Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo

Siapa yang gak tau lagunya iklan Teh Sariwangi yang pakai osmofilter? Well, ada sih. Tapi rata-rata pasti pernah liat di TV atau YouTube. Jingle yg dinyanyiin Inneke Koesherawati itu sangat ikonik, sederhana, tapi bisa mendeskripsikan produk dengan begitu singkat dan padat. Meskipun udah lama, sayangnya gue baru sadar beberapa hari lalu. Haha, telat banget sih. Tapi ya gapapa daripada gak sadar sama sekali.

Coba kita nyanyiin:
Continue reading “Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo”

Advertisements

Though you weren’t mine

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine,
You were my first love.

I wanted to go away with you,
And I will leave all my troubles here.
I wanted to run away with you,
And I will bring all my dreams and fears.

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine…
Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine

Though you weren’t mine,
You were my first love.
You were my first love.

I wanted to start again with you,
And I will leave all my worries here.
I wanted only you.
I know that I felt with you.

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine…
Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine,

Though you weren’t mine,
You were my first love.
You were my first love.
You were my first love.
You were my first love.

Rangga, Bandara Kepastian

Dari jendela
kau melihat bintang-bintang tanggal
satu demi satu
berulang mengucapkan
selamat tinggal

kadang ku pikir
lebih mudah mencintai semua orang
dari melupakan satu orang

jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantung
mereka yang datang kemudian
hanya menyentuh kemungkinan

–AADC 2

Ditampar Video: Web Series SORE dan Interview Sociolla

Setelah kemarin aku dibuat terkesima serta baper mampus oleh web series dari Tropicana Slim yang baru, SORE, aku jadi teringat web series keluaran Axe edisi Keenan Pearce jaman kapan yang saking ngenanya, sampai aku tulis. Lagi asyik nonton ulang, ada video rekomendasi yang diupload Sociolla. Video itu berupa wawancara singkat Keenan Pearce dan Ananda Putra tentang kehidupan mereka. Sebenernya biasa sih, tapi ada satu hal yang membuatku tercengang karena ‘menendang’ kegundahan akhir-akhir ini. Kata Keenan,

Continue reading “Ditampar Video: Web Series SORE dan Interview Sociolla”

Understood, Capt!

Minggu pagi setelah aktivitas rutin (menonton Doraemon), aku lanjutkan dengan menyetel Captain Fantastic (2016) dari Yana. Karena toh hari ini tidak ada rencana maupun kekuatan untuk kemana-mana, satu film bisa lah ya. Seekor rusa yang lagi jalan santai di tengah hutan mengawali film. Beberapa menit kemudian terlihat seorang berwajah hitam  karena lumpur mengintip dari balik semak, mengintai. Dengan kelihaiannya, si Rusa ditangkap, dibeset lehernya hingga darah habis, lalu diseret ke sungai untuk dibersihkan. Orang berwajah hitam lain datang dari segala sisi, menyaksikan orang yang menerjang rusa tadi diresmikan kedewasaannya oleh si tertua, dengan darah rusa yang dioleskan ke T-Zone dan disuruh memakan entah jantung atau hati.

“Yana, itu Captain Fantasticnya?” tanyaku selagi si tertua membersihkan wajah, khawatir ini film suku-suku terpencil Amerika. “Iya.” kata Yana meyakinkan. “Ini film tentang apa yan?” aku semakin penasaran. “Lu mah maunya dispoilerin. Ini tentang keluarga yang tinggal di hutan, nyari makan dari alam, belajar bertahan hidup,” gerutunya. “Mereka ke kota gak? Bajunya bikin apa beli apa gimana?” cecarku. “Engga. Bajunya bikin sendiri kali. Eh gak tau, gak dijelasin. Udah nonton aja deh.” tetap berusaha menjelaskan. “Oke.” kataku mencoba menikmati film.

 Dari film ini, aku memaknai beberapa hal:

Continue reading “Understood, Capt!”

Cockroach Theory

Kesimpulannya adalah segala ketidaknyamanan yang kita rasakan, yang membuat kita beraksi ‘berlebihan’, semata-mata karena ketidakmampuan kita dalam menangani gangguan dari pihak eksternal. Maka daripada bereaksi, kita lebih harus merespon. Karena reaksi bersifat naluri, sementara respon bersifat sesuatu yang telah dipikirkan dengan baik. The only thing that you can blame is yourself.

Quote ini bisa menjawab kegelisahanku minggu lalu:

“A person is happy not because everything is right in his life. He is happy because his attitude towards everything in his life is right.”

Kodaline – Moving On

I can accept we’re growing older but I guess that’s just the way it has to be
I wondered how you still remembered me

Sometime in the future maybe we can get together, maybe share a drink and talk awhile
And reminisce about the days when we were still together
Maybe someday further down the line
And I will meet you there
Sometime in the future we can share our stories
When we won’t care about all of our mistakes, our failures, and our glories
But until that day comes along I’ll keep on moving on. I’ll keep on moving on

Impulsif Sedunia – Butfirst Coffee Dharmawangsa

Sebulan sudah aku tidak pulang. Pulang kali ini didedikasikan untuk ‘persiapan’ sebelum resmi menjadi mahasiswa semester 5, membeli perlengkapan dasar yang entah kenapa hanya bisa dengan mudah ditemukan di toko langganan, dan yang utama adalah untuk menghadiri event tahunan yang sudah ditungg-tunggu.

Cafe & Brasserie Expo, yang telah dikepoin sejak bulan-bulan lalu, sangat disayangkan harus terlewat. Alasan kecil yang sangat fatal, karena tidak mendaftar. Awalnya, aku dan Alica kira ini seperti pameran JCC biasa yang dapat dikunjungi dengan bebas dan gratis. Namun, saat aku lihat kembali websitenya untuk melihat letak venue, ketentuan harus mendaftar beserta tarif yang dikenakan baru disadari. Aku coba untuk daftar namun tidak bisa. Aku mau nekat datang langsung, tapi tidak siap jika harus kecewa. Aku patah hati, pada diriku yang kurang teliti ini. Kesedihanku entah kenapa aku bagi ke Echa lewat chat. Tiba-tiba sebuah idepun tercetus, “Ca, jalan yuk. Deket-deket aja tapi biar bisa naik motor. Kemang ya.”

Continue reading “Impulsif Sedunia – Butfirst Coffee Dharmawangsa”

Yellow Truck Jatinangor

Ngopi: momen terbaik untuk lebih mengenal diri sendiri, atau orang lain.

Untuk sebagian orang, ngopi menjadi kebutuhan harian yang gak bisa terpisahkan. Untuk gue, kopi merupakan cinta yang sederhana, tidak banyak menuntut, dan tidak memaksa. Gue suka harum yang menguar dari roasted beans, yang memberikan wangi khas pada coffee shop. Gue suka rasanya robusta, gak terlalu asam. Gue suka americano, caffè latte, cappuccino, piccolo kalau lagi kenyang tapi mau, mocha latte kalau lagi butuh ekstra, tubruk kalau bikin sendiri, kadang hazelnut latte, sesekali flat white, masih kurang suka sama manual brew karena emang belum biasa. Simpel kan? Gue minum kopi hanya pada saat-saat tertentu, gak teratur. Gue minum kopi untuk kenikmatan, bukan sebagai daily intake.

Semalam setelah foto instruktur Fasilitator 2016 (11 orang PK 2015), Continue reading “Yellow Truck Jatinangor”

00:20 – McD Late Night Order

Sleepover atau biasa yang disebut dengan istilah nginep, udah jadi hal biasa dalam pertemanan. Apalagi lingkungan mahasiswa yang didominasi oleh anak kosan. Kegiatan nginep tentu dilakukan dengan berbagai tujuan. Biasanya karena ada temen yang gak ngekos tapi pulangnya kemaleman karena ada acara di kampus, ngerjain tugas kelompok yang ribet sampai malam, ngomongin curhatan siang yang belum selesai, hingga ngungsi dari kosan sendiri karena bosen sama kamarnya. Nginep bukan berarti cuma numpang tidur. Bisa jadi ada pertukaran informasi tentang si A yang lagi deket sama cowok, tentang  si B yang berprestasi dan ganteng tapi belum punya pacar, hingga perguruan si C yang suka ngasih advice bagi teman-temannya yang jomblo akut. Continue reading “00:20 – McD Late Night Order”