Dear Mas

It’s funny how we used to be “adek-kakak” for the sake of using “aku-kamu” and now the term has shifted to “mas” to mimic your sister, as well as the feeling I had,  has gone for good. Instead, it turned into something beyond. The most genuine I’ve known my whole life, when I only want you to have the best of the best, to do what you desired, be there when you need without being selfless, being open as we become a super best friends like family. Your inspiring bunda feels like mine, your lil’ sister matches my spirit animal.

Thank you Mas for everything. For years you taught me how to be strong, to recognize feelings I hardly understand by the aching in my chest, invited me to whatever projects you held, gave me chances to grow and develop myself, let me have a spot in your life.

You were my inspiration to write, my motivation to learn about short movie production, to express myself, to keep on smiling, etc. Those things internalized and became some things I enjoy. You might be the one who lit the fire, but I’m the one who keeps it alive. You’re the reason why I started, but I’m the reason why I keep going.

Hope you’ll never burn our bridge that has built for years, because I won’t let anyone who came and ever stayed, leave. Once you live in me, you’ll be there forever. Even if one day someone builds a home in me, everyone will still have their place. My heart is quite big to love them all, that’s why I do Priority. Who’s mattered come first. Looking forward to our extraordinary journey ahead! The challenges, mysteries to be solved, things to be made, knowledge to be delivered, etc. Wish you’ll get tons of luck!

Happy birthday,
Love you, but in a different way.

Advertisements

“Cha, makasih ya.”

“Iya mas, makasih juga. Kalo kemarin gue bilang gak bisa, mas kepikirannya siapa?”

“Gak ada, ya dikerjain sendiri. Belom ada yang bisa gantiin lo sama si Ndut. Gak tau deh bakal ada atau enggak.”

“Gak apa-apa, gue gak kemana-mana. Sekarang gue gak nyari mas, nunggu orang yang cari gue.”

“Kayak Yana?”

“Iya, kayak Yana. Dia hampir selalu nyari gue, makanya gue cari balik. Dengan kayak gitu, gue jadi tau siapa yang mau untuk gue isi hari-harinya, gue temenin, dengerin ceritanya, ketawa bareng, lengkapi idenya, diskusi untuk cari solusi, dipahami dan memahami, bantu kalo ada masalah.”

Tentang titik pertemuan; menemukan atau ditemukan, mencari atau dicari. Saling.

Matanya menghangat, larut dalam rasa takut. Seperti berjalan dalam ruang penuh kaca tipis. Salah salah bisa terinjak dan pecah, merusak kaca menjadi kepingan, juga melukai kaki hingga mengalir darah. Menyudutkan keinginan untuk memiliki harapan.

Matanya menghangat, ingin lelap dalam larutnya malam. Namun kata-kata membajak ke sudut-sudut pikirannya. Mencoba menjelaskan seonggok rasa. Orang bilang sulit deskripsikan rasa, yang lain bilang coba saja tidak akan dosa.

Maka ia coba merangkai kata. Satu demi satu. Usaha yang sia-sia, sepertinya. Karena kepala mulai berputar seiring beratnya mata, mendesak ingin terkatup. Membawanya ke alam mimpi, untuk sejenak melupakan kegundahan.

Orang bilang, tidur adalah cara terbaik untuk sekedar rehat dari segala masalah. Bukan masalahpun, rasanya kata-kata yang menggerayangi dapat sirna seketika. Maka ia coba merebahkan kepala, bersama rintik hujan yang mulai mengetuk jendela.

Matamu bermain
menatap lalu berpaling
menerawang ke awang-awang
lalu tersenyum
sedikit menahan tawa
mungkin malu
mungkin canggung
entahlah

Maaf
aku yang spontan ini
menyambut mereka
yang lama tidak terlihat
menyapa dengan semangat
karena
terlalu senang
terkesan sangat dekat
padahal tidak sedekat
yang mungkin dipikirkan
tapi inilah aku,
yang sekarang

Kembali ke jalur obrolan,
pada jarak proksemik
level pertama,
matamu bermain
menatap lalu berpaling
menerawang ke awang-awang
namun tidak tersenyum
terjadi perubahan yang dirasa
atas sikapku
beberapa menit lalu

Tidak perlu mengaku
aku sudah tahu
dari sikap itu
bahwa kamu
tidak suka begitu
tidak apa
mungkin aku akan
melakukan
yang
sama
sepertimu

“Sometimes you just need a good talk with the right one.” – Annonymous

Langit sore terang benderang, hawanya terlalu menyengat untukku, yang terbiasa dengan suhu sejuk kaki gunung. Nyalanya pendingin ruangan juga tidak ada guna, apalagi ruang ini terang dan freon yang semakin menipis. Entah bagaimana, layanan servis AC bahkan tidak dapat digubris dari sehari sebelum Natal hingga sehari setelahnya. Tidak membantu.

Akupun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur yang terlalu memanjakan tulang punggung.

Continue reading ““Sometimes you just need a good talk with the right one.” – Annonymous”

Sayup

Sayup kereta terdengar dari kejauhan.
Memberikan suara pada malam dingin di kota ini.
Musim belum juga berganti,
namun tanda-tandanya sudah dapat diamati.

Sayup pesawat terdengar dari atas sana.
Membuat khayal berkelana kesana-kemari.
Tidak untuk menemani dalam sunyi,
tidak pula untuk sedikit bernyanyi.

Sayup azan terdengar dari sisi barat.
Menyadarkan pagi datang memanggil.
Menghempaskan rasa dingin yang mengigil,
untuk segera membasuh tubuh dan menghadap sang ilahi.

Sayup riuh cengkrama terdengar.
Suara yang dikenal menjalarkan getar.
Suara yang dikenal kepunyaanmu, rupanya.
Sayup riuh mimpi semalam tadi, benar adanya.

_____

Riung Endah, Bandung, Agustus 2017

Minggu Bersama Ia, Orang Itu, dan Dua Sejoli

Pagi itu, bangun pagi merupakan kegiatan yang menyenangkan untuknya. Menyambut hari dimana ia akan melakukan hal lain bersama orang itu. Menorehkan kenangan lain bersama orang itu. Membantu orang itu mengerjakan pekerjaannya yang (biasanya) melelahkan. Menjadi satu atau dua alasan pekerjaan tersebut berjalan dengan baik. Ia tidak berharap lebih. Nyatanya, ia mendapatkan lebih.

Mungkin memang begitu cara mainnya. Saat tidak ada harapan, hal baik terjadi. Tapi, harapan mengarahkan kita kepada hal baik. Atau, cara main sesungguhnya hanya semesta yang mengetahui. Ia bertemu orang baru, para rekan–dua sejoli yang datang untuk membantu orang itu. Berkenalan, berbincang, mengetahui bagaimana cara orang lain memandang dunia, merupakan ke-lebih-an yang ia rasakan.

Ia menunggu di suatu titik kesepakatan. Dari kejauhan, orang itu datang. Wajahnya memang tidak terlalu jelas akibat pantulan cahaya pada kaca. Namun siluetnya dan plat yang ia kenal, membuatnya menyunggingkan senyum hingga deretan gigi mengintip. Ia masuk ke sisi penumpang, disamping orang itu. Ia dan orang itu mulai bertukar cerita satu sama lain. Menerabas lengangnya jalanan pagi itu. Tidak ada lagi gendang bertalu-talu di dalam dadanya. “Oh mungkin memang sudah selesai,” pikirnya. Namun yang lain menyanggah. “Inilah bagian yang kamu sisakan untuknya, agar tidak sulit membangkitkan rasa jika kemungkinan yang diharapkan terjadi. Kamu ingat kan pernah berkata untuk tidak menghapus seluruh rasamu?” 

Mencapai tempat tujuan di daerah Ciomas, Ia bertemu dengan dua sejoli dan mulai membantu. Menyiapkan apa yang butuh disiapkan, membereskan apa yang butuh dibereskan. Sambil menikmati apapun yang bisa ia lakukan, ia menatap jauh kepada orang itu. Memandang orang itu, yang sedang bertukar ide dengan dua sejoli. Membidik pula sasarannya yang diproses menjadi jutaan gambar bergerak. Mengarahkan Para Pemain untuk melakukan apa yang orang itu inginkan. Rasanya ia belum puas. Jika jauh hanya menatap seadanya, jika dekat hanya bisa mencuri pada lirikan.

Berpindah ke tempat selanjutnya ke Bogor kota. Orang itu memintanya untuk ‘lebih’ membantu. Ia melakukan apapun agar pekerjaan hari itu berjalan lancar. Ia berjalan bersama orang itu mencari spot untuk footage yang menarik. Ia membantu salah satu dari dua sejoli untuk menyiapkan scene selanjutnya. Setelah selesai, ia menyusul orang itu ke tempat yang mereka harus kunjungi demi kepentingan pengambilan gambar.

Berpindah ke tempat selanjutnya, saat tamu reguler datang membawa gerombolan rintik yang menyelimuti taman. Menembus kain dan menghalang pandangan. Padahal sebenarnya belum selesai. Orang itu akhirnya membuat penutup darurat dari ide yang bisa ia manfaatkan. Kami semua berteduh di salah satu gedung dekat situ. Menghindari tamu yang sedang menari di bawah jutaan butir air di udara, yang menghujam tiba-tiba.

Berpindah untuk kembali, begitu katanya. Ia, orang itu, serta dua sejoli membahas segala hal. Menertawai yang dimengerti maupun tidak, sembari menyantap satu kilometer ke kilometer berikutnya. Sampai akhirnya, iapun pamit untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Hujan Malam Itu

Suara rintik berpadu dengan melodi dalam ruang
Menemani wajah-wajah lelah yang sedang menuju pulang
Merambat indah diantara kaca yang bergetar
Bertemu, bersatu padu di bawah cahaya lampu jalan yang berpendar

Keabsenan cengkerama antara kami berlanjut
Sampai ia yang memecah dengan pertanyaan sederhana
Saking sederhananya hingga membuatku terkejut
Bagaimana hal tersebut dapat terpikir olehnya

Beberapa kali aku memulai dan menimpali
Berusaha mengenal dan menggali
Sejauh apa kelupaannya mengenai hari-hari
Masa dimana kami setiap hari berkomunikasi

Seiring kilometer bertambah satu-satu
Suara cengkerama tidak lagi mengalir
Membiarkan pendengaran menikmati hujan malam itu
Hingga jalan berputar, rem diinjak, dan perjalanan berakhir

Inspired by: that rainy night and the beautiful couple sat behind us

_____

Tebet, Jakarta, Juli 2017