Back to Healthy Eating Habit

Dua minggu yang penuh ‘Hmm…’ dengan nada kenikmatan tingkat tinggi membuat guepun sadar bahwa ini semua harus diakhiri. Karena guenya yang memang sangat sadar diri bagaimana kekenyangan, perut buncit, serta wujud yang terpantul di kaca membuat mood dan ‘rasa badan’ jadi gak enak, gue mulai kembali ke kebiasaan lama.

Pagi ini setelah memenuhi panggilan Continue reading “Back to Healthy Eating Habit”

Advertisements

Disemogakan

Jangan terlalu cepat membuat pernyataan, perasaan gak semudah itu dihilangkan. Jalani jalanmu tanpa paksaan, semoga yang selama ini didoakan dapat menyambut pelukan.

Breakfast is The Most Important Meal of The Day

Segelas kopi rebus ditambah satu sendok makan susu kental manis menjadi pilihan utamaku untuk sarapan. Setelah semalaman terjaga mengerjakan hal-hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan, kopi menjadi jalan keluar paling praktis, efektif, dan aman untuk ditempuh. Bagaimana tidak, efek ajaib dari kafein dapat membuat otakku terasa segar dan membuat badan terasa enteng walaupun berjam-jam tidak tidur. Tenang saja, aku jarang melakukan hal ini. Hanya kalau kepepet, itupun rasanya terpaksa. Hanya saja… sebulan belakangan ini hampir seminggu dua kali aku merasa kepepet.

Ku edarkan pandangan ke Continue reading “Breakfast is The Most Important Meal of The Day”

Friend Request Eleazar

Setelah Februari lalu Rupita memantapkan hati, ia hidup dengan bahagia. Lebih membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, tanpa menimbang rasa. Namun, hidup bukan hidup kalau tidak memiliki rencana rahasianya. Eleazar tiba-tiba memberi kabar duka atas perginya salah seorang yang mereka kenal. Tidak lama berselang, terdengar pula kabar yang lebih membuat Rupita pertama kalinya tidak mempercayai indera pendengarannya.
Beberapa jam setelah kabar dari Eleazar, ponsel Rupita berdering. Tidak mengenal nomor tersebut, ia mengangkat dengan terheran-heran.

“Halo?”
“Rupita, ini gue. Gue punya kabar buat lo. Tapi tolong, jangan kaget. Cukup gue aja yang kaget.”

Seorang sahabat mengajak untuk melayat bersama. Rupita ingin sekali, namun karena keadaannya sedang di luar kota, dengan berat hati ia tolak. Tidak hanya itu, sahabat tersebut sebenarnya ingin mengabarkan bahwa Eleazar sudah tidak berstatus. Kaget mendengar hal tersebut, Rupita meminta bukti.

Sebuah pengumuman implisit di muka publik ternyata telah dibuat. Ketidaktahuan Rupita disebabkan tidak terhubungnya media sosial Rupita dengan Eleazar. Memang, beberapa menit setelah Eleazar memberikan kabar, muncul notifikasi friend request di kedua medsos Rupita.

“Ahh besok aja deh di-accept-nya.” kata Rupita pada diri sendiri.

Sleep

Astronaut also needs to sleep. Captain T needs a deep long sleep. She’s the only one who will move this ship under a command. She needs to focus on everything she’ll  going through. So, let her sleep.







would you? 

Aku Kamu di Sore Hari yang Padat, Tanpa Fokus, Hanya Kebetulan

jangandiklik-keterlambatan
sumber: jangandiklik

Membacanya membuatku merasa seperti…

Aku dihunus dari belakang, hampir mencapai pusatku.
Namun berhenti mendadak sebelum hancur, saat menyadari peduli itu sudah tak ada lagi.
Menghilang bersama waktu yang pergi, serta keyakinan bahwa ia takkan kembali.
Kemarin biarlah kemarin, tak mampu diubah, hanya mampu didoakan.
Doa seribu doa, doa dari berbagai sudut pandang, doa untuk kebaikan hati ini tentunya.

Pablo Neruda: The Saddest Yet Beautiful

Ketidakhadiran dosen karena kondisi apapun selalu menciptakan campuran perasaan kecewa dan lega. Kecewa karena tidak ada penjelasan berapi-api tentang tulisan-tulisan dalam slide dan lega karena pasti tidak akan ada kuis hari itu. Pada kekecewaan siang ini, aku iseng mencari nama brand dari gelang ‘mahal tapi gitu doang’nya salah satu fashion blogger favorit.

Setelah buka website sana-sini, aku mengakhiri pencarian dengan membuka blog Evita Nuh dan menemukan tulisan tentang tempat kesukaan ketika bertemu dokter yang telah bertahun-tahun menjadi pendengar setianya. Pada suatu baris, Evita memenggal puisi dari seorang penyair bernama Neruda. Sebuah puisi sedih yang mampu mengetuk rasa penasaranku. Inilah versi lengkap dari penggalan puisi dalam salah satu post blognya yang diberi judul dengan quote Pablo Neruda “I love you as certain dark things are to be loved, in secret, between the shadow and the soul.

Tonight I can write the saddest lines.
 
Write, for example,’The night is shattered
and the blue stars shiver in the distance.’
 
The night wind revolves in the sky and sings.
 
Tonight I can write the saddest lines.
I loved her, and sometimes she loved me too.
 
Through nights like this one I held her in my arms
I kissed her again and again under the endless sky.
 
She loved me sometimes, and I loved her too.
How could one not have loved her great still eyes.
 
Tonight I can write the saddest lines.
To think that I do not have her. To feel that I have lost her.
 
To hear the immense night, still more immense without her.
And the verse falls to the soul like dew to the pasture.
 
What does it matter that my love could not keep her.
The night is shattered and she is not with me.
 
This is all. In the distance, someone is singing. In the distance.
My soul is not satisfied that it has lost her.
 
My sight searches for her as though to go to her.
My heart looks for her, and she is not with me.
 
The same night whitening the same trees.
We, of that time, are no longer the same.
 
I no longer love her, that’s certain, but how I loved her.
My voice tried to find the wind to touch her hearing.
 
Another’s. She will be another’s. Like my kisses before.
Her voice. Her bright body. Her infinite eyes.
 
I no longer love her, that’s certain, but maybe I love her.
Love is so short, forgetting is so long.
 
Because through nights like this one I held her in my arms
my soul is not satisfied that it has lost her.
 
Though this be the last pain that she makes me suffer
and these the last verses that I write for her.

Pablo Neruda

“Cha, kok judulnya yang Terindah?”

“Isi puisi ini menunjukkan kontradiksi perasaan antara tetap ingin merasakan hal yang sama namun mampu melepaskan yang telah pergi. Tidak memaksa, sederhana, dalam pengondisian diri dari sakit hati yang bertubi. Kompleksitas itu indah, jika kamu memahaminya.”

Kamu: Kenyataan yang Belum Terjadi

Akibat Nic & Mar episode dua, scene bianglala, aku jadi mau nulis sesuatu tentang Kamu. Kamu di sini bukanlah Kamu yang biasa aku tulis dalam beberapa tahun belakangan. Kamu yang ini berbeda. Kamu yang ini belum berwujud. Makanya, tulisan tentang Kamu kali ini diberi judul seperti di atas.

Kamu, berjalan di tengah rintikan hujan. Tidak peduli dingin atau basah, terus menerobos angin menuju kelas pertama Continue reading “Kamu: Kenyataan yang Belum Terjadi”