Another Cinnamon Story

Miwa, seorang teman yang cukup sering saya sebut dalam blog ini, mulai berkarya di studio panggangnya. Sebagai seorang lulusan pastry, ia kerap kali membuka pre-order kue yang didistribusikan dengan kurir online melalui layanan aplikasi. Pastry terbaru yang ditawarkannya ke pasar adalah Cinnamon Rolls dengan cream cheese frosting. Mendengar kata ‘cinnamon’ atau kayu manis membuat saya nggak mau ketinggalan batch kali ini. Langsung aja saya pesan saat kesempatannya dibuka.


Tadaa! Saya sengaja membuat konsep fotografi untuk sajian ini. Alasannya? Sesederhana saya cinta cinnamon. Ini makanan enak, yang dibuat oleh teman saya, dengan mimpi besar. Saya gak ingin memperlakukannya dengan biasa. Cinnamon Rolls ini harus diperlakukan dengan sangat layak.
Advertisements

Waffle Terenak Jakarta: Brown Fox Waffle & Coffee

Saya lupa bagaimana tepatnya kami kenal, namun kenangan pertama pada pertemanan saya dan Echa diawali dari kedai kopi di daerah Jakarta Barat. Say Something Meruya dan Simetri Puri Indah yang sekarang pindah ke Yogyakarta. Petualangan kuliner (terutama kopi) kami  yang banyak diselipi obral-obrol cerita dan rahasia, pengetahuan dan pengalaman, terus berlanjut hingga kini.

Salah satunya hari ini di Brown Fox Waffle & Coffee Pasar Minggu (kami belum setajir itu untuk sarapan di Bali). Hasil chat tiba-tiba di hari Minggu setengah sebelas malam diawali, “Besok kemana?” berakhir dengan “Brown Fox aja yuk! Tapi selasa.” Betul aja, hari Senin saya nggak bisa bangun karena sebadan-badan sakit semua.

Processed with VSCO with 4 preset

Tepat pukul 08:00, saya datang duluan karena sangat semangat baca review dan liat foto-foto waffle mereka. Haha nggak deng, saya berangkat 07:00 dari Depok sedangkan ia 07:30 dari BSD ya jelas saya yang sampai duluan. Setelah duduk dan lihat-lihat koleksi majalah hipster mereka, saya pesan earl grey yang datang dengan tea bag beruang lagi mandi. “Lucu banget!” pikir saya, “Tapi dia mandi sendiri.”

Sekitar pukul 9 akhirnya datang juga partner icip-icip. Tanpa tunggu lama, kami pesan Salted Caramel Waffle yang jadi menu andalan. It’s exquisitely good. The texture, taste, smell, bundled up into something you never imagined. Manis asin dari saus karamel, creamy es krim vanilla, dan crunchy almond bercampur dengan tekstur luar waffle yang crispy dan tekstur dalamnya yang moist.

2019-02-19 12.26.03 1.jpg

Harumnya waffle yang menguar dari dalam dapur bikin khayalan kami merajalela. Saat datang, tampilannya cantik sekali! Echa sibuk berterima kasih pada mas-mas waffle dan kami mulai mengagumi makanan ini. Bukannya norak, tapi kami bahagia. Seperti yang sudah-sudah, pola mengagumi tampilan, harum, dan rasa makanan/minuman – ngobrol – sibuk masing-masing terulang hari ini. Kayaknya pola ini nggak akan terjadi kalau niat awal kami emang bukan untuk gawe deh.

Ini waffle ternikmat se-Jakarta yang pernah saya cicipi, Echa juga mengamini karena kemarinnya sempat coba waffle di daerah Dharmawangsa gak senikmat ini katanya.  Hari mulai siang, kami pesan salah satu pilihan savory menunya untuk mengimbangi manis-asin tadi pagi.

Processed with VSCO with  preset

“Gue ingin grilled chicken di situ, makanya pesen ini.” Saya sih percaya aja sama yang petualangan makannya lebih liar dari saya. Kami kembali tenggelam dalam layar masing-masing. Echa dengan paginya yang gelisah memilih Milky Fox. Namun karena nggak hilang, siangnya jadi ikutan saya  pesan earl grey karena chamomile habis.

Dari sudut mata dan curi dengar saya, dari awal saya datang sudah ada bapak enam puluhan datang sendiri dengan MacBook-nya, ibu lima puluhan datang untuk take-out hot cappuccino dengan rambut catok dan dress batiknya, ibu-ibu gaul dan anak-anak SD swasta semangat memilih waffle, sepasang laki-laki dan perempuan makan bersama di sisi yang berbeda dengan kami, tiga orang perempuan datang dan mengobrol dengan seru, supplier datang membawa bahan produksi, hingga abang Gojek membeli pesanan GoFood.

Saya senang melihat ragam warga ibu kota dalam budaya kuliner kafe. Saya gak tau sih ini bisa dibawa ke penelitian dengan topik spesifik seperti apa, tapi jika ada yang ingin mengangkatnya, saya sangat senang jika diajak.

Observasi Minggu Pertama

Mulai Selasa, saya akan bolak-balik rumah dan WTC setiap hari kerja selama 8 jam + 1 jam istirahat. Status yang bukan karyawan tetap memberi efek upah yang tidak seberapa. Istilahnya, hanya cukup ongkos dalam sehari. Untuk tetap bisa berhemat mengikuti arus para eksekutif yang berkarier di ibu kota, saya coba berbagai hal untuk menemukan cara paling murah selama tiga bulan ke depan.

Selasa, 2 Oktober 2018 = Gojek

Berangkat sampai stasiun dianter Idun sekalian pemantapan di sekolah, yang mana ia harus sampai pukul 06:00. Pukul berapa kita keluar rumah? Pukul 05:45. Saya melakukan ini itu, menunggu, berangkat dari Stasiun Pondok Cina pukul 06:45. Cukup ganas, saya akui. Mungkin para pekerja mengejar masuk kantor pukul 08:00. Sampai di stasiun, saya leha-leha lalu naik Gojek Rp9.000,- sampai pukul 07:55, padahal diminta datang pukul 09:00 hehe. Emang suka gitu karena terlalu semangat. Biar gak bosen jadi keliling, alesannya mau ke Family Mart lewat pos di tengah. Scanning hari pertama oke, ada bakery, Auntie Ann’s, Family Mart, Chatime, Starbucks, Guardian, dan lainnya. Continue reading “Observasi Minggu Pertama”

Diam

Aku berusaha, kau tahu? Berusaha mempercepat prosesnya agar tidak terlalu lama tenggelam dalam rasa sesak, dengan mencoba sangat-sangat biasa di depanmu.

Melihat siluetmu yang baru datang dari balik kaca buram, dengan perpaduan warna merah dan putih, memberiku tekad, “Aku bisa, lihat ya.”

Nyatanya, teko leher angsa yang airnya mengaduk-aduk bubuk kopi di atas coffee filter jadi agak bergetar setelah aku berhasil menyapamu seperti aku menyapa yang lain. Jemariku langsung dingin. Sial, hardikku dalam hati. Untungnya, getaran teko leher angsa itu tidak terlalu kentara untuk disadari seisi ruang. Jangan lihat, jangan lihat, aku mengingatkan mata untuk tetap fokus pada bubuk kopi yang blooming di depan mata. Kopi sudah jadi, aroma menguar, aku keluar, bergabung di meja dengan yang lain. Aku memfokuskan diri pada fakta bahwa teman-temanku belum mengabari untuk selebrasi sidang hari itu. Lihat grup, jangan lihat ke samping. Nikmati kopimu, rasakan aftertaste banana dan caramel-nya. Fokus, jangan lihat ke samping. Kataku dalam hati, di pojok ruangan, di meja untuk berdua, di samping tas-tas, sejajar horizontal denganmu. Sial, hardikku lagi setelah diberi kabar bahwa selebrasi sedang dilangsungkan. Aku harus pergi sekarang. Maka aku pamit, dengan tidak melihatmu. Menghindari kontak mata atau hal-hal personal lainnya. Menjaga nada suara untuk tetap biasa, menyembunyikan rasa yang sejak tadi berusaha menarik ujung-ujung bibir untuk tersungging.

Ini, aku lampirkan lagu yang ingin aku kirimkan sebagai pesan untukmu. Baca ya liriknya. Aku tahu kamu tahu, kan aku tahu lagu ini juga dari kamu.

Payung Teduh – Diam

Tebaran merah dilemparkan matahari

Dia bercengkrama diujung langit

Bayangan terpaku di tanah

Jiwaku tenggelam di dasar rumput

Aku ingin melihatmu dalam gelap

Yang mulai datang

Aku ingin menyelamimu

Dalam risau yang sering datang Aku ingin diam bersamamu

Dalam rangkulan malam

The Royal Tenenbaums dan Arti dari Kenyataan

Beberapa minggu terakhir ini saya mengurung diri di gua. Gua yang dimaksud adalah ruang pribadi di mana saya dapat sendiri dan fokus untuk mengerjakan yang harus dikerjakan. Pernah saya coba ikut teman untuk menatap laptop dan membiarkan jari menari di atas tuts-tuts penuh huruf and angka, di salah satu toko donat 24 jam. Nyatanya, tidak bisa. Terlalu banyak distraksi seperti suara pintu geser, orang datang dari arah belakang, orang datang dari arah depan, ingin menoleh ke seberang jalan untuk sekedar melihat siluet dan bertanya-tanya manakah siluetnya.

Saya membatasi pertemuan, di mana hanya mereka yang saya yakin tidak akan menyebabkan gejolak dada dan perut, dosen, pihak yang berkepentingan, dan mereka yang meminta untuk bertemu. Saya membatasi kegiatan, informasi, juga topik-topik yang dapat memicu excitement saya. Pembatasan ini dilakukan karena saya sadar bahwa saya mudah terdistraksi dan mudah berubah mood. Lalu, pengetahuan baru akan diri sendiri muncul: semakin saya berusaha fokus, otak saya semakin ramai dengan fantasi yang masuk akal maupun yang tidak, dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak mampu jawab sendiri, serta kemungkinan yang dapat terjadi dari nilai 0,5-100. Bila tidak dikeluarkan, rasanya akan sangat tidak nyaman. Maka terkadang saya limpahkan ke twitter, lalu nanti dihapus.

Jadi jika saya ramai di timeline dengan fantasi, bukan berarti tidak ada kerjaan. Saya menenangkan otak saya agar tidak meledak jadi partikel warna-warni berkilauan, agar tidak kepenuhan hingga membuat sesak atau tenggelam di dalamnya. Mudah membuat saya tidak sesak dengan mengalihkan fokus ke hal lain, tapi saya sedang tidak bisa tenggelam.

Berlebihan? Tentu, saya juga sadar. Ini baru bagi saya. Saya pernah berusaha sesantai biasanya, sesantai waktu itu, namun tidak mempan. Setelah ditelaah, memang ritme hidup saya sudah berubah dibanding masa SMA. Maka, perlakuan pada diri sendiri juga ikut berubah.

Wall of thoughts, will be more than this i guess

Setelah merasa lelah bila harus menghapus-hapus tweet, saya belajar untuk membuat catatan-catatan agar selanjutnya saat berkesempatan, dapat diakses kembali untuk dicari jawabannya. Agar tidak tercecer, catatan-catatan tersebut saya tempel di tembok. Namun, dua minggu terakhir ini agak berbeda. Setiap kembali dari kampus, saya selalu menyempatkan diri untuk menonton satu atau dua film dan mulai menyentuh novel.

Salah satu pertanyaan yang menggantung, yang tiba-tiba muncul kembali setelah nonton The Royal Tenenbaums:

Mengapa saat seseorang mengalami kesulitan suka ditanggapi dengan “Welcome to the real world!” seakan realitas atau kenyataan berisi hal-hal tidak menyenangkan, menyedihkan, menyulitkan.

Jadi, apakah harus mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan untuk masuk atau berada dalam sesuatu yang dianggap nyata?

Setelah nonton film besutan Wes Anderson tersebut, saya agak sedikit lega. Diceritakan bahwa Chas, Margot, dan Eli punya masalahnya masing-masing. Sampai Margot yang menyimpan banyak rahasia, akhirnya terbongkar juga.

Ethelene: but I think he’s been very depressed.

Margot : so am I.

Saya agak lega bahwa film ini dapat menggambarkan bahwa semua orang punya masalah, ceritanya mengalir tentang hidup yang tidak melulu baik. Film ini menceritakan tentang ‘kegelapan’.

Begini: kalau selama ini kemalangan dianggap sebagai kenyataan dan kebahagiaan merupakan hal yang fiktif, film ini fiktif dan menceritakan tentang kemalangan. Jadi, kebahagiaan (seharusnya) dapat pula dianggap sebagai suatu kenyataan.

Hal ini berhubungan dengan pertanyaanku ke Syifa, seorang sarjana psikologi yang sedang berusaha mewujudkan mimpi untuk meneruskan kuliah di luar negeri (IYA KAMU BISA AKU YAKIN, SEMANGAT YA!), pada Mnggu pagi kemarin:

“Aku kan mudah seneng. kemarin baru sadar ternyata kesenanganku bisa tumbuh dari memori dan imajinasi. memori dan imajinasi itu kan gak nyata, tapi efek yang ditimbulkannya nyata. tau nyatanya karena bikin aku semangat, berenergi, jadi mau aktif dll. tapi sempet mikir juga apa jangan-jangan rasa seneng yang dirasain itu gak nyata. selama kamu kuliah, pernah ada penjelasannya ga tentang itu? aku mau nyari di Google juga bingung keywordnya apa.”

Kesadaran ini cukup mengganggu, karena akhir-akhir ini saya sangat kesal jika disikapi dengan tidak serius. Maksudnya, saya sampai merasa bahwa saya sedang butuh kejujuran dan ketulusan dari orang-orang karena tidak punya kekuatan untuk menghadapi yang palsu-palsu. Karena pikiran ini, saya takut bahwa selama ini saya memalsukan rasa bahagia yang dirasakan. Tapi apa bisa memalsukan rasa? Perkara rasa yang waktu itu saja belum dapat jawaban, muncul lagi perpanjangan tangannya.

Setelah menonton, saya baca deskripsi The Royal Tenenbaums memang mengandung apa yang disebut dengan “dark comedy”. Bahwa fiksi ini menceritakan tentang ironi, maka yang nyata dapat berupa kepositifan. Masih ada harapan untuk menjadikan dunia, khususnya dunia sendiri, menjadi lebih cerah dan lebih bermakna.

Di Altar

Sebuah iseng berdiri di atas sofa, di bawah lampu sorot ala ala, dengan penekanan suka-suka, berbuah rekaman suara.

Salam,

tiga pagi.

May Day

Pernah liat dokumentasi kegiatan di @POST_santa tentang menulis suka-suka berupa puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang merupakan interpretasi dari photobook berjudul InTransit:23 karya Fransisca Angela. Ketertarikan itu aku bagi di twitter dan coba minta dikabari kalo ada yang punya photobook untuk dipinjam. Karena gak ada yang bilang-bilang, akhirnya terlupa. Kemarin (30/4) liat ada photobook Diana F+ More True Tales & Short Stories di KUNST House. Setelah izin sama Galih (sebagai empunya) untuk dibawa balik ke kosan, aku berencana merayakan Hari Buruh ini dengan bikin puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang terinspirasi dari photobook. Ini bukunya:

2018-05-02 07.04.48 1.jpg
Society of Lomographers. Diana F+ : More True Tales & Short Stories. 2007. Vienna: Lomographic Society International.

Gak semua foto dikembangkan, hanya beberapa yang menurutku menarik:

Continue reading “May Day”

Kecenderungan yang Kurang Tepat, Tergantung pada Perspektif

Beberapa hari lalu setelah berkontemplasi dari hasil mempelajari agar lebih mengerti seseorang, sebut saja si A, tercetus sebuah kalimat yang dapat diaplikasikan ke berbagai pihak dan dalam situasi yang beragam: “kita cenderung memperlakukan orang lain dengan cara bagaimana kita ingin diperlakukan dan/atau cara yang kita ketahui, bukan memperlakukan orang lain dengan bagaimana mereka ingin diperlakukan dan/atau cara yang mereka ketahui.” Kalimat ini muncul setelah adanya penjelasan singkat hasil ngobrol-ngobrol tentang kerjaan. Lalu obrolan meluncur ke berbagai individu yang terlibat dalam kerjaan tersebut, lalu pemimpin diskusi mendeskripsikan cara memperlakukan si A saat ia sedang tidak dalam mood yang bagus. Kurang lebih kalimatnya seperti ini,

“Kalau lihat teman saya yang itu diam saja dengan muka ditekuk, gak usah digubris ya. Ngomong seperlunya aja, diemin aja, nanti malah kamu yang kena semprot. Dia emang begitu, bukan kamu yang salah kok, jangan diambil hati ya. Nanti juga baik sendiri.”

Continue reading “Kecenderungan yang Kurang Tepat, Tergantung pada Perspektif”

A Poem

To celebrate the World Poetry Day on March 21st, my best-not-so-like-to-celebrate-anything-friend offered to make me a poem. She asked the theme, then I gave her some words to use to make her less complicated in making the poem. One day later, she gave me the link to her poem. So, here it is

Tikam Menikam