Mari Bercerita

Kalau rindu harus apa?

Rindu saat kamu masih punya banyak waktu luang
Rindu saat aku belum dipusingkan dengan bab-bab yang harus diselesaikan
Rindu saat kamu duduk dengan tenang membaca buku
Rindu saat aku tiba-tiba bisa menemukanmu di kedai kuning atau cokelat
di meja dengan dua kursi atau di bar
Rindu saat kamu berbagi segala pengetahuan yang baru dipelajari
Rindu saat aku dengan semangat mengeluarkan pertanyaan dengan takjub
Rindu saat kamu menceritakan hal-hal terdalam
Rindu saat aku semakin menemukan persamaan antara kita
Rindu saat kamu ingin dimengerti
Rindu saat aku ingin didengarkan
Atau kebalikannya.

Jadi, kapan kita bisa melakukan itu semua lagi?
Katamu, harus sabar.
Katamu, tidak boleh berasumsi.
Kataku, things take time and we’re all will be okay.

Maybe, your “someday” is almost here.

 

Advertisements

Menangislah, tidak apa-apa

Malam minggu di Jalan Riau, seorang sahabat bertanya padaku tentang apa dirinya sebenarnya. Apakah ia titik, koma, sekumpulan paradoks, tanda tanya, atau apa. Aku bingung harus jawab apa. Bukan karena ia bukan siapa-siapa, tapi karena aku gak bisa menemukan kata yang cocok untuk konteks yang ia maksud. Jadi aku hanya menjawab, “Aku gak tau, yang aku tau adalah aku nyaman berteman denganmu. Berbagi cerita, menertawai dunia, dan lainnya.” Ternyata ia memikirkan hal tersebut, terutama pertanyaannya yang belum terjawab. Ia mengunggah fotonya yang diambil olehku, lalu menuliskan caption yang kurang lebih sama dengan pertanyaannya. Aku memberi komentar. Lalu ia menge-chat via LINE, “Ku menangis baca komen ig mu,” katanya.

Beberapa jam sebelumnya, Continue reading “Menangislah, tidak apa-apa”

Stubborn-Hearted: Miwa

Miwa, seorang teman dari zaman putih biru, yang supel, asik, rendah hati, selalu up-to-date, terlihat stunning dengan dunianya sendiri, karena ia berani berbeda. Masa bodoh orang mau bilang apa. Ia membuat, minta pendapat, mencoba lagi, belajar lebih, berhasil, berkembang. Dikenal sebagai anak foto dan anak baking, Miwa seperti top of mind dalam bidang tersebut di antara anak-anak sekolah.

Keputusannya mengambil STP Bandung mengagetkanku dan beberapa teman. Maksudku, pilihannya termasuk berani. Di saat orang-orang terobsesi masuk PTN, Miwa dengan yakin mengikuti kecintaannya pada pastry. Rasa cinta ini berawal dari kebiasaan melihat sang Mama membuat kue sejak ia kecil dan tayangan Ibu Sisca Soewitomo di televisi. She knows what she loves, then she do it wholeheatedly. “My ambition isn’t on what I will accomplish in pastry culinary, but what I can share to people through my pastries.” 

Untuk itu, ia mulai membuat kue dan dibagikan ke teman-teman saat SMP, khususnya yang ulang tahun sambil coba-coba berbagai resep. Saat SMA, selain bagi-bagi kue per slice ke berbagai kelas, Miwa juga mulai berjualan cupcakes bersama teman yang se-passion. Segala hal untuk mengembangkan keahlian ia lakukan. Dari tutorial di YouTube, buka buku-buku resep, lihat majalah, sampai menyiapkan diri untuk masuk STP Bandung yang tentu tidaklah mudah dan sederhana.

Tantangan sebenarnya ia temukan setelah lulus. Pinsip kuat dengan pernyataan “I can’t keep up with others’ standard because I have my own rules.” (dasar scorpio haha) ternyata melatihnya lebih keras. Kendala bahan dan alat yang serba mahal membuatnya memutar otak untuk bisa memenuhi itu semua. Belum lagi keinginan untuk belajar lebih yang butuh lebih banyak biaya, membuat Miwa harus pintar-pintar mengatur keuangan. Ditambah ego “Gue udah lulus, udah gak boleh ngerepotin orang tua,” juga melanda quarter life crisis-nya.

Namun ia percaya, ini semua adalah jalan untuk menjadi Miwa yang lebih besar lagi nantinya. Seorang Miwa yang punya cakeshop sendiri, dengan staff yang akan memproduksi resep-resep unik buatannya hingga cukup untuk banyak orang, resep yang akan membuat mereka bahagia dengan cerita yang dibawa dalam sebuah kue. Agar ia tetap dapat mengurus hal yang lebih penting dari semua pekerjaan di dunia; mengurus keluarga. Dengan motivasi dari sebuah hadist,

Allah berfirman:
“Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” [H.R. Turmudzi]

ia selalu percaya ada hikmah di balik setiap kegagalan, ada hikmah di balik segala kejadian, yang baik maupun yang kurang baik.

“Kerja keras. Kerja cerdas. Kerja Ikhlas,”-lah yang mendasari setiap keringat yang ia keluarkan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Terus berjuang, Amira Qisthina Arindra.

Self-Love

A good friend of mine, named Annisa Tiara, posted series of Instastories on her account about self-love. The positive topic to think about for today, makes me feel at ease. Though the points she talked about can be appended or tolerated based on each person’s condition, in general it’s inspiring and motivating.

Woke up at 06:30 from a deep sleep and delusive headache after diving in thoughts about abstract concept of life, time, affection, grieving, and the possibility of the future. The thoughts came like a storm after hearing a heartbreaking news about another good friend’s sudden heavy-loss. The thoughts got deeper after I saw her crying in my embrace, when my friends and I brought her bag and luggage.

So, these are some points from Nisa’s May 2nd Thought of The Day I scripted:

1. Because loving yourself is hard
We like getting compliments as a human being because it justifies ourselves, our existence. That makes us feel desirable, because we don’t love ourselves basically.

2. Because loving yourself is hard
Another reaction is when you say to other people that their compliment is bullshit is obviously the result of you not loving or appreciating yourself as much as other people.

3. Accepted by society
Then to any compliments, like other normal human beings, our reactions probably “Thank you” and just to stay humble because we want to be accepted as a normal people within our society.

4. Us vs society
Because “The feeling of acceptance is the basic need of human beings,” says Abraham Maslow. But then, it’s really funny or ironic that we let other people accept us but we don’t accept ourselves.

5. Lack of self-love
Therefore, it makes perfect sense why we tend to make other people our home. And when that person leave, we feel like shit. Because basically we lack of self-esteem and self-love.

6. The point
You have to be able to love yourself independently before you start loving other people, because you have to make a home for yourself.

All rights reserved, Annisa Tiara Yuherawan, 2018

Di Altar

Sebuah iseng berdiri di atas sofa, di bawah lampu sorot ala ala, dengan penekanan suka-suka, berbuah rekaman suara.

Salam,

tiga pagi.

May Day

Pernah liat dokumentasi kegiatan di @POST_santa tentang menulis suka-suka berupa puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang merupakan interpretasi dari photobook berjudul InTransit:23 karya Fransisca Angela. Ketertarikan itu aku bagi di twitter dan coba minta dikabari kalo ada yang punya photobook untuk dipinjam. Karena gak ada yang bilang-bilang, akhirnya terlupa. Kemarin (30/4) liat ada photobook Diana F+ More True Tales & Short Stories di KUNST House. Setelah izin sama Galih (sebagai empunya) untuk dibawa balik ke kosan, aku berencana merayakan Hari Buruh ini dengan bikin puisi, cerita pendek, dan lain-lain yang terinspirasi dari photobook. Ini bukunya:

2018-05-02 07.04.48 1.jpg
Society of Lomographers. Diana F+ : More True Tales & Short Stories. 2007. Vienna: Lomographic Society International.

Gak semua foto dikembangkan, hanya beberapa yang menurutku menarik:

Continue reading “May Day”

20-ish

a brief contemplation on a wooden chair in a small-yellowish-white coffee shop, waiting for my fish and chips to be served. written in warm summer mood. when it finally served:

2018-05-01 05.38.01 1.jpg
Fish and Friends, 30k, KUNST House Jatinangor

you’re an awful liar if this tasty look isn’t mouthwatering for you.

Continue reading “20-ish”

Minggu Pagi

000009
Though there is Sad in his (user)name, I wish for his heart to be happy.

Pertemuan gak sengaja di minggu pagi dua dua April waktu setempat.
Sempat terucap cerita tentang rollfilm yang udah lama mengendap dalam film chamber. Cerita lain tentang pertama kali mengeluarkan kamera tersebut dari lemari papa, tapi gak dilanjutkan. Saat itu 2013, orang-orang masih sibuk dengan kamera digital dan polaroid. Cuci scan waktu itu hanya satu di kotaku, tempat-tempat yang aku tahu dulu, udah gak lagi melayani hal semacam itu. Aku tertarik mengoperasikan kamera papa karena ingin menghidupkan ketidakberadaannya. Berbekal buku panduan pengguna dan informasi dari internet, aku memotret sesukaku.

000010

Lalu ia bertanya, “Kenapa berenti?” Setelah berpikir sebentar aku menjawab, “Kenapa ya, karena gak ada temen yang bisa sama-sama ngelakuinnya kayanya.” Waktu itu analog gak hype samsek, beda sama sekarang. Kayaknya cuma aku yang tertarik di sekitar, jadi aku takut sendiri.

000021

Ditarik sedikit ke belakang tentang gambar. Pernah aku cerita tentang alasan dulu mau punya kedai kopi. Karena suka vibe yang tercipta dari interior design-nya. Meskipun bervariasi, kedai kopi punya kecenderungan interior yang sama, menghasilkan vibe yang sama. Karena harum kopi yang menguar memenuhi ruang, entahlah. Dari situ pernah tertarik mau jadi interior designer. Pernah juga waktu kecil terpikir untuk jadi arsitek karena suka gambar-gambar bangunan. Tapi itu semua dipinggirkan karena satu hal: takut disuruh gambar. Aku cuma bisa gambar stickman.” kataku waktu dulu.

000025

Lalu ia bertanya, “Kenapa gak dilatih lagi?” Aku menjawab “Gapapa, ngerasa jelek aja.” Setelah itu ia menunjukkan dan membicarakan tweet Wahyu “Pinot” Ichwandardi yang juga pernah aku lihat di linimasa Twitter. Tweet tentang gak usah takut dibilang ABCD, gambar ya gambar aja. Kalau ngerasa jelek, latihan lagi sampai bagus.

000024

Obrolan tentang gambar itu muncul dari obrolan tentang peta imajiner, yang dibahas karena kami punya dunia ciptaan masing-masing. Aku dengan huruf-huruf United States of Acha yang sekarang berubah nama jadi Achalandia, per 3 Januari 2018. Ia dengan The Known World beserta segala huruf (yang masih coba aku pecahkan di waktu luang), sejarah, karakteristik masyarakat masing-masing negara, dan tempat-tempat pentingnya.

000014

Lalu aku bercerita sempat ingin buat kata-kata khusus, udah bikin kamus sendiri tapi kata yang terkumpul masih sedikit dan menyadari ‘kata-kata’ terlalu banyak, ingin bikin peta negara sendiri tapi Achalandia terlalu kecil dan gambarku terlalu jelek jadinya gak jadi. Takut gak bisa memuaskan khayalan sendiri. Lalu ia menunjukkan semuanya.

000013

Aku baru sadar, ia mengingatkanku pada hal-hal yang dulu aku suka, tapi terlalu takut untuk mengembangkannya karena ini dan itu. Mungkin aku terlalu mendengarkan apa kata orang lain. Mungkin aku terlalu terpaku pada pemenuhan harapan orang lain. Hingga secara sadar maupun gak sadar, menjadikan ketakutan sebagai alasan untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang aku sukai, yang ternyata ia lakukan dengan sangat baik.

000012

Permainan hidup yang dikendalikan ketakutan. Lalu mencari alternatif dengan bermain aman, mencari hal lain yang bisa dan menyenangkan untuk dilakukan hingga ketakutan dan hal-hal yang menempelinya terkubur menjadi kenangan.

000008

Lalu seseorang datang, membangkitkan kembali ketakutan yang terkubur dalam bentuk baru, sebuah harapan. Harapan akan kemampuan untuk melakukan apa yang selama ini takut dilakukan. Seseorang mengubah sebuah takut menjadi sebuah harap.

000007

*Minggu pagi ingin beli ikan cupang sekaligus ngabisin rollfilm karena kata seorang teman, “Mending filmnya diabisin dulu, baru lensanya kamu bawa ke tempat yang bisa bersihin jamurnya.”
**Ini rollfilm ketiga yang di-develop sejak 2013, hasil foto dengan lensa berjamur ngasih efek yang unik
***”Selama gak merugikan berbagai pihak, lakuin aja apa yang mau dilakuin. Tapi selalu berkembang biar yang dilakuin gak cuma sekedar. Minimal, bisa ngebanggain diri sendiri.” – Acha, 2018
****Itu rambut cepet panjangnya, pake sampo kuda apa gimana?
*****Jadi, akan ada kejutan apa lagi?

 

Simple-Minded

Seorang yang pernah menjadi Hampir, belakangan ini berkata tentang sifat saya yang simple-minded. Berawal dari komentarnya tentang tokoh film yang saya pasang sebagai foto profil, saya dan ia mencari kesamaan antara saya dengan tokoh itu. Lalu tercetuslah gagasan “Lo sama-sama simple-minded. Kayak seeing thing as it is gitu loh.” Saya kaget dinilai seperti itu. Kaget kagum dan kaget lega.

Kaget kagum, mungkin ini agak narsis tapi saya kagum pada diri sendiri. Bagaimana saya berhasil membuat diri ini terlihat simpel seperti yang selama ini saya usahakan, tanpa telihat berusaha, tanpa saya rencanakan dengan alam sadar, tanpa harus berpura-pura, tanpa harus membohongi diri sendiri. Saya sendiri gak tau gimana caranya, tapi yang jelas penilaiannya akan simple-minded ini membuktikan bahwa ia gak mengenal saya. Selama beberapa bulan yang ia tahu hanya permukaan saja, ia tidak mau repot menyelam.

Kaget lega, yang berhubungan dengan penjelasan di atas. Akhirnya karena kebingungan dari penilaian tersebut, saya bertanya pada sahabat yang telah mengenal saya dalam hitungan tahun. “Apa yang kamu pikirkan tentang aku yang dinilai sebagai orang yang simple-minded?” seperti biasa, jawabannya menunjukkan siapa ia di hidup saya. Seseorang yang mengenal dan mengerti. For me, you’re not a simple-minded, but you’re better than others in simplifying things.

Saya bukan bermaksud menilai simple-minded sebagai hal yang jelek, toh saya juga berusaha menyederhanakan kekompleksan yang bahkan terkadang suka impulsif, dalam pikiran saya. Saya hanya… Ya itu, bangga dan lega. Bangga pada diri sendiri, karena terlihat sebagai orang yang simpel dan lega karena ia yang tidak bisa memahami dan tidak berusaha untuk memahami, hanya menjadi Hampir.