One Afternoon You Talked About Your Flaws, I Sat Down

IMG_20170724_224316_773

There this girl, one of my best friend. She needed an afternoon talk to express her grief towards life. Especially about one thing she can’t handle herself. One night she asked my agreement about how good she is at keeping things nicely. To let other people think that she is smart, she is strong, she doesn’t have any problems, she is happy, she ambitious, she is something, she manipulates things like others do. She creates her own image like everyone does. And I said, “Yes, you are great at it. Even sometimes you are to me, like you have no flaws.” But everyone sure has their own kryptonite, so does her. It’s about love.

She has no idea how to handle love thingy, so that’s her part which she could be literally honest besides keeping her boyfriend’s secret. Other than that, she barely has no clue on what to think or feel or act. She experienced a black-blank-world after her first break up. At that time, I thought she could handle it. But she couldn’t. So I manage myself to be there every time she needs me. The fact that depression issue is spreading all over the world could lead to an unwanted accident, I’m trying to be there for everyone.

IMG_20170724_212111_160

So I decided to bring her to the hidden gem near our house (that I just found out in the morning). To assure her that it is okay to bring out her feelings, I let her sit on a yellow-nice-comfort sofa and act like she was my guest at an Afternoon Show. Gladly, the sky turned dark as one two raindrops fell. We were cheering when we heard the thunder and the raindrops hit the ground, the ceramic, the roof, everything. The wind blew some dead leaves on the street, caressing our cheeks as we got out of the door. We got inside again and the story goes on. It’s me, heard her story, laughed sometimes, interrupted her to deliver my thought, then all is good now.

The photos were taken before the rain. More photos on my Instagram. To find the hidden gem, you better ask me or find it yourself.

Advertisements

Hujan Malam Itu

Suara rintik berpadu dengan melodi dalam ruang
Menemani wajah-wajah lelah yang sedang menuju pulang
Merambat indah diantara kaca yang bergetar
Bertemu, bersatu padu di bawah cahaya lampu jalan yang berpendar

Keabsenan cengkerama antara kami berlanjut
Sampai ia yang memecah dengan pertanyaan sederhana
Saking sederhananya hingga membuatku terkejut
Bagaimana hal tersebut dapat terpikir olehnya

Beberapa kali aku memulai dan menimpali
Berusaha mengenal dan menggali
Sejauh apa kelupaannya mengenai hari-hari
Masa dimana kami setiap hari berkomunikasi

Seiring kilometer bertambah satu-satu
Suara cengkerama tidak lagi mengalir
Membiarkan pendengaran menikmati hujan malam itu
Hingga jalan berputar, rem diinjak, dan perjalanan berakhir

Inspired by: that rainy night and the beautiful couple sat behind us

_____

Tebet, Jakarta, Juli 2017

Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo

Siapa yang gak tau lagunya iklan Teh Sariwangi yang pakai osmofilter? Well, ada sih. Tapi rata-rata pasti pernah liat di TV atau YouTube. Jingle yg dinyanyiin Inneke Koesherawati itu sangat ikonik, sederhana, tapi bisa mendeskripsikan produk dengan begitu singkat dan padat. Meskipun udah lama, sayangnya gue baru sadar beberapa hari lalu. Haha, telat banget sih. Tapi ya gapapa daripada gak sadar sama sekali.

Coba kita nyanyiin:
Continue reading “Kekaguman Malam: Sariwangi & Oreo”

Semata

Beautiful writing to illustrate the awkwardness between he & she. Say no more, it breaks me.

pic source

LINIMASA

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret…

View original post 530 more words

Suaramu Lewat Telepon

Suara itu berubah seiring waktu,

semakin berat dari terakhir kali suara kita bertemu,

yang dirasa memang tidak sekuat dulu,

namun masih terjaga dari masa lalu.

__________

Inspired by: percakapan singkat tentang kerjaan, bukan perasaan, lewat telepon (yang sekarang banyak gratisnya, gak lagi harus bayar sembilan ratus ribu rupiah per bulan).

Persuaan Para Nenek

Menemani ninik bertemu teman mainnya masa muda,

untuk menertawai dan mensyukuri masa tua,

walau setahun belum tentu satu kali,

paling tidak masih saling memiliki.

__________

Inspired by: silaturahim Idul Fitri (spesial hari pertama) terakhir di rumah Sentiong sebelum dipugar dan dibangun kembali sebagai kos-kosan, oleh pemilik barunya. Setelah hampir lima puluh tahun dimiliki, akhirnya harus dilepas untuk yang lain. 

Lol, it was funny how we tried to quip covertly on each other but stay cool afterward.

– Between a super delicious-giant-portion dinner, etc.

Butuh Kreatifitas Agar Pertemuan Terjadi

Seorang teman bilang kalau itu hanya bisa-bisaan pribadi saja. Memang benar.

Aku lihat keadaanmu, aku analisis sisiku dalam kegiatanmu. Lalu aku jadikan kamu sebagai bagian dari kegiatanku, sebagai alasan agar pertemuan terjadi, untuk memberimu tempat kecil dalam kehidupanku, agar komunikasi terasa hidup. Untuk itu, aku harus memutar otak, menjadi kreatif, menciptakan simbiosis mutualisme, meskipun sebenarnya lebih cocok disebut simbiosis komensalisme. Karena (sepertinya) hanya aku yang merasa. Orang sepertimu hanya terlalu baik, itu saja.

Lihat? Bahkan aku tidak lagi ada keberanian untuk berharap,

seperti yang lalu-lalu.

Pengalaman mengajariku banyak hal,
membuatku berhati-hati dalam bersikap,
terlebih urusan hati.
Apalagi padamu.
Hah.

Semua hanya…

Untuk membuatmu tetap ingat padaku,
walau hanya satu hari dalam satu tahun.
Karena aku bukan apa-apa,
bukan siapa-siapa.
Hanya seseorang yang masih mengingat,
masih menjaga,
masih bercerita,
tentang kebodohan(ku) dan
harapan(mu) yang pernah ada.

Though you weren’t mine

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine,
You were my first love.

I wanted to go away with you,
And I will leave all my troubles here.
I wanted to run away with you,
And I will bring all my dreams and fears.

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine…
Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine

Though you weren’t mine,
You were my first love.
You were my first love.

I wanted to start again with you,
And I will leave all my worries here.
I wanted only you.
I know that I felt with you.

Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine…
Like lullabies you are,
Forever in my mind.
I see you in all,
The pieces in my life.
Though you weren’t mine,

Though you weren’t mine,
You were my first love.
You were my first love.
You were my first love.
You were my first love.

Janggal

suasana pukul setengah sepuluh pagi
hari ini
berbeda
sangat

bumi seperti disinari cahaya putih yang menyegarkan
menyapu kantuk dengan pesona langit
mempertahankan kesadaran untuk dapat lebih lama
melihat indahnya hari ini

sinar matahari siang tidak biasa
alih-alih menyengat
panasnya justru bersahabat
membungkus diri dengan kehangatan

mengusir dingin yang sedari malam bergumul
menyusuri kepala hingga kaki hingga kepala lagi
akibat kelakuanku
akibat tidak tidurku

siang aku paksakan untuk terpejam
demi mengisi ulang tenaga untuk perang
melawan sirkadian menjalani tugas
demi selesainya semua tugas

pukul tiga sore terlihat aneh
kehangatan siang berubah menjadi sengatan panas
mendekat saja aku tidak mampu
apalagi membayangkan berdiri di bawahnya

semoga sore lebih bersahabat
agar antara aku dan kamu lebih dekat
aku dan suasana
aku dan keramaian