Observasi Minggu Pertama

Mulai Selasa, saya akan bolak-balik rumah dan WTC setiap hari kerja selama 8 jam + 1 jam istirahat. Status yang bukan karyawan tetap memberi efek upah yang tidak seberapa. Istilahnya, hanya cukup ongkos dalam sehari. Untuk tetap bisa berhemat mengikuti arus para eksekutif yang berkarier di ibu kota, saya coba berbagai hal untuk menemukan cara paling murah selama tiga bulan ke depan.

Selasa, 2 Oktober 2018 = Gojek

Berangkat sampai stasiun dianter Idun sekalian pemantapan di sekolah, yang mana ia harus sampai pukul 06:00. Pukul berapa kita keluar rumah? Pukul 05:45. Saya melakukan ini itu, menunggu, berangkat dari Stasiun Pondok Cina pukul 06:45. Cukup ganas, saya akui. Mungkin para pekerja mengejar masuk kantor pukul 08:00. Sampai di stasiun, saya leha-leha lalu naik Gojek Rp9.000,- sampai pukul 07:55, padahal diminta datang pukul 09:00 hehe. Emang suka gitu karena terlalu semangat. Biar gak bosen jadi keliling, alesannya mau ke Family Mart lewat pos di tengah. Scanning hari pertama oke, ada bakery, Auntie Ann’s, Family Mart, Chatime, Starbucks, Guardian, dan lainnya. Continue reading “Observasi Minggu Pertama”

Advertisements

Diam

Aku berusaha, kau tahu? Berusaha mempercepat prosesnya agar tidak terlalu lama tenggelam dalam rasa sesak, dengan mencoba sangat-sangat biasa di depanmu.

Melihat siluetmu yang baru datang dari balik kaca buram, dengan perpaduan warna merah dan putih, memberiku tekad, “Aku bisa, lihat ya.”

Nyatanya, teko leher angsa yang airnya mengaduk-aduk bubuk kopi di atas coffee filter jadi agak bergetar setelah aku berhasil menyapamu seperti aku menyapa yang lain. Jemariku langsung dingin. Sial, hardikku dalam hati. Untungnya, getaran teko leher angsa itu tidak terlalu kentara untuk disadari seisi ruang. Jangan lihat, jangan lihat, aku mengingatkan mata untuk tetap fokus pada bubuk kopi yang blooming di depan mata. Kopi sudah jadi, aroma menguar, aku keluar, bergabung di meja dengan yang lain. Aku memfokuskan diri pada fakta bahwa teman-temanku belum mengabari untuk selebrasi sidang hari itu. Lihat grup, jangan lihat ke samping. Nikmati kopimu, rasakan aftertaste banana dan caramel-nya. Fokus, jangan lihat ke samping. Kataku dalam hati, di pojok ruangan, di meja untuk berdua, di samping tas-tas, sejajar horizontal denganmu. Sial, hardikku lagi setelah diberi kabar bahwa selebrasi sedang dilangsungkan. Aku harus pergi sekarang. Maka aku pamit, dengan tidak melihatmu. Menghindari kontak mata atau hal-hal personal lainnya. Menjaga nada suara untuk tetap biasa, menyembunyikan rasa yang sejak tadi berusaha menarik ujung-ujung bibir untuk tersungging.

Ini, aku lampirkan lagu yang ingin aku kirimkan sebagai pesan untukmu. Baca ya liriknya. Aku tahu kamu tahu, kan aku tahu lagu ini juga dari kamu.

Payung Teduh – Diam

Tebaran merah dilemparkan matahari
Dia bercengkrama diujung langit
Bayangan terpaku di tanah
Jiwaku tenggelam di dasar rumput
Aku ingin melihatmu dalam gelap
Yang mulai datang
Aku ingin menyelamimu
Dalam risau yang sering datang Aku ingin diam bersamamu
Dalam rangkulan malam

The Royal Tenenbaums dan Arti dari Kenyataan

Beberapa minggu terakhir ini saya mengurung diri di gua. Gua yang dimaksud adalah ruang pribadi di mana saya dapat sendiri dan fokus untuk mengerjakan yang harus dikerjakan. Pernah saya coba ikut teman untuk menatap laptop dan membiarkan jari menari di atas tuts-tuts penuh angka dan huruf, di salah satu toko donat 24 jam. Nyatanya, tidak bisa. Terlalu banyak distraksi seperti suara pintu geser, orang datang dari arah belakang, orang datang dari arah depan, ingin menoleh ke seberang jalan untuk sekedar melihat siluet dan bertanya-tanya manakah siluetnya.

Saya membatasi pertemuan, di mana hanya mereka yang saya yakin tidak akan menyebabkan gejolak dada dan perut, dosen, pihak yang berkepentingan, dan mereka yang meminta untuk bertemu. Saya membatasi kegiatan, informasi, juga topik-topik yang dapat memicu excitement saya. Pembatasan ini dilakukan karena saya sadar bahwa saya mudah terdistraksi dan mudah berubah mood. Lalu, pengetahuan baru akan diri sendiri muncul: semakin saya berusaha fokus, otak saya semakin ramai dengan fantasi yang masuk akal maupun yang tidak, dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya tidak mampu jawab sendiri, serta kemungkinan yang dapat terjadi dari nilai 0,5-100. Bila tidak dikeluarkan, rasanya akan sangat tidak nyaman. Maka terkadang saya limpahkan ke twitter, lalu nanti dihapus.

Jadi jika saya ramai di timeline dengan fantasi, bukan berarti tidak ada kerjaan. Saya menenangkan otak saya agar tidak meledak jadi partikel warna-warni berkilauan, agar tidak kepenuhan hingga membuat sesak atau tenggelam di dalamnya. Mudah membuat saya tidak sesak dengan mengalihkan fokus ke hal lain, tapi saya sedang tidak bisa tenggelam.

Berlebihan? Tentu, saya juga sadar. Ini baru bagi saya. Saya pernah berusaha sesantai biasanya, sesantai waktu itu, namun tidak mempan. Setelah ditelaah, memang ritme hidup saya sudah berubah dibanding masa SMA. Maka, perlakuan pada diri sendiri juga ikut berubah.

Wall of thoughts, will be more than this i guess

Setelah merasa lelah bila harus menghapus-hapus tweet, saya belajar untuk membuat catatan-catatan agar selanjutnya saat berkesempatan, dapat diakses kembali untuk dicari jawabannya. Agar tidak tercecer, catatan-catatan tersebut saya tempel di tembok. Namun, dua minggu terakhir ini agak berbeda. Setiap kembali dari kampus, saya selalu menyempatkan diri untuk menonton satu atau dua film dan mulai menyentuh novel.

Salah satu pertanyaan yang menggantung, yang tiba-tiba muncul kembali setelah nonton The Royal Tenenbaums:

Mengapa saat seseorang mengalami kesulitan suka ditanggapi
dengan "Welcome to the real world!" 
seakan realitas atau kenyataan berisi hal-hal 
tidak menyenangkan, menyedihkan, menyulitkan.

Jadi, apakah harus mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan untuk masuk atau berada dalam sesuatu yang dianggap nyata?

Setelah nonton film besutan Wes Anderson tersebut, saya agak sedikit lega. Diceritakan bahwa Chas, Margot, dan Eli punya masalahnya masing-masing. Sampai Margot yang menyimpan banyak rahasia, akhirnya terbongkar juga.

Ethelene: but I think he's been very depressed.
Margot  : so am I.

Saya agak lega bahwa film ini dapat menggambarkan bahwa semua orang punya masalah, ceritanya mengalir tentang hidup yang tidak melulu baik. Film ini menceritakan tentang ‘kegelapan’.

Begini: kalau selama ini kemalangan dianggap sebagai kenyataan dan kebahagiaan merupakan hal yang fiktif, film ini fiktif dan menceritakan tentang kemalangan. Jadi, kebahagiaan (seharusnya) dapat pula dianggap sebagai suatu kenyataan.

Hal ini berhubungan dengan pertanyaanku ke Syifa, seorang sarjana psikologi yang sedang berusaha mewujudkan mimpi untuk meneruskan kuliah di luar negeri (IYA KAMU BISA AKU YAKIN, SEMANGAT YA!), pada Mnggu pagi kemarin:

“aku kan mudah seneng. kemarin baru sadar ternyata kesenanganku bisa tumbuh dari memori dan imajinasi. memori dan imajinasi itu kan gak nyata, tapi efek yang ditimbulkannya nyata. tau nyatanya karena bikin aku semangat, berenergi, jadi mau aktif dll. tapi sempet mikir juga apa jangan-jangan rasa seneng yg dirasain itu gak nyata. selama kamu kuliah, pernah ada penjelasannya ga tentang itu? aku mau nyari di Google juga bingung keywordnya apa.”

Kesadaran ini cukup mengganggu, karena akhir-akhir ini saya sangat kesal jika disikapi dengan tidak serius. Maksudnya, saya sampai merasa bahwa saya sedang butuh kejujuran dan ketulusan dari orang-orang karena tidak punya kekuatan untuk menghadapi yang palsu-palsu. Karena pikiran ini, saya takut bahwa selama ini saya memalsukan rasa bahagia yang dirasakan. Tapi apa bisa memalsukan rasa? Perkara rasa yang waktu itu saja belum dapat jawaban, muncul lagi perpanjangan tangannya.

Setelah menonton, saya baca deskripsi The Royal Tenenbaums memang mengandung apa yang disebut dengan “dark comedy”. Bahwa fiksi ini menceritakan tentang ironi, maka yang nyata dapat berupa kepositifan. Masih ada harapan untuk menjadikan dunia, khususnya dunia sendiri, menjadi lebih cerah dan lebih bermakna.

Di Altar

Sebuah iseng berdiri di atas sofa, di bawah lampu sorot ala ala, dengan penekanan suka-suka, berbuah rekaman suara.

Salam,

tiga pagi.

May Day

Pernah liat dokumentasi kegiatan di @POST_santa tentang menulis suka-suka berupa puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang merupakan interpretasi dari photobook berjudul InTransit:23 karya Fransisca Angela. Ketertarikan itu aku bagi di twitter dan coba minta dikabari kalo ada yang punya photobook untuk dipinjam. Karena gak ada yang bilang-bilang, akhirnya terlupa. Kemarin (30/4) liat ada photobook Diana F+ More True Tales & Short Stories di KUNST House. Setelah izin sama Galih (sebagai empunya) untuk dibawa balik ke kosan, aku berencana merayakan Hari Buruh ini dengan bikin puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang terinspirasi dari photobook. Ini bukunya:

2018-05-02 07.04.48 1.jpg
Society of Lomographers. Diana F+ : More True Tales & Short Stories. 2007. Vienna: Lomographic Society International.

Gak semua foto dikembangkan, hanya beberapa yang menurutku menarik:

Continue reading “May Day”

Kecenderungan yang Kurang Tepat, Tergantung pada Perspektif

Beberapa hari lalu setelah berkontemplasi dari hasil mempelajari agar lebih mengerti seseorang, sebut saja si A, tercetus sebuah kalimat yang dapat diaplikasikan ke berbagai pihak dan dalam situasi yang beragam: “kita cenderung memperlakukan orang lain dengan cara bagaimana kita ingin diperlakukan dan/atau cara yang kita ketahui, bukan memperlakukan orang lain dengan bagaimana mereka ingin diperlakukan dan/atau cara yang mereka ketahui.” Kalimat ini muncul setelah adanya penjelasan singkat hasil ngobrol-ngobrol tentang kerjaan. Lalu obrolan meluncur ke berbagai individu yang terlibat dalam kerjaan tersebut, lalu pemimpin diskusi mendeskripsikan cara memperlakukan si A saat ia sedang tidak dalam mood yang bagus. Kurang lebih kalimatnya seperti ini,

“Kalau lihat teman saya yang itu diam saja dengan muka ditekuk, gak usah digubris ya. Ngomong seperlunya aja, diemin aja, nanti malah kamu yang kena semprot. Dia emang begitu, bukan kamu yang salah kok, jangan diambil hati ya. Nanti juga baik sendiri.”

Continue reading “Kecenderungan yang Kurang Tepat, Tergantung pada Perspektif”

A Poem

To celebrate the World Poetry Day on March 21st, my best-not-so-like-to-celebrate-anything-friend offered to make me a poem. She asked the theme, then I gave her some words to use to make her less complicated in making the poem. One day later, she gave me the link to her poem. So, here it is

Tikam Menikam

Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo

Siapa yang gak tau lagunya iklan Teh Sariwangi yang pakai osmofilter? Well, ada sih. Tapi rata-rata pasti pernah liat di TV atau YouTube. Jingle yg dinyanyiin Inneke Koesherawati itu sangat ikonik, sederhana, tapi bisa mendeskripsikan produk dengan begitu singkat dan padat. Meskipun udah lama, sayangnya gue baru sadar beberapa hari lalu. Haha, telat banget sih. Tapi ya gapapa daripada gak sadar sama sekali.

Coba kita nyanyiin:
Continue reading “Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo”

Rangga, Bandara Kepastian

Dari jendela
kau melihat bintang-bintang tanggal
satu demi satu
berulang mengucapkan
selamat tinggal

kadang ku pikir
lebih mudah mencintai semua orang
dari melupakan satu orang

jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantung
mereka yang datang kemudian
hanya menyentuh kemungkinan

–AADC 2

Ditampar Video: Web Series SORE dan Interview Sociolla

Setelah kemarin aku dibuat terkesima serta baper mampus oleh web series dari Tropicana Slim yang baru, SORE, aku jadi teringat web series keluaran Axe edisi Keenan Pearce jaman kapan yang saking ngenanya, sampai aku tulis. Lagi asyik nonton ulang, ada video rekomendasi yang diupload Sociolla. Video itu berupa wawancara singkat Keenan Pearce dan Ananda Putra tentang kehidupan mereka. Sebenernya biasa sih, tapi ada satu hal yang membuatku tercengang karena ‘menendang’ kegundahan akhir-akhir ini. Kata Keenan,

Continue reading “Ditampar Video: Web Series SORE dan Interview Sociolla”