Riuhnya Ingatan

Related to my post last year.

Advertisements

Sayup

Sayup kereta terdengar dari kejauhan.
Memberikan suara pada malam dingin di kota ini.
Musim belum juga berganti,
namun tanda-tandanya sudah dapat diamati.

Sayup pesawat terdengar dari atas sana.
Membuat khayal berkelana kesana-kemari.
Tidak untuk menemani dalam sunyi,
tidak pula untuk sedikit bernyanyi.

Sayup azan terdengar dari sisi barat.
Menyadarkan pagi datang memanggil.
Menghempaskan rasa dingin yang mengigil,
untuk segera membasuh tubuh dan menghadap sang ilahi.

Sayup riuh cengkrama terdengar.
Suara yang dikenal menjalarkan getar.
Suara yang dikenal kepunyaanmu, rupanya.
Sayup riuh mimpi semalam tadi, benar adanya.

_____

Riung Endah, Bandung, Agustus 2017

Minggu Bersama Ia, Orang Itu, dan Dua Sejoli

Pagi itu, bangun pagi merupakan kegiatan yang menyenangkan untuknya. Menyambut hari dimana ia akan melakukan hal lain bersama orang itu. Menorehkan kenangan lain bersama orang itu. Membantu orang itu mengerjakan pekerjaannya yang (biasanya) melelahkan. Menjadi satu atau dua alasan pekerjaan tersebut berjalan dengan baik. Ia tidak berharap lebih. Nyatanya, ia mendapatkan lebih.

Mungkin memang begitu cara mainnya. Saat tidak ada harapan, hal baik terjadi. Tapi, harapan mengarahkan kita kepada hal baik. Atau, cara main sesungguhnya hanya semesta yang mengetahui. Ia bertemu orang baru, para rekan–dua sejoli yang datang untuk membantu orang itu. Berkenalan, berbincang, mengetahui bagaimana cara orang lain memandang dunia, merupakan ke-lebih-an yang ia rasakan.

Ia menunggu di suatu titik kesepakatan. Dari kejauhan, orang itu datang. Wajahnya memang tidak terlalu jelas akibat pantulan cahaya pada kaca. Namun siluetnya dan plat yang ia kenal, membuatnya menyunggingkan senyum hingga deretan gigi mengintip. Ia masuk ke sisi penumpang, disamping orang itu. Ia dan orang itu mulai bertukar cerita satu sama lain. Menerabas lengangnya jalanan pagi itu. Tidak ada lagi gendang bertalu-talu di dalam dadanya. “Oh mungkin memang sudah selesai,” pikirnya. Namun yang lain menyanggah. “Inilah bagian yang kamu sisakan untuknya, agar tidak sulit membangkitkan rasa jika kemungkinan yang diharapkan terjadi. Kamu ingat kan pernah berkata untuk tidak menghapus seluruh rasamu?” 

Mencapai tempat tujuan di daerah Ciomas, Ia bertemu dengan dua sejoli dan mulai membantu. Menyiapkan apa yang butuh disiapkan, membereskan apa yang butuh dibereskan. Sambil menikmati apapun yang bisa ia lakukan, ia menatap jauh kepada orang itu. Memandang orang itu, yang sedang bertukar ide dengan dua sejoli. Membidik pula sasarannya yang diproses menjadi jutaan gambar bergerak. Mengarahkan Para Pemain untuk melakukan apa yang orang itu inginkan. Rasanya ia belum puas. Jika jauh hanya menatap seadanya, jika dekat hanya bisa mencuri pada lirikan.

Berpindah ke tempat selanjutnya ke Bogor kota. Orang itu memintanya untuk ‘lebih’ membantu. Ia melakukan apapun agar pekerjaan hari itu berjalan lancar. Ia berjalan bersama orang itu mencari spot untuk footage yang menarik. Ia membantu salah satu dari dua sejoli untuk menyiapkan scene selanjutnya. Setelah selesai, ia menyusul orang itu ke tempat yang mereka harus kunjungi demi kepentingan pengambilan gambar.

Berpindah ke tempat selanjutnya, saat tamu reguler datang membawa gerombolan rintik yang menyelimuti taman. Menembus kain dan menghalang pandangan. Padahal sebenarnya belum selesai. Orang itu akhirnya membuat penutup darurat dari ide yang bisa ia manfaatkan. Kami semua berteduh di salah satu gedung dekat situ. Menghindari tamu yang sedang menari di bawah jutaan butir air di udara, yang menghujam tiba-tiba.

Berpindah untuk kembali, begitu katanya. Ia, orang itu, serta dua sejoli membahas segala hal. Menertawai yang dimengerti maupun tidak, sembari menyantap satu kilometer ke kilometer berikutnya. Sampai akhirnya, iapun pamit untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Hujan Malam Itu

Suara rintik berpadu dengan melodi dalam ruang
Menemani wajah-wajah lelah yang sedang menuju pulang
Merambat indah diantara kaca yang bergetar
Bertemu, bersatu padu di bawah cahaya lampu jalan yang berpendar

Keabsenan cengkerama antara kami berlanjut
Sampai ia yang memecah dengan pertanyaan sederhana
Saking sederhananya hingga membuatku terkejut
Bagaimana hal tersebut dapat terpikir olehnya

Beberapa kali aku memulai dan menimpali
Berusaha mengenal dan menggali
Sejauh apa kelupaannya mengenai hari-hari
Masa dimana kami setiap hari berkomunikasi

Seiring kilometer bertambah satu-satu
Suara cengkerama tidak lagi mengalir
Membiarkan pendengaran menikmati hujan malam itu
Hingga jalan berputar, rem diinjak, dan perjalanan berakhir

Inspired by: that rainy night and the beautiful couple sat behind us

_____

Tebet, Jakarta, Juli 2017

Suaramu Lewat Telepon

Suara itu berubah seiring waktu,

semakin berat dari terakhir kali suara kita bertemu,

yang dirasa memang tidak sekuat dulu,

namun masih terjaga dari masa lalu.

__________

Inspired by: percakapan singkat tentang kerjaan, bukan perasaan, lewat telepon (yang sekarang banyak gratisnya, gak lagi harus bayar sembilan ratus ribu rupiah per bulan).

Lol, it was funny how we tried to quip covertly on each other but stay cool afterward.

– Between a super delicious-giant-portion dinner, etc.

Butuh Kreatifitas Agar Pertemuan Terjadi

Seorang teman bilang kalau itu hanya bisa-bisaan pribadi saja. Memang benar.

Aku lihat keadaanmu, aku analisis sisiku dalam kegiatanmu. Lalu aku jadikan kamu sebagai bagian dari kegiatanku, sebagai alasan agar pertemuan terjadi, untuk memberimu tempat kecil dalam kehidupanku, agar komunikasi terasa hidup. Untuk itu, aku harus memutar otak, menjadi kreatif, menciptakan simbiosis mutualisme, meskipun sebenarnya lebih cocok disebut simbiosis komensalisme. Karena (sepertinya) hanya aku yang merasa. Orang sepertimu hanya terlalu baik, itu saja.

Lihat? Bahkan aku tidak lagi ada keberanian untuk berharap,

seperti yang lalu-lalu.

Pengalaman mengajariku banyak hal,
membuatku berhati-hati dalam bersikap,
terlebih urusan hati.
Apalagi padamu.
Hah.

Semua hanya…

Untuk membuatmu tetap ingat padaku,
walau hanya satu hari dalam satu tahun.
Karena aku bukan apa-apa,
bukan siapa-siapa.
Hanya seseorang yang masih mengingat,
masih menjaga,
masih bercerita,
tentang kebodohan(ku) dan
harapan(mu) yang pernah ada.

Though you weren’t mine

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine,
You were my first love.

I wanted to go away with you,
And I will leave all my troubles here.
I wanted to run away with you,
And I will bring all my dreams and fears.

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine…
Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine

Though you weren’t mine,
You were my first love.
You were my first love.

I wanted to start again with you,
And I will leave all my worries here.
I wanted only you.
I know that I felt with you.

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine…
Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine,

Though you weren’t mine,
You were my first love.
You were my first love.
You were my first love.
You were my first love.

01:59

Apa kabar?

Ada yang tersembunyi di balik bibirmu yang terkatup.
Entah kamu yang menghindarinya untukku
atau untukmu.
Tidak semua yang terjadi, kamu ceritakan.
Hanya mengikuti arus-arus topik yang aku bawa tanpa kamu mengarahkannya.

Katamu, berbuat baik lah.
Kataku, berharaplah.

Tapi memiliki harapan tidak semudah kedengarannya.
Ada rasa yang tetap dijaga demi keutuhan diri
dengan tidak menuntut apa-apa

Sebuah pertemuan boleh dianggap lalu,
namun tidak ada yang tahu bagaimana kesempatan tersebut
mengakibatkan gejolak pada yang lain.

Malam yang Terjaga

Ingin rasanya menyinggung tentang Kita. Tapi aku tidak bisa mengatakannya.
Atau lebih tepatnya tidak mau, karena takut.
Terlalu takut,
takut menghancurkan malam.

Aku sudah lihat usahamu untuk tidak menyebutkan kata-kata sensitif.
Dengan handal kamu berhasil membaca suasana, memprediksi apa yang akan terjadi jika mengatakan ini dan itu.
Bukan untukmu, namun untukku.

Jadi, terima kasih.
Untuk tidak menghancurkan malamku.
Maka akupun tidak sampai hati,
untuk menghancurkan malammu.

Malam senin, the deadline