and left. Thank you I learned a lot. Thank you for making me understand my self like never before. I thought to lose you was like losing my half-self, but it turns out not that significant compared to IF I lose this person.

I don’t ask anything from him, I’m not waiting for anyone anymore, I don’t beg people to stay. If they want to stay, please stay. If they want to leave, like you, please leave. Losing is tiring and aching, but I know my worth and it’d be your loss.

Once again, thank you for the lessons you gave. Shizz I’m in tears.
T

_____
15:11 WIB
Monday, June 3rd 2019/Monday, Ramadan 29th 1440
On Commuter Line from Sudirman to Depok Station, just got back from Bandung to Jakarta. My chest felt tight, greater area of Bandung has always had you in its every corner.

Advertisements

Thank You for Existing

Seorang teman mengajak bertemu. Well, seorang teman itu siapa lagi kalo bukan Nabilla Reysa Utami a.k.a Echa a.k.a juragan kale chips. Diawali dari “Cha, gue butuh temen buat dengerin nangis. Prefer ketemu sih.” “Oke, Cipete gimana?”

Pergilah kami ke Teh Tarik Aceh dengan pertimbangan aku lapar, ia sedang sedih jadi akan sangat baik jika kami makan comfort food, di sana ada Recharge karena charger ketinggalan di kantor HAHA, di sana ada wifi untuk ngelanjutin mock-up web dengan wix yang berat itu, dan harga di menunya terjangkau.

Setelah berbincang cukup panjang tentang questions, quarter-life crisis, peran kami untuk diri sendiri dan di lingkungan, justifikasi terhadap apapun yang dihadapi, bagaimana kami belum punya apa-apa hingga waktulah yang dapat kami beri, tentang transaksionalnya hubungan manusia, sampailah ia pada kata-kata:
“Gue mau berterima kasih sih ke nyokap lo, because of her, you exist. Karena beliau udah ngedidik anaknya jadi kayak gini.”

Continue reading “Thank You for Existing”

Be Strong

Such an encouraging statement to start the day, a wish for a better day, a better me.

Another Cinnamon Story

Miwa, seorang teman yang cukup sering saya sebut dalam blog ini, mulai berkarya di studio panggangnya. Sebagai seorang lulusan pastry, ia kerap kali membuka pre-order kue yang didistribusikan dengan kurir online melalui layanan aplikasi. Pastry terbaru yang ditawarkannya ke pasar adalah Cinnamon Rolls dengan cream cheese frosting. Mendengar kata ‘cinnamon’ atau kayu manis membuat saya nggak mau ketinggalan batch kali ini. Langsung aja saya pesan saat kesempatannya dibuka.


Tadaa! Saya sengaja membuat konsep fotografi untuk sajian ini. Alasannya? Sesederhana saya cinta cinnamon. Ini makanan enak, yang dibuat oleh teman saya, dengan mimpi besar. Saya gak ingin memperlakukannya dengan biasa. Cinnamon Rolls ini harus diperlakukan dengan sangat layak.

Waffle Terenak Jakarta: Brown Fox Waffle & Coffee

Saya lupa bagaimana tepatnya kami kenal, namun kenangan pertama pada pertemanan saya dan Echa diawali dari kedai kopi di daerah Jakarta Barat. Say Something Meruya dan Simetri Puri Indah yang sekarang pindah ke Yogyakarta. Petualangan kuliner (terutama kopi) kami  yang banyak diselipi obral-obrol cerita dan rahasia, pengetahuan dan pengalaman, terus berlanjut hingga kini.

Salah satunya hari ini di Brown Fox Waffle & Coffee Pasar Minggu (kami belum setajir itu untuk sarapan di Bali). Hasil chat tiba-tiba di hari Minggu setengah sebelas malam diawali, “Besok kemana?” berakhir dengan “Brown Fox aja yuk! Tapi selasa.” Betul aja, hari Senin saya nggak bisa bangun karena sebadan-badan sakit semua.

Processed with VSCO with 4 preset

Tepat pukul 08:00, saya datang duluan karena sangat semangat baca review dan liat foto-foto waffle mereka. Haha nggak deng, saya berangkat 07:00 dari Depok sedangkan ia 07:30 dari BSD ya jelas saya yang sampai duluan. Setelah duduk dan lihat-lihat koleksi majalah hipster mereka, saya pesan earl grey yang datang dengan tea bag beruang lagi mandi. “Lucu banget!” pikir saya, “Tapi dia mandi sendiri.”

Sekitar pukul 9 akhirnya datang juga partner icip-icip. Tanpa tunggu lama, kami pesan Salted Caramel Waffle yang jadi menu andalan. It’s exquisitely good. The texture, taste, smell, bundled up into something you never imagined. Manis asin dari saus karamel, creamy es krim vanilla, dan crunchy almond bercampur dengan tekstur luar waffle yang crispy dan tekstur dalamnya yang moist.

2019-02-19 12.26.03 1.jpg

Harumnya waffle yang menguar dari dalam dapur bikin khayalan kami merajalela. Saat datang, tampilannya cantik sekali! Echa sibuk berterima kasih pada mas-mas waffle dan kami mulai mengagumi makanan ini. Bukannya norak, tapi kami bahagia. Seperti yang sudah-sudah, pola mengagumi tampilan, harum, dan rasa makanan/minuman – ngobrol – sibuk masing-masing terulang hari ini. Kayaknya pola ini nggak akan terjadi kalau niat awal kami emang bukan untuk gawe deh.

Ini waffle ternikmat se-Jakarta yang pernah saya cicipi, Echa juga mengamini karena kemarinnya sempat coba waffle di daerah Dharmawangsa gak senikmat ini katanya.  Hari mulai siang, kami pesan salah satu pilihan savory menunya untuk mengimbangi manis-asin tadi pagi.

Processed with VSCO with  preset

“Gue ingin grilled chicken di situ, makanya pesen ini.” Saya sih percaya aja sama yang petualangan makannya lebih liar dari saya. Kami kembali tenggelam dalam layar masing-masing. Echa dengan paginya yang gelisah memilih Milky Fox. Namun karena nggak hilang, siangnya jadi ikutan saya  pesan earl grey karena chamomile habis.

Dari sudut mata dan curi dengar saya, dari awal saya datang sudah ada bapak enam puluhan datang sendiri dengan MacBook-nya, ibu lima puluhan datang untuk take-out hot cappuccino dengan rambut catok dan dress batiknya, ibu-ibu gaul dan anak-anak SD swasta semangat memilih waffle, sepasang laki-laki dan perempuan makan bersama di sisi yang berbeda dengan kami, tiga orang perempuan datang dan mengobrol dengan seru, supplier datang membawa bahan produksi, hingga abang Gojek membeli pesanan GoFood.

Saya senang melihat ragam warga ibu kota dalam budaya kuliner kafe. Saya gak tau sih ini bisa dibawa ke penelitian dengan topik spesifik seperti apa, tapi jika ada yang ingin mengangkatnya, saya sangat senang jika diajak.

Refleksi tentang Trust Issue

Trust issue menjadi masalah yang tidak terlihat namun benar adanya. Mengapa demikian? Karena saya lihat sendiri bagaimana mereka yang memiliki masalah tersebut berhati-hati memberikan kepercayaannya. Di lain sisi, saya juga melihat bagaimana orang kebanyakan (yang saya lihat di media sosial, di film, lagu) bahkan di sekitar saya menyepelekan amanah yang diberikan seseorang kepadanya berupa rasa percaya. Saya terlalu banyak melihat? Ya, karena saya akui bahwa itu salah satu keahlian saya. Saat beberapa diam untuk mengosongkan pikiran, berkhayal, atau untuk berpikir, diam saya lebih banyak untuk mengamati (berkhayal urutan kedua).

Minggu ini saya bertemu beberapa teman dekat yang menyadarkan beberapa hal terkait trust issue. Dari mereka saya mulai menghubungkan titik-titik untuk menemukan tujuan keberadaan saya di dunia ini, mengapa saya begini dan bagaimana saya dapat menyikapi banyak hal.

Continue reading “Refleksi tentang Trust Issue”

Language

Others may not understand your language, your expertise, your viewpoint, but everyone understands the language of kindness and sincerity.

Tafia, February 12, 2019