Thank You for Existing

Seorang teman mengajak bertemu. Well, seorang teman itu siapa lagi kalo bukan Nabilla Reysa Utami a.k.a Echa a.k.a juragan kale chips. Diawali dari “Cha, gue butuh temen buat dengerin nangis. Prefer ketemu sih.” “Oke, Cipete gimana?”

Pergilah kami ke Teh Tarik Aceh dengan pertimbangan aku lapar, ia sedang sedih jadi akan sangat baik jika kami makan comfort food, di sana ada Recharge karena charger ketinggalan di kantor HAHA, di sana ada wifi untuk ngelanjutin mock-up web dengan wix yang berat itu, dan harga di menunya terjangkau.

Setelah berbincang cukup panjang tentang questions, quarter-life crisis, peran kami untuk diri sendiri dan di lingkungan, justifikasi terhadap apapun yang dihadapi, bagaimana kami belum punya apa-apa hingga waktulah yang dapat kami beri, tentang transaksionalnya hubungan manusia, sampailah ia pada kata-kata:
“Gue mau berterima kasih sih ke nyokap lo, because of her, you exist. Karena beliau udah ngedidik anaknya jadi kayak gini.”

Continue reading “Thank You for Existing”
Advertisements

Protected: Fair and Unfair

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Refleksi tentang Trust Issue

Trust issue menjadi masalah yang tidak terlihat namun benar adanya. Mengapa demikian? Karena saya lihat sendiri bagaimana mereka yang memiliki masalah tersebut berhati-hati memberikan kepercayaannya. Di lain sisi, saya juga melihat bagaimana orang kebanyakan (yang saya lihat di media sosial, di film, lagu) bahkan di sekitar saya menyepelekan amanah yang diberikan seseorang kepadanya berupa rasa percaya. Saya terlalu banyak melihat? Ya, karena saya akui bahwa itu salah satu keahlian saya. Saat beberapa diam untuk mengosongkan pikiran, berkhayal, atau untuk berpikir, diam saya lebih banyak untuk mengamati (berkhayal urutan kedua).

Minggu ini saya bertemu beberapa teman dekat yang menyadarkan beberapa hal terkait trust issue. Dari mereka saya mulai menghubungkan titik-titik untuk menemukan tujuan keberadaan saya di dunia ini, mengapa saya begini dan bagaimana saya dapat menyikapi banyak hal.

Continue reading “Refleksi tentang Trust Issue”

Sore yang Cantik

“Mengapa Sore selalu cantik?”

IMG_20181228_173704_672

Cantik itu subjektif. Tidak semua suka sore, waktu tanggung antara Siang dan Malam. Kadang, orang lebih suka Siang yang terang benderang, lainnya memilih malam yang gelap gulita dengan alasan beragam.

Bahkan Sore yang kamu anggap cantik dengan kemilau sinar oranye, pada waktu tertentu terlihat kelabu. Pernah suatu waktu ia terlihat gelap dan sedikit basah. Pada bulan tertentu, tidak tanggung-tanggung banjir terjadi akibat hujan besar di sore hari.

Sore tidak selalu cantik, tapi kamu yang membuatnya menarik. Lewat cerita, harap, kenangan yang disusun melalui perspektifmu. Segala sesuatu hidup dalam perspektif orang lain dan kamu hanya bisa menunjukkan ingin seperti apa dilihat, bukan mengatur bagaimana orang melihat.

Seseorang Sepertiku

 – Zhafir & Ivanasha

Seseorang berkata ingin menemukan dirinya versi yang lain, mungkin agar lebih mudah dimengerti dan memahami. Menurutku kalau ingin berhasil, kalau sifat dan kecenderungannya sama, minimal sikapnya beda. Kalau sama semua malah tumpang tindih. Maka banyak pula mereka yang memiliki sifat 180° namun tetap bersama.

Hal fundamental seperti prinsip, visi, dan misi butuh untuk sama agar tercipta titik temu. Keberadaan perbedaan itu mutlak, agar dapat saling mengisi bagian yang kosong, menjadikannya lengkap. Itulah yang menjadikannya indah, sebuah seni menemukan yang tak pernah terpikirkan.

Lemari

Lemarimu penuh dan aku gak suka berjejal dalam ruangan sempit. Rapikan, buang yang gak lagi perlu. Kalau memang gak mau usaha beres-beres, jangan beli isi baru. Makanya cari kualitas dan sesuai dengan yang kamu suka, agar awet. Lemari tambahan bukan solusi, malah bikin mubazir dan mempersempit rumah. Lagian, emang kamu bisa bayarnya? Itu kan gak ternilai.

Bukan karena lemah, tapi hanya lelah selalu mengalah yang berujung pergi dan menyendiri. Dalihnya untuk menjaga diri. Sejengkal dua jengkal benar, sisanya masih misteri.

P.s. Lemariku sudah rapih

Titik

Explaining is tiring, hope it’s worth it.

Siapa sangka hari ini jadi Hari Menjelaskan Sedunia. Setelah semua ditekan karena anggapan bahwa aku terlalu transparan hingga tidak lagi punya sisi misterius yang menggelitik rasa penasaran, membiarkan isu jadi tebak-tebakan, yang ada tebakannya banyak keliru. Kan gatal ingin meluruskan. Continue reading “Titik”

You only come when you need me

Someone asked, “why do you come to me only when you’re in needs?”

Mostly, I go somewhere and do something alone to experience things. Time and experience are precious for me, so I’ve got to spend it wisely. I rarely ask someone to join me, unless I want to share the moment with him/her. I love to share, especially with the closest. I don’t need anyone to entertain me, I need him/her as a person to share with, to know what I love doing. I let them come into my life to understand who I am. So if I ever ask, it means that I really want to spend my time with him/her. If anyone seems bothered with my needs, feel free to tell, then I’ll do as I’m told.

T’s Ideal Sunday

I imagined that this weekend would be used to sleep all day, as I ruined my sleep schedule in past two weeks. But as Mas Reno said “You won’t have a good night’s sleep after graduating, Cha. You gotta work your ass off till you’ve reached your limit and be satisfied with the result.”

Here I am at 5:30 a.m., on my way to Studio 5 at Antasari Street. I’ll do a commercial product photo shoot as a Brand Manager’s assistant. Set the needed properties, associated to build style’s mood, timekeeper, and make sure every detail are checked.

So instead of having pity on myself, I’d like to create a list about how the perfect Tasha’s weekend probably going.

– Cool weather/breezy day.
Yea if one asks me which one would I choose between a sunny or rainy season, I’d answer rainy, but to be honest: I can’t choose. Sunny season creates joy, grows numerous colorful flowers, especially sunflowers, and no wet streets anywhere, but sometimes it’s too hot to be outside. While the rainy season creates contentment, the perfect reason to stay at home.
– Someone to talk to.
Yup, about everything he/she knows, their interest, to find another perspective, exchange values, get inspiration, their struggle to learn from, understand one’s thought through conversation, to define the undefined, opening the closed door.
– Movie marathon. It’d be great to do with the closest.
– Slices of apple, pressed orange, mashed banana.
– Discover new things, meet new people.
– Going on an adventure.
– Strolling in city park.
– Sipping coffee or tea, enjoying its relaxing smell.
Thank god my new Earl Grey Tea, with the combination of black tea, lime, and bergamot smells so damn good. Still looking for a favorite perfume to use, leaving a trace of my smell in every place I walk on, creating memories to people I talk with, reinforcing my identity among people around.